SATUAN Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara) kembali merilis tambahan pasien Covid-19 sembuh dan tambahan kasus konfirmasi baru di Kaltara, Rabu (30/9).
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy menyebutkan, tambahan pasien sembuh itu sebanyak 44 orang dari Kota Tarakan.
“Awalnya 44 orang ini dari impor, kemudian terjadi transmisi pada klaster mereka (kontak erat). Tapi mereka sebelumnya telah terisolasi, jadi tidak berinteraksi dengan masyarakat luar atau sekitar,” jelasnya kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi kemarin (30/9).
Dengan begitu, maka jumlah pasien Covid-19 yang sembuh naik menjadi 495 orang.
Sementara, untuk konfirmasi baru di Kaltara bertambah dua kasus dari Bulungan yang terdiri dari seorang perempuan dengan inisial YN (30) yang merupakan kontak erat dan UM (73) laki-laki yang merupakan transmisi lokal.
Artinya, lebih dari sepekan terakhir ini selalu terjadi tambahan kasus konfirmasi positif di provinsi ke-34 ini dengan jumlah yang bervariasi.
Dengan adanya tambahan 2 kasus konfirmasi baru, maka total konfirmasi di Kaltara naik menjadi 577 kasus. Sementara yang meninggal dunia sebanyak 4 orang.
“Kemudian yang masih dirawat hingga hari ini (kemarin), itu berjumlah 78 orang dengan rincian 25 orang di Tarakan, 44 orang di Bulungan, 3 orang di Malinau, dan 6 orang di Nunukan,” jelasnya.
Sementara, di Tana Tidung masih tetap pada status zero kasus. Harapannya, sejumlah daerah di Kaltara ini juga bisa menurunkan tingkat kasusnya hingga mencapai zero kasus seperti Tana Tidung.
Untuk diketahui, dari total konfirmasi positif di Kaltara yang berjumlah 577 kasus itu, paling banyak di Tarakan dengan jumlah 249 kasus, lalu di Malinau 133 kasus, lalu Bulungan 127 kasus, berikutnya Nunukan 59 kasus, dan terakhir Tana Tidung sebanyak 9 kasus.
Sementara yang sembuh tertinggi di Tarakan dengan jumlah 223 orang, kemudian Malinau 130 orang, lalu Bulungan 80 orang, berikutnya Nunukan 53 orang, dan terakhir Tana Tidung 9 orang.
FANTASTIS
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan juga merangkum 44 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19, akhir September, tepatnya Rabu (30/9). Angka kesembuhan ini sangat fantastis, sehingga kumulatif kesembuhan mencapai 223 orang.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan, 44 orang tersebut merupakan importir kasus. Tepatnya kru kapal khusus.
Berturut-turut kasus ke-186 hingga kasus ke-231. Yakni SP (50), NA (39), MH (38), EFI (30), D (43), Dj (43), MHS (29), ES (46), RRC (27), HP (46), DRS (24), SY (47), MW (41), MF (22), AP (34), LMJ (38), RSW (27), RA (22), HS (39), PAP (22), ASM (25), YEP (27), SS (30), AB (36), KF (24), ZA (26), WN (41), TQ (31), AF (25), JK (35), SA (29), K (43), DEP (21), FR (41), AR (32), S (34), SD (33), SA (26), ART (21), AR (22), YK (23), NCW (22), ST (41), dan A (49).
“Alhamdulillah hari ini terdapat 44 orang yang sembuh. Semuanya ini merupakan importir kasus,” terangnya.
Sebelumnya pasien-pasien ini tidak lagi di Tarakan, namun melakukan isolasi mandiri oleh perusahaannya. Meski begitu, Gugus Tugas tetap berkoordinasi dengan melakukan pemantauan jarak jauh, hingga yang bersangkutan melaporkan hasil kesembuhannya.
“Karena mereka diisolasi mandiri oleh perusahaannya. Kami melakukan pemantauan, dan dia harus melaporkan keadaannya bagaimana,” lanjutnya.
Dari 101 total kru yang dilakukan pemeriksaan swab kala itu, sebanyak 48 orang yang terkonfirmasi positif. Sehingga saat ini tersisa 1 orang yang masih terkonfirmasi positif. “Total yang positif kan ada 48 orang. Awalnya sudah ada sembuh tiga orang, tambah hari ini 44 orang, jadi tinggal satu orang lagi,” jelasnya.
Lanjut dr. Devi, setelah menerima 44 orang yang dinyatakan sembuh ini, kasus terkonfirmasi yang masih dalam masa perawatan dan pemantauan tersisa 25 orang.
“Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi sebanyak 249 orang,” katanya.
Sementara kasus suspek dan kontak erat masih tinggi. Yakni sebanyak 234 orang kasus suspek yang dipantau, dan 203 orang kontak erat.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, dr. Franky Sientoro, Sp.A, mengingatkan munculnya klaster pemilihan kepala daerah (pilkada). Kendati, kata dia, saat ini kasus dari transmisi lokal di Kaltara relatif kecil.
“Kaltara masih aman, kasusnya relatif stabil dibanding provinsi lain. Kalau kita jadi kendala, karena keluar masuknya orang. Kasus impor yang lebih banyak. Transmisi lokal ada, tapi enggak banyak,” ujarnya.
Mengatasi kasus saat ini, kata dia, perlu kedisiplinan semua pihak. Utamanya di pintu-pintu masuk Kaltara.
“Kalau transmisi lokal, kasusnya ada, tapi enggak istimewa, tak semenonjol kasus impor. Tetapi maksudnya, karena tidak semenonjol itu, jangan kita enggak waspada. Apalagi di tengah situasi pilkada. Saya melihat ada kesepakatan partai-partai, pergerakan massa tidak dalam jumlah yang besar. Semoga enggak dilanggar calon. Kontestan ini kalau mengumpulkan masyarakat berlebihan akan berisiko. Kampanye ini enggak boleh mengumpulkan massa yang banyak, perlu menempuh kampanye misalnya yang bersifat online. Kayak layar tancap, enggak harus dikumpulkan di satu tempat. Di beberapa lapangan bisa,” tambah dr. Franky.
Virtual box berupa TV virtual yang dilakukan Calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming juga bisa menjadi contoh calon kepala daerah di Kaltara. “Di lapangan yah, bukan di ruangan, kalaupun di ruangan, ruangan yang besar. Risiko penularan bisa berkurang. Ada risiko klaster pilkada. Meskipun tidak besar. Kegiatan yang kita lakukan, kerumunan massa sangat berisiko,” jelasnya.
KE SULTENG WAJIB SWAB
Adanya kebijakan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang menerapkan kembali wajib swab kepada penumpang yang akan menuju ke Sulteng, membuat jumlah penumpang yang menaiki armada PT Pelni mengalami penurunan.
Kepala Bagian Operasi Pelni Cabang Tarakan, Yusuf Hanura mengatakan, kebijakan wajib swab bagi orang yang menuju ke daerah Sulteng sudah diterapkan melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Sulteng Nomor: 440/519/Diskes tanggal 22 September 2020 tentang Penerapan Disiplin Protokol Kesehatan Covid-19.
“Artinya calon penumpang yang akan menuju ke sana (Sulteng) wajib menujukkan surat bebas Covid-19 melalui tes swab menggunakan mesin polymerase chain reaction (PCR),” ujarnya, Rabu (30/9).
Dirinya menjelaskan sebelumnya, sejumlah daerah yang dilalui armada kapal PT Pelni, calon penumpang hanya diwajibkan menunjukkan surat bebas Covid-19 yang didapatkan dari rapid diagnostic test (RDT) saja. “Mungkin penerapan kewajiban swab bagi penumpang yang akan menuju Sulteng dikarenakan di daerah tersebut terjadi peningkatakan kasus Covid-19, sehingga kembali memberlakukan swab bagi penumpang yang akan menuju ke sana,” tuturnya.
Berdasarkan data jumlah penumpang yang berangkat pada Selasa (29/9) jumlah penumpang yang berangkat dari Tarakan menggunakan KM Lambelu hanya ada 464 orang saja, jumlah tersebut terjadi penurunan dibandingkan keberangkatan sebelum-sebelumnya yang rata-rata di atas 500 orang dalam setiap keberangkatannya, sementara untuk penumpang turun ada 553 orang.
“Kita perkirakan pada keberangkatan kapal perintis kita yakni KM Sabuk Nusantara 97 pada Senin (5/10) nanti akan terjadi penurunan jumlah penumpang yang menuju ke Sulteng, akibat dampak dari penerapan swab bagi penumpang yang akan menuju kesana,” ungkapnya.
Sejauh ini penerapan swab masih diberlakukan untuk daerah Sulteng saja, sementara daerah lain yang disinggahi armada kapal PT Pelni masih menggunakan RDT sebagai persyaratannya. “Hanya daerah Sulteng saja yang mewajibkan swab, sementara di daerah lain hanya RDT, termasuk Tarakan yang mana penumpang yang akan ke sini hanya diwajibkan menunjukkan hasil RDT saja,” ucapnya.
Dalam setiap keberangkatan armada kapal PT Pelni, pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan setiap pelayaran, mulai dari pembatasan jumlah penumpang hanya 50 persen yang bisa naik dari jumlah kuota yang ada, hingga kewajiban bagi seluruh penumpang menggunakan masker.
“Jadi misalkan kuota jumlah penumpang yang menaiki kapal mencapai 2.000, kami batasi menajdi 1.000 saja. Hal tersebut sebagai upaya kita tetap menerapkan physical distancing, selain itu penumpang juga wajib menggunakan masker selama perjalanan, hal ini kami lakukan sebagai upaya membantu pemerintah memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” pungkasnya. (iwk/*/one/jnr/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan