TANJUNG Selor sebagai Ibu Kota Kaltara tak elok dilihat ketika sampah terlihat berhamburan. Berbagai persoalan seperti masyarakat yang tak peduli lingkungan, fasilitas kurang memadai hingga program pemerintah setempat diklaim kurang greget.
Sampah rumah tangga yang diproduksi setiap hari di Bulungan semakin meningkat tiap tahunnya. Dampaknya, amrol sampah, bak sampah dan tempat sampah yang yang tersedia tidak dapat menampung. Alhasil, tak jarang sampah berserakan hingga ke badan jalan.
Rahma, warga Jalan Sengkawit bercerita, jika dalam satu gang di lingkungannya setiap hari menghasilkan banyak sampah. Kemudian, bak sampah yang tersedia di jalan masuk gang miliknya tidak dapat menampung. Sehingga, banyak sampah yang disimpan begitu saja di pinggir bak sampah.
“Karena tempat sampah sudah penuh jadi disimpan begitu saja dekat tempat sampah dengan jumlah yang banyak,” ucap Rahma.
Ia menjelaskan, jika sampah yang tidak ditempatkan di bak sampah lantaran penuh membuat sampah berhamburan hingga ke jalan. Belum lagi, saat malah hari anjing liar yang berkeliaran mencari makan sehingga menghambur sampah. “Kadang kalau pagi sampah berhamburan di sekitar bak sampah. Bahkan sampai ke jalan karena dibawa anjing,” jelasnya.
Tak jauh berbeda dengan Ardi, warga Jalan Cendrawasih, setiap pagi ia disuguhkan sampah yang berhamburan di ruas jalan sekitar tempat tinggalnya. Sehingga, ia berharap agar bak sampah dapat diangkut dengan cepat. Kemudian bak sampah diberikan penutup.
“Kalau pagi banyak sampah. Sampah rumahan seperti popok balita dan sisa makanan. Kalau bisa bak sampah dilengkapi dengan penutup jadi tidak diganggu anjing liar,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang petugas kebersihan Baya (34) mengaku kesal ketika melihat sampah berserakan. Khususnya pada pagi hari. “Saya kan dari subuh sampai pagi menyapu. Hampir setiap hari selalu ada sampah yang berserakan,” bebernya.
Umumnya, kata dia, sampah yang berserakan popok bayi. Sampah yang berserakan terjadi di beberapa titik. Seperti Jalan Serindit, Cendrawsih dan beberapa titik lainnya. “Hampir di semua titik,” ujarnya.
Biasanya popok bayi yang berserakan ini dibawa binatang liar seperti anjing. Jika masyarakat membuang sampah tepat waktu, sampah itu tidak akan berserakan. “Kasihan kami, setiap hari membersihkan kotoran manusia dan tolong jangan membuang sampah sembarangan,” harapnya.
Hal senada juga disampaikan Ade (33). Ia mengatakan, selain popok bayi sisa makanan juga banyak berserakan. “Banyaklah. Binatang itu yang biasa bawa sampai ke jalan,” ungkapnya.
Dan sampah yang berserakan ini terjadi hampir setiap hari. Bahkan siang hari pun ada saja sampah yang berserakan. “Kalau siang itu bisanya kambing. Jadi, saya berharap agar binatang peliharaan tidak dilepas bebas,” pesannya.
Terpisah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungantak menampik mengenai tempat pembuangan sampah (TPS) di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor saat ini masih jauh dari standar. Akibatnya setiap hari sering terlihat di sejumlah TPS dipenuhi sampah hingga meluber ke badan jalan.
“TPS dalam kota (Tanjung Selor) memang masih jauh memenuhi standar,” ungkap Iwan Sugiyanta, Kepala DLH Bulungan dalam wawancaranya kepada Radar Kaltara, Minggu (1/11).
Meski, dalam hal ini pihaknya tak menjelaskan secara detail akan standar dan jumlah minimun dari TPS tersebut. Namun menurutnya hal terpenting adalah bagaimana masyarakat dapat bersama untuk menerapkan pengelolaan sampah dari sumbernya. Salah satu sumbernya dari sampah rumah tangga. Yaitu sampah dapat ‘disulap’ menjadi barang yang lebih bernilai.
“Artinya, jika masyarakat paham pengelolaan sampah dari sumbernya dari rumah tangga, ke depannya bila jumlah TPS-nya masih jauh memenuhi standar itu tak menjadi persoalan,” ujar pria yang ramah dan murah senyum ini.
Sejauh ini mengenai adanya TPS dengan sampah yang sampai meluber. Hal itu bisa dikarenakan dari pola pembuangan sampah oleh oknum masyarakat yang terkadang tidak pada tempatnya. Misal, di buang secara sengaja di luar dari TPS sehingga sampah terlihat meluber ke badan jalan.
“Termasuk, permasalahan lain yaitu masih adanya oknum masyarakat yang membuang sampah tidak pada jadwal pembuangannya (18.00– 06.00 WITA). Sehingga tong sampah terlihat penuh padahal sebelumnya sudah diangkut oleh petugas sesuai dengan jadwal angkutnya,” jelasnya.
Terkait permasalahan melubernya sampah ini hingga perlu adanya penambahan jadwal pengangkutan, Iwan mengatakan saat ini menurutnya hal itu belum perlu untuk dilakukan. Terkecuali, saat hari libur panjang atau hari keagamaan dan hari besar lainnya. Sehingga jadwal pengangkutan sampah memang harus ditambah. Dikarenakan sampah bisa meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat.
“Hal seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin. Tapi, di hari biasa tidak demikian dan jadwal pengangkutan sampah dari para petugas berjalan normal,” katanya.
Namun, mengenai persoalan sampah di TPS agar tidak terus meluber memang pihaknya pernah memberikan penekanan terhadap para pengusaha perumahan dalam bentuk klaster. Yaitu agar dapat membuat TPS sendiri di area perumahannya tersebut. Dengan harapan nantinya sampah dari warga yang ada itu tidak dibuang di TPS yang sudah ada sebelumnya.
“Adanya klaster perumahan ini jelas menambah volume sampah. Agar tak menumpuk di TPS, maka memang sejak awal kami sudah memberikan penekanan setiap klaster rumah agar dapat membuat TPS mandiri,” tuturnya.
Meski, ada permasalahan lain yang sampai saat ini masih menjadi ‘PR’ di DLH, yaitu terkadang hewan liar sering menghambur sampah di TPS. Oleh karenanya, disiapkan amrol di beberapa sudut kota. Sehingga itu dapat mengurangi sampah yang berserakan di badan jalan akibat hewan liar.
“Tapi, memang dari TPS yang ada itu pun memang sebagian di desain cukup tinggi. Sehingga hewan liar tidak mudah masuk ke TPS. Meski, memang masih ada beberapa TPS yang masih ukurannya rendah sehingga mudah hewan liar masuk dan menghambur ke badan jalan,” ucapnya mengakhiri.
Bupati Bulungan, H. Sudjati mengatakan, selama kesadaran masyarakat masih rendah, maka permasalahan sampah ini masih akan terus terjadi. “Kuncinya ada di masyarakat. Kalau masyarakat sudah sadar, permasalahan sampah ini tidak akan ada,” kata Sudjati kepada Radar Kaltara.
Pemerintah, sambung Sudjati, sudah berupaya menanggulangi permasalahan sampah di Bumi Tenguyun dengan menyiapkan tempat pembuangan sampah sementara di beberapa sudut kota. Hanya saja hal itu belum juga efektif. “Iya, kalau menurut saya tidak efektif. Kenapa? Karena masih banyak masyarakat yang membuang sampah tidak tepat waktu,” ujarnya.
Padahal waktu pembuangan sampah sudah tertera di setiap TPS. Akibatnya, pembuangan sampah yang tidak pada waktunya terjadi penumpukan sampah. “Sampah berserakan sampai ke jalan,” ujarnya.
Bila sudah seperti itu yang disalahkan pemerintah, padahal pemerintah sudah berupaya. “Iya, saya minta masyarakat tertib,” harapnya.
Mantan Sekkab Bulungan ini juga sangat menyayangkan adanya fasilitas bak sampah yang dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab. Contoh, di Jalan Pahlawan, bak sampahnya hilang. “Ini juga yang sangat kita sayangkan,” ungkapnya.
Padahal fasilitas itu dibangun bukan untuk dirusak, tetap untuk digunakan bersama. Kemudian, masyarakat juga diimbau untuk tidak membuang sampah sembarang di dalam drainase ataupun sungai. “Bisa menyebabkan banjir kalau sampah dibuang di sungai atau drainase dan hal itu melanggar regulasi,” ujarnya.
Berdasarkan Perda nomor 25 tahun 2002 tentang Ketertiban dan Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah Kabupaten Bulungan. Khususnya pada pasal 5 disebutkan bahwa setiap orang dilarang membuang sampah atau limbah pada sembarang tempat kecuali pada tempat yang telah disediakan serta membuang sampah dan atau limbah di tempat umum, jalan umum dan saluran air, sungai, serta tempat-tempat lain yang dapat merusak keindahan dan kebersihan lingkungan hidup. “Jadi, secara regulasi saya rasa sudah jelas,” ungkapnya. (akz/*/jai/omg/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan