Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pembawa Baki Tahun 2018 hingga Warga Binaan

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 18 Agustus 2020 - 18:36 WIB
WARGA LAPAS: Warga binaan Lapas Kelas II-A Tarakan menjadi paskibra dalam HUT ke-75RI, kemarin (17/8)./ELIAZAR/RADAR TARAKAN
WARGA LAPAS: Warga binaan Lapas Kelas II-A Tarakan menjadi paskibra dalam HUT ke-75RI, kemarin (17/8)./ELIAZAR/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Ragam cerita di balik upacara HUT Ke-75 RI, kemarin (17/8). Dari pembawa baki tahun sebelumnya, hingga warga binaan yang didaulat mengerek bendera.

Misalnya, Nuriza Dwiyana, yang beruntung dapat menjadi pembawa baki untuk kedua kalinya, di tahun berbeda.

Upacara Hari Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia memang sangat berbeda dari upacara pada momen sebelumnya. Di tengah pandemi, upacara digelar sederhana, dan dengan tamu terbatas.

Pengibar tahun ini diambil dari pasukan tahun sebelumnya. Bahkan Nuriza, sang pembawa baki merupakan alumni Paskibra 2018.

Ia menjadi salah satu yang paling beruntung, dapat menjalankan tugas tersebut untuk kedua kalinya. Tahun 2018, Nuriza ditemani oleh banyak rekan pasukan yang dibagi-bagi ke dalam Tim 45 dan Tim 17, namun kali ini Nuriza hanya bertiga dalam proses pengibaran bendera.

Senin (17/8) pagi, dalam upacara di halaman Kantor Wali Kota Tarakan, Nuriza dan kedua rekannya berdiri tegak. Keringat bercucuran tidak membuat Nuriza menjadi gentar dan kehilangan fokus. Dengan langkah dan gerakan tubuh yang tegap, Nuriza menuju tiang bendera.

"Lencang tangannn, gerak!" komando salah satu pengerek bendera di samping Nuriza. Sambil melangkah, Nuriza akhirnya tiba di panggung utama lantas menerima sang merah putih dari tangan Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, secara langsung. Wajah Nuriza membawa kebangganan, ia menjalankan tugas untuk kedua kalinya. Upacara itu pun berjalan lancar, tanpa kendala.

Usai upacara, Nuriza melayani permintaan wawancara Radar Tarakan. Sadis berusia 18 tahun mengaku sebagai purnawirawan Paskibra 2018. Nuriza merupakan siswa asal SMAN 3 Tarakan.

"Wali Kota meminta agar yang bertugas sebagai pengerek bendera, memang dikhususkan bagi siswa yang sudah lulus," beber Nuriza.

Dua kali berperan sebagai pembawa baki, Nuriza menceritakan sedikit kisahnya pada peringatan Hari Kemerdekaan ke-73 Indonesia. Sangat berbeda dengan tahun ini yang sangat sepi karena kondisi pandemi Covid-19.

"Setelah ditunjuk kembali, saya sangat bangga bisa mengibarkan bendera kedua kalinya dan bisa membanggakan kedua orang tua lagi," tuturnya.

Yang unik tahun ini, tidak ada lagi pelaksanaan penurunan sang merah putih.

Selama menjadi anggota paskibra, Nuriza mengaku banyak memiliki teman. Ia merasa lelahnya terbayar ketika sukses menjalankan peran sebagai pembawa baki.

Ia pun berharap koordinasi internal di organisasi paskibra dengan tetap terbangun. “Saya tetap dilatih pada saat dipilihnya untuk menjadi petugas pengibar bendera dan alhamdulillah semakin banyaknya pengalaman yang bisa saya rasakan pada pengibaran-pengibaran dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Nuriza bercerita, kelak ingin menjadi polisi wanita (polwan). Dengan apa yang dicita-citakannya itu, ia bersungguh-sungguh dapat tercapai.

“Ke depan ingin menjadi polwan. Semoga dapat terwujud, doakan yah,” ujarnya.

Motivasinya ingin membanggakan kedua orang tuanya. “Saya ingin orang tua saya diangkat derajatnya,” kata Nuriza.

 

BELA NEGARA

Di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Tarakan seluruh warga binaan mengikuti upacara HUT ke-75 RI. Kalapas Tarakan Yosep Benyamin Yambise mengatakan, pihaknya sengaja mematangkan persiapan upacara HUT RI lantaran merupakan salah satu pembinaan bela negara.

“Jadi narapidana itu latihan baris berbaris, kemudian kami arahkan menjadi paskibra,” katanya, kemarin (17/8).

Dalam paskibra tahun ini, pihaknya melibatkan warga binaan. Kemudian pelatihnya pun berasal dari warga binaan sendiri, yang sudah memiliki keahlian dalam baris berbaris. Dibutuhkan waktu sebulan untuk persiapan para paskibra yang bertugas. “Tahun lalu juga informasinya ada, tapi tidak sebanyak sekarang. Untuk saat ini kami libatkan sekitar 60 personel,” ucapnya.

Dirinya berharap dengan adanya warga binaan menjadi paskibra, bisa meningkatkan rasa nasionalisme. Yosep pun melihat para warga binaan sangat antusias dalam mengikuti upacara HUT RI.

Yosep menegaskan, dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan pihaknya di dalam Lapas, maka makin banyak juga pembinaan yang dilakukan oleh pihaknya. Sehingga semua potensi para warga binaan juga bisa diasah, dengan adanya kegiatan yang dilakukan pihaknya. “Sekarang kami ada kegiatan di bidang perikanan dan pertanian. Jadi yang memenuhi syarat, bisa mengikuti pembinaan ini,” tuturnya.

Khusus pembinaa di luar Lapas, pihaknya memfokuskan bagi warga binaan yang sudah menerima asimilasi. Dalam waktu dekat ini, pihaknya juga siap memproduksi telur asin. Kemudian Kalapas juga mencanangkan akan membuat program gerakan pemberdayaan narapidana dan hasilnya akan ditabung oleh para narapidana. “Sehingga kalau mereka keluar, mereka punya keterampilan dan punya modal juga untuk usaha,” bebernya.

Semenjak menjabat, Yosep langsung meningkatkan program pembinaan bagi warga binaan. Bahkan semua lahan kosong di sekitaran Lapas sudah dimanfaatkan untuk program asimilasi. Semua hasil produksi pembinaan dari warga binaan, akan dijual dan hasil penjualannya akan diberikan kepada warga binaan. “Target kami tiga bulan kedepan sudah bisa berjalan untuk menabung. Nanti akan kita arahkan ke bank,” pungkasnya. (shy/zar/lim)

 

 

 

Editor : anggri-Radar Tarakan