Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Melihat Ritual Tolak Bala di Desa Salimbatu

anggri-Radar Tarakan • Kamis, 7 Oktober 2021 - 22:13 WIB
SEMANGAT KEBERSAMAAN: Masyarakat di Desa Salimbatu menggelar ritual tolak balak akbar kemarin./PIJAI PASARIJA/RADAR KALTARA
SEMANGAT KEBERSAMAAN: Masyarakat di Desa Salimbatu menggelar ritual tolak balak akbar kemarin./PIJAI PASARIJA/RADAR KALTARA

Masyarakat suku Tidung di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Selor, Bulungan menggalar ritual tolak balak akbar dengan 1.000 ketupat, Rabu (6/10). Kegiatan yang berlangsung di Balai Adat Tidung ini sudah menjadi warisan orang tua terdahulu yang setiap tahun digelar.

PIJAI PASARIJA

KETUA Panitia Pelaksana, Ilhamsyah menjelaskan, tolak bala ini sangat sakral bagi masyarakat suku Tidung. Bahkan sudah berlangsung turun temurun. Sehingga, generasi yang ada saat ini wajib memeringati setiap tahun di bulan safar akhir arba (akhir bulan)  hari Rabu.

“Kegiatan tolak balak akbar ini perdana. Karena biasanya kegiatan dilakukan per kelompok warga di Desa Salimbatu,” kata Ilhamsyah kepada Radar Kaltara kala ditemui di lokasi, Rabu (6/10).

Kegiatan ritual tolak bala ini juga dirangkaikan dengan mandi di laut atau sungai. Namun, karena masih pandemi Covid-19 akhirnya ritual menjiu (mandi) selamun ditiadakan tahun ini. Kegiatan ini akan kembali diagendakan tahun depan. “Kegiatan menjiu selamun ini wajib hukumnya berkumpul. Tetapi, karena masih pendemi kita dilarang untuk berkumpul,” bebernya

Tetapi, di kelompok masyarakat ada yang tetap melaksanakan menjiu selamun. Tatapi, kegiatan ini tidak digelar di sungai melainkan di rumah masing-masing. “Jadi, setiap kepala rumah tangga memandikan keluarganya. Jika tidak tahu bacaannya bisa minta bantu ke ustad atau ulama untuk ditulis di atas daun pisang,” ungkapnya.

Nantinya, tulisan itulah yang akan membasahi tubuh. Menjiu selamun ini hanya bisa dilakukan setelah salat subuh hingga pukul 09.00 Wita. “Kata salamun ini diambil dari surah Yasin. Salamun qoulam mirrobblirrohim (kepada mereka dikatakan). Jadi, di bulan safar inilah yang kita yakini untuk berdoa, momohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari hal yang kurang baik. Misalnya, dijauhkan dari bencana, penyakit dan lainnya, kalau 1.000 ketupat ini memiliki makna kebersamaan. Itulah sebabnya, ketupat dibuat dari beras ketan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kades Salimbatu, Asnawi menjelaskan, selain tolak balak, ritual ini juga memiliki makna kebersamaan. Sebetulnya, warga setempat sudah bisa melakukan  kegiatan seperti saat karena sudah turun temurun dari orang tua terdahulu. “Anggapan orang dahulu bulan safar itu merupakan bulan nahas. Apalagi, di sni (Salimbatu) mayoritas muslim. Jadi, tradisi ini ada kaitannya dengan  sejarah agama Islam,” ungkapnya.

Diharapkan, dengan adanya kegiatan tersebut budaya yang ada di Salimbatu bisa lebih dikenal masyarakat luar. “Hari ini (kemarin, Red) kegiatan secara besar digelar. Biasanya kegiatan ini hanya digelar di setiap RT,” ungkapnya.

Sekretaris Kabupaten Bulungan, Drs.Syafril mengaku sangat menyambut positif kegiatan tolak balak. Diharapkan, daerah ini bisa lebih aman dan wabah pandemi Covid-19 bisa segera berakhir. “Iya, saya berharap daerah kita ini bisa lebih aman dan tentram,” harapnya.

Ritual tolak balak ini juga menjadi bagian upaya untuk melestarikan budaya. Apalagi hal ini rutin dilakukan setiap tahun. “Ritual tolak balak ini merupakan salah satu budaya yang ada di Bulungan. Ke depannya saya berharap kegiatan seperti ini bisa berjalan lebih baik lagi, sehingga generasi muda bisa mengetahui budaya dan agama,” ujarnya. (***/eza)

Editor : anggri-Radar Tarakan