Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kekurangan Bukan Halangan Dalam Mengembangkan Minat dan Bakat

anggri-Radar Tarakan • Rabu, 14 Oktober 2020 - 17:31 WIB
TETAP SEMANGAT: Meski memiliki keterbatasan, Komunitas Difabel Tarakan tetap besemangat dan antusias membatik di Rumah Batik Disabilitas, Selasa (13/10)./JANURIANSYAH/RADAR TARAKAN
TETAP SEMANGAT: Meski memiliki keterbatasan, Komunitas Difabel Tarakan tetap besemangat dan antusias membatik di Rumah Batik Disabilitas, Selasa (13/10)./JANURIANSYAH/RADAR TARAKAN

Komunitas Difabel Tarakan sangat terbantu dengan adanya Rumah Batik Disabilitas yang diresmikan pada 14 Agustus lalu, dikarenakan di tempat tersebut penyandang disabilitas yang merasa minder dengan keterbatasan fisiknya, bisa berkarya dengan mengembangkan minat dan bakatnya.

JANURIANSYAH

CANDA tawa terlihat dari beberapa pemuda ketika saya mendatangi Rumah Batik Disabilitas yang berada di Jalan Pulau Nias, RT 3, Kelurahan Kampung Satu/Skip, Selasa (13/10) ketika saya menanyakan keberadaan Pak Sony Lolong yang merupakan pembina Rumah Batik Disabilitas, seketika para pemuda tersebut terdiam dan saling melihat, tanpa menjawab pertanyaan saya salah satu pemuda langsung masuk ke dalam rumah dan memanggi Pak Sonny.

Tidak ada jawabannya dari para pemuda tersebut ketika saya menanyakan keberadaan Pak Sony bukan tanpa alasan, dikarenakan para pemuda tersebut hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau tunarunggu. Hal tersebut saya ketahui ketika Pak Sony menjelaskan bahwa dari 22 orang yang setiap harinya melakukan pelatihan di Rumah Batik Disabilitas, 80 persen di antaranya merupakan tunarungu. “Iya rata-rata 80 persen di sini yang latihan membatik ataupun membuat produk UMKM lainnya merupakan tunarungu, sisanya tunadaksa dan tunagrahita,” tutur Pembina Rumah Batik Disabilitas, Sony Lolong.

Meski memiliki kekurangan, saya tidak melihat kekurangan yang ada tidak menjadikannya sebagai beban, hal tersebut terlihat ketika saya mengamati proses pembatikan, canda, tawa dan senyum bahagia terlihat ketika salah satu teman disabilitasnya menjahili teman lainnya yang sedang fokus membatik. “Mereka-mereka ini tidak saya pekerjakan, tapi datang untuk berlatih untuk mengembangkan minat dan bakatnya, jadi teman-teman difabel ini merupakan orang yang spesial yang juga memiliki potensi yang sama seperti orang lain pada umumnya,” ujarnya.

Dirinya menyebutkan kekurangan seseorang bukanlah menjadi tolok ukur dan menilai kemampuannya, potensi masing-masing individu semuanya sama asalkan memiliki niat dan keinginan kuat untuk berkembang menjadi lebih maju lagi. “Mereka ini sebenarnya memiliki kemampuan terpendam, hanya orang tidak mau meliriknya karena kekurangan yang dimiliki, jadi kami harapkan ketika berada di Rumah Batik Disabilitas, mereka bisa mengasah kemampuannya,” ucapnya.

Rumah Batik Disabilitas sendiri didirikan berkat adanya dukungan dari PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field melalui program pengembangan masyarakat (PPM) untuk mitra binaannya. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 14 Agustus lalu. “Saya sangat berterima kasih dengan dukungan dari PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field, keberadaan Rumah Batik Disabalitas ini sangat membantu teman-teman disabilitas menyalurkan minat dan bakatnya, tempat ini juga bisa menjadi tempat berkumpul teman-teman sesama disabilitas di mana bisa tersenyum bersama dan memiliki harapan kedepannya,” tuturnya.

Sebelum ada dukungan dari PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field, dirinya sempat kesulitan dalam mewujudkan hal tersebut, dikarenakan sulitnya menemukan orang disabilitas  yang berminat mengikuti pelatihan pembatikan ataupun pembuatan produk UMKM lainnya. “Tahun 2018 saya sempat menyosilisasikan di sekolah luar biasa (SLB), namun setelah sosialisasi tidak ada respons yang saya dapat dengan menghubungi saya,” ujarnya.

Tidak putus asa, dirinya pada awal tahun 2019 kembali mencoba mencari orang yang berminat mengikuti pelatihan pembatikan ataupun pembuatan produk UMKM lainnya, kali ini melalui media sosial (medsos). “Ketika melalui medsos teman-teman difabel cukup antusias, sehingga saya mencoba mendatangi secara door to door untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada orang tua agar mengizinkan anaknya mengikuti kegiatan yang saya tawarkan, alhamdulillah ada yang ikut,” ungkapnya.

Jumlah yang mengikuti pelatihan pembatikan dan pembuatan produk UMKM terus bertambah menjadi total 22 orang pada akhir tahun 2019, ketika dirinya dibantu Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan dan PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field mendatangi secara door to door untuk menyosialisasikan pelatihan pembatikan dan pembuatan produk UMKM. “Saat itu kita mendapatkan data dan alamat orang-orang disabilitas dari Dinsos Tarakan, dibantu oleh Dinsos Tarakan dan PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field, alhamdulillah sekarang sudah ada 22 orang yang memiliki kekurangan belajar di Rumah Batik Disabilitasi,” ujarnya.

Dirinya berharap, ke depan orang-orang yang belajar di Rumah Batik Disabilitas bisa membuka usaha dan mengembangkan apa yang dipelajari selama berada di Rumah Batik Disabilitas. Hal tersebut tentunya menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri. “Memang arahnya ke situ, kami harapkan mereka bisa mandiri dan bisa membuka usaha dari apa yang dipelajari, serta menjual produk tidak melihat dari rasa kasihan, tapi benar-benar produk yang dijual memiliki kualitas,” ucapnya.

Rasa senang dan bahagia disampaikan Lina ketika berada di Rumah Batik Disabilitas, dirinya yang memiliki keterbatasan tunadaksa merasa memiliki keluarga baru yang mengerti dan memahami kondisi kekurangan yang dimilikinya.

“Iya senang, selain bisa belajar batik dan membuat produk UMKM seperti masker dan lain-lain, di sini juga ada teman-teman yang paham dengan kekurangan yang kita miliki, jadi seperti sudah kayak keluarga,” ujarnya.

Dirinya yang tinggal di Kelurahan Sebengkok, Tarakan Tengah rela datang hampir setiap hari ke Rumah Batik Disabilitas, untuk belajar dan bertemu teman-teman yang memiliki kekurangan. “Tidak tiap hari saya ke sini, hari minggu saja saya tidak ke sini, kalau hari-hari lainnya selalu ke sini untuk belajar dan bertemu teman-teman difabel yang juga belajar disini,” tuturnya.

Community Development Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field, M Abrar Putra Siregar mengatakan, keberadaan Rumah Batik Disabilitas berawal pada saat Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field sedang mencari program baru pada tahun 2019. “Saat itu kita bertemu dengan Pak Sony yang menjelaskan terkait rencana dirinya menggandeng teman-teman difabel dalam kegiatan membatik dan membuat produk UMKM lainnya,” tuturnya.

Mendatangi door to door bersama Pak Sony dan Dinsos Tarakan menggunakan data yang ada, akhirnya ditemukan 25 orang difabel yang memiliki potensi. “Mengapa menggandeng difabel, dikarenakan angka difabel berdasarkan data Dinsos Tarakan masih tinggi, yakni sekitar 580 orang, jadi kami ingin mengajak teman-teman difabel bergabung, agar dapat belajar dan bisa mengembangkan diri,” tuturnya.

Setelah menemukan orang difabel yang memiliki potensi, pada tahun 2020 Pak Sony dijadikan mitra oleh Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field dan membangun Rumah Batik Disabilitas. “Rumah Batik Disabilitas ini kita fasilitasi mulai dari tempat, sarana prasarana hingga peralatan dan bahan membatik, adapun batik diajarkan di Rumah Batik Disabilitas terdiri dari batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis dan cap,” ujarnya.

Minimnya pengrajin batik di Tarakan juga menjadi salah satu hal yang membuat dibuatnya Rumah Batik Disabilitas. Diharapkan ada pengrajin lain untuk kesenian dan budaya tersebut yang dapat membantu peningkatan perekonomian Tarakan.

“Kami juga bekerja sama dengan Disperindagkop dan UMKM Tarakan dalam segi pemasaran serta Dinas Pariwisata Tarakan untuk menjadikan Rumah Batik Disabilitas sebagai tempat wisata dan edukasi batik,” ucapnya.

Ke depan dirinya berharap 22 orang difabel yang belajar di Rumah Batik Disabilitas, bisa menuju mandiri dan bisa membuka usaha dari ilmu yang didapatkan di Rumah Batik Disabilitas. “Kita di tahun 2021 akan kembali menjaring lagi teman-teman difabel yang ingin belajar di Rumah Batik Disabilitas, tentu jumlahnya akan kami upgrade meningkat dari yang sebelumnya hanya 22 orang saja, keberadaaan Rumah Batik Disabilitas juga bisa menjadi tempat untuk teman-teman difabel kembali termotivasi dan percaya diri karena memiliki teman-teman yang kondisinya sama,” pungkasnya. (***/lim)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan