Bertahan di tengah pandemi coronavirus disease 2019 alias Covid-19, menjadi tantangan tersendiri bagi Euis Mulyati. Ilmu yang pernah didapatkannya saat menjadi mitra binaan PT Pertamina EP Asset 5 Field Tarakan, diterapkannya dengan maksimal untuk memasarkan produk di tengah kondisi saat ini.
LISAWAN YOSEPH LOBO
USIANYA sudah tidak muda lagi. Tapi semangat produktifnya, bisa diadu dengan anak zaman sekarang. Di usianya yang lanjut, akan menginjak ke-52 tahun, tepatnya 20 November mendatang, Euis Mulyati masih produktif.
Saat ditemui di kediamannya yang beralamatkan di Gang Polmas, RT 05, Pantai Amal Baru, Euis tengah asyik membalikkan dodol yang dikeringkannya, Selasa (20/10) siang. Teriknya matahari, tidaklah mematahkan semangat Euis. Langkahnya masih gesit. Badannya pun masih berdiri tegap.
Terlihat ada lima petak di depannya, yang masing-masing diisi dodol warna-warni. Ada warna hijau, ungu, oranye, merah dan kuning. Dodol dari olahan rumput laut ini sudah digelutinya sejak 2012. Maklum, lingkungan tempat tinggalnya rerata pembudi daya rumput laut. Sangat disayangkan bila hanya dijual ke pengepul. Akhirnya ia mulai merambah ke pengolahan rumput laut, yang diproduksi dengan tangannya sendiri.
Saat ini, Euis sudah menjadi mitra kerja PT Pertamina EP Asset 5 Field Tarakan. Namun sebelum itu, sejak September 2014 silam, Euis merupakan mitra binaan PT Pertamina EP Asset 5 Field Tarakan, yang bergerak di bidang industri rumput laut, yang diberinya nama Ar-Raihan.
“Awalnya berdiri sendiri. Kemudian 2013 dibantu dari perikanan, nah mulai dari situ oleh Pak Mulyadi, dosen dari UBT (Universitas Borneo Tarakan) kenalkan ke Pertamina. Kemudian September 2014 menjadi binaan Pertamina,” katanya setelah menjemur dodol rumput lautnya ini.
Banyak hal yang dia dapatkan selama menjadi mitra binaan Pertamina. Tidak hanya berupa bantuan produksi. Tapi ilmu dan pengetahuannya pun ditingkatkan.
Yang awalnya hanya membuat dodol, dari olahan rumput laut ini memiliki produk turunan. Ada kerupuk, selai, sirup, manisan, bakso, ekado, brownies dan nori.
Meski sudah menjadi seorang nenek, Euis tetap giat mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan Pertamina kala itu. Bahkan studi banding. Baginya, itu adalah kesempatan emas. “Sering ikut pelatihan, ke Jakarta, ke Padang, jadi kami bisa studi banding, menambah wawasan. Jadi tidak hanya dibantu kemasan dan peralatan produksi, tapi dapat ilmu juga selama menjadi binaannya,” kata nenek dari delapan cucu ini.
Tak segan, ilmu yang ia dapatkan dibagikan ke orang sekitarnya. Bahkan diajarkan ke para tetangga. Dia juga pernah dipercayakan Pertamina untuk menjadi narasumber.
Seingatnya, 2014 lalu, ia pernah diajak Pertamina ke Bunyu untuk berbagi pengalaman. Kemudian 2015 di Nunukan, 2016 di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Lembaga Latihan Kerja (LLK) Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Tarakan, serta Agustus 2019 di Tana Tidung. Menurutnya berbagi ilmu tidak akan merugikan.
“Dulu sering dibawa Pertamina, ke Sebatik, Tanjung Selor juga pernah. Jadi ilmu yang saya dapatkan dari pelatihan Pertamina, bisa saya bagikan lagi ke mahasiswa yang magang, ke tetangga juga,” kata wanita asli Sunda ini.
Produknya pun kerap dipesan dan dipasarkan oleh Pertamina. Bahkan dipesan hingga 10 paket lebih dan dipromosikan dikala ada pertemuan besar di Jakarta.
“Pernah dipesan sampai Rp 20 juta, Rp 150 juta. Karena itu dipaketkan, ada beberapa paket. Selain produk saya, ada juga amplang, sambal, dari produk teman-teman lainnya. Jadi membantu teman-teman UMKM lainnya,” lanjutnya.
Bisa dibilang ia cukup sukses selama bergelut di dunia usahanya ini. Ia bisa membeli sebuah mobil dan menyekolahkan dua anaknya hingga sarjana. “Alhamdulillahdari hasil UMKM. Bisa kuliahkan dua anak sampai sarjana. Anak ketiga sarjana pariwisata, dan anak keempat sarjana ilmu komunikasi. Ada warung juga,” akunya.
Mampu berkembang, Euis pun dipercayakan dapat mandiri. Sejak Desember 2019, Euis ‘dilepas’ dari mitra binaan menjadi mitra kerja Pertamina. Namun Euis tidak ‘dilepas’ begitu saja. Melainkan tetap dipantau dan bisa berkonsultasi dengan Pertamina. “Jadi bukan mitra binaan lagi, sekarang mandiri atau mitra kerja. Karena setelah dibina ada perkembangan. Tapi masih dipantau,” lanjutnya.
Namun yang menjadi tantangannya saat ini bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sejak Tarakan dilanda Covid-19, tepatnya akhir Maret 2020, jelas memukul bisnis para pelaku UMKM. Termasuk Euis sendiri.
Beruntung ia sudah dibekali ilmu pengetahuan, dari pelatihan yang sering diikutinya. Strategi pemasaran, diterapkannya untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Belum lama ini, Pertamina juga melakukan pelatihan secara virtual mengenai pasarkan produk di tengah pandemi Covid-19.
“Saya juga ikut Zoom meeting (pertemuan berbasis aplikasi) pelatihan yang diadakan Pertamina, mengenai bagaimana caranya memasarkan produk di saat Covid-19. Kadang dibantu mahasiswa juga pasarkan lewat media sosial. Sebetulnya banyak kegiatan dari Pertamina, tapi terhalang Covid-19,” katanya.
“Sekitar Juli pernah ditanya sama Pertamina, kendala yang dialami. Alhamdulillahmasih ada pelatihan dari Pertamina. Tapi kami berharap Covid-19 ini segera berlalu,” sambungnya.
Beruntung saat ini ia kembali disibukkan dengan produksi setelah mendapatkan pesanan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara). Padahal sejak dilanda pandemi, produksinya ini bak ‘mati suri’. Apalagi sejak Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), April lalu.
“Maret, April sama sekali tidak produksi. Juni masih ada produksi 50 bungkus untuk 5 toko. Setelah itu tidak produksi, seperti mati suri. Baru Oktober ini, alhamdulillahkemarin ada perikanan telepon kalau ada pesanan 30 bungkus dari provinsi,” tuturnya dengan nada senang.
Community Development Officer Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field, Ken Retno mengatakan, pemberdayaan ini dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun. Namun di tahun kelima, mitra binaan tersebut diharapkan sudah mampu mandiri.
“Jadi selama 4 tahun itu, pendampingan yang diberikan intens, kita harus mampu menciptakan kemandirian mereka. Sehingga di tahun kelima, mereka sudah bisa mandiri,” terangnya saat ditemui, Jumat (23/10).
Lanjutnya, seperti Euis sudah mampu memproduksi dan mengembangkan usahanya. Sehingga yang awalnya mitra binaan, menjadi mitra kerja. Adapun bentuk dari mitra kerja ini, ketika Pertamina memiliki tamu dari luar atau adanya permintaan oleh-oleh dari Tarakan, produk yang ditawarkan adalah milik mitra kerja Pertamina.
“Kalau kita butuh oleh-oleh untuk tamu, maka kita tinggal kontak Ibu Euis, nanti dari beliau yang siapkan dan itu dalam bentuk paket,” lanjutnya.
Meski statusnya sudah berganti menjadi mitra kerja, pihak Pertamina berharap bentuk pemberdayaan yang telah diberikan terus dikembangkan dan bisa merambah ke pelaku usaha lainnya.
“Sebelumnya kita kasih pelatihan rumput laut. Ibu Euis juga berinovasi, dari situ beliau menjadikan macam-macam produk seperti ekado. Ibu Euis kan sudah ada skill, jadi banyak ibu-ibu yang belajar dari dia dan mereka mengembangkan usaha masing-masing,” tutupnya. (***/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan