TARAKAN- Pemberlakukan sistem lockdown di Negeri Jiran juga berdampak terhadap perekonomian di Kaltara. Kaltara tidak dapat melakukan pengiriman barang ke Tawau seperti hasil perikanan dan kerajinan tangan lainnya untuk sementara waktu.
Kepada Radar Tarakan, salah satu masyarakat Tawau, Hamzah (36) mengatakan bahwa berdasarkan data yang dirinya peroleh pada 17 Maret 2020, tercatat penyebaran virus corona positif di Tawau mencapai angka 16 orang. Jumlah tersebut cukup mengkhawatirkan pemerintah Malaysia, hingga mengeluarkan berbagai kebijakan penanganan.
Berdasarkan Perutusan Khas YAB Perdana Menteri terkait Covid-19, Pemerintah Malaysia mengimbau kepada masyarakatnya agar tidak melakukan perkumpulan seperti pelaksanaan ritual keagamaan, sosial dan budaya. Sebab itu, dalam hal ini masyarakat Malaysia diwajibkan untuk melakukan kegiatan di rumah.
“Untuk memperkuat larangan ini, semua rumah ibadah dan premis perniagaan ditutup, kecuali pasar raya, pasar awam, kedai runcit dan serba aneka yang menjual barang keperluan harian,” ungkap Hamzah.
Pemerintah Malaysia juga mengeluarkan aturan tentang kewajiban bagi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan siap dikarantina selama 14 hari setelah berkunjung dari luar negeri. Pemerintah Malaysia juga memberi batasan terhadap pengunjung dari luar Malaysia.
Dalam hal pendidikan, pemerintah Malaysia juga melakukan penutupan terhadap seluruh sekolah seperti taman kanak-kanak, sekolah kerajaan dan swasta, termasuk sekolah harian, sekolah asrama penuh, sekolah antarbangsa, pusat tahfiz, dan institusi latihan kemahiran serta perguruan tinggi awam dan swasta.
“Kira-kira begitu aturannya. Alhasil semua rumah ibadah di sini ditutup. Disekat semua pelancong dari luar negara termasuk Indonesia. Semua acara dibatalkan. Pergerakan masyarakat pun dikawal,” katanya.
Sehari sebelum diberlakukannya sistem lockdown di Tawau, Hamzah mengatakan bahwa sejumlah supermarket yang menjual berbagai kebutuhan harian masyarakat mendadak dipenuhi pengunjung untuk memenuhi kebutuhan selama 14 hari di rumah.
"Hitungannya mulai 18 sampai 31 Maret 2020 ini,” jelasnya.
Hampir sama dengan keadaan Indonesia, masyarakat yang berada di Tawau pun saat ini tidak memiliki ketersediaan masker dan hand sanitizer. Sehingga hanya dapat berada di dalam rumah untuk mencegah penyebaran virus corona.
“Semua cuti (libur). Govermment (pemerintah) cuti, kecuali police (polisi), tentera (tentara) dan rumah sakit,” tuturnya. Beruntung, Tawau masih aman, sebab pihaknya masih mendapatkan sejumlah pangan seperti beras dan bahan pangan lainnya untuk dikonsumsi selama 14 hari ke depan. “Masih aman. Belum ada yang meninggal. Malaysia ini baru dua yang meninggal, di Johor dan Sarawak,” pungkasnya. (raw/rtr)
Editor : izak-Indra Zakaria