UNIVERSITAS Borneo Tarakan (UBT) akhirnya diperbolehkan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan menggelar ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) bagi calon mahasiswa perguruan tinggi negeri, di tengah pandemi.
Rektor UBT, Prof. Dr. Adri Patton menyampaikan bahwa rencananya tes akan dilaksanakan dua tahap, yaitu tahap pertama pada 5-14 Juli, sedangkan untuk tahap kedua akan dilakukan pada 20-29 Juli 2020. Selain itu, untuk jumlah pendaftar yang ada saat ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya mencapai 4 ribuan orang, tahun ini hanya tercatat di 2.058 orang.
Terkait dengan hal tersebut, persetujuan ini diperoleh pihak UBT setelah berkoordinasi dengan Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, selaku ketua Gugus Tugas Tim Percepatan Penanganan Covid-19. Perguruan tinggi yang ingin melaksanakan UTBK harus mendapatkan izin dari ketua Gugus Tugas.
“Alhamdulillah surat kami yang tertanggal 15 Juni 2020, dan surat pernyataan kami untuk melaksanakan pelaksanaan UTBK ini dengan memperhatikan protokol penanganan Covid-19 seperti yang sudah berkali-kali disampaikan Pak Wali bahwa kita menggunakan masker, cuci tangan, hand sanitizer, menjaga jarak, dan juga ada thermo gun untuk mengecek suhu tubuh. Alhamdulillah semua itu sudah siap,” jelasnya, kemarin (26/6).
Pelaksanaan UTBK pada hari pertama pada 5 Juli nanti akan dipantau langsung Wali Kota. Untuk peserta dari luar Kaltara, terdapat 43 orang yang akan mengikuti UTBK di UBT. Mereka wajib menunjukan hasil swab dengan indikator negatif.
“Tetapi bila tidak bisa datang ke Tarakan karena kesulitan transportasi atau terkendala swab yang mahal, mereka bisa ikut UTBK di daerah penyelenggara UTBK lainnya. Khusus di UBT, peserta dari luar Kaltara akan mengikuti tes pada tahap kedua. Jadi kami agak sedikit ketat dengan para peserta UTBK yang berasal dari luar Kaltara,” ungkapnya.
Adri Patton mengaku, bahwa saat ini sudah ada peserta dari luar Kaltara yang tiba di Tarakan. Informasi yang diperolehnya, dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sudah menyelesaikan masa karantina dan bisa berkumpul dengan keluarganya.
Adri Patton mengakui, beban yang diemban pihaknya cukup berat, Wali Kota pun selaku ketua Gugus Tugas juga memberikan izinnya sama-sama berat untuk melaksanakan UTBK. Pihaknya tidak ingin muncul klaster baru. Bahkan baru-baru kemarin untuk wilayah Tarakan ada penambahan sekitar 9 orang lagi, bahkan di beberapa kampus lain di luar Kalimantan seperti di Makassar sudah ada yang terpapar, dan sudah hampir banyak universitas yang saat ini sudah terpapar.
“Seluruh rektor tidak ingin akan terjadi klaster baru khususnya klaster UTBK, jangan sampai. Karena apa pun juga arahan yang disampaikan pak menteri sama dengan Pak Wali Kota, tetap keselamatan menjadi prioritas utama, makanya saya sampaiakan untuk UTBK ini sudah lama kami mengantongi izin. Tetapi kami takut nantinya UTBK dilaksanakan ternyata tidak, jadi ini yang yang berpangaruh terhadap arus masyuknya mahasiswa ke Tarakan,” tegasnya.
Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Tarakan, Khairul membenarkan telah memberi restu untuk penyelenggaraan UTBK. “Jadi rekomendasi ini sudah kami berikan. Mudah-mudahan bisa nanti persiapan-persiapan untuk UTBK ini sudah bisa berjalan,” terangnya, Kamis (25/6).
Ia juga mengakui mendapatkan telepon dari Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid yang menginformasikan ada 300 orang peserta dari Nunukan yang akan merapat ke Tarakan untuk mengikuti UTBK.
Menurut Khairul, sudah banyak anak-anak yang datang ke Tarakan. Seperti dari daerah Krayan. Namun mereka harus mengikuti protokol kesehatan bagi pelaku perjalanan. Yaitu dengan karantina melakukan karantina mandiri di rumah keluarga atau mes yang sudah disiapkan oleh daerah masing-masing. Bahkan Wali Kota juga sudah mengkomunikasikan dengan pihak KSOP agar izin berlayar bisa diberikan. (agg/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan