TARAKAN - Masa pandemi Covid-19 menjadi tahun yang sangat berat bagi tenaga kesehatan (nakes) dalam menjalani pengabdian melawan pandemi Covid-19. Bahkan tidak sedikit nakes yang harus merenggang nyawa dalam menjalankan tugas pengabdiannya, tidak terkecuali pada apoteker.
Karena itu, Minggu (12/12) Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PCIAI) Tarakan mengelar pertemuan membahas persoalan dan kendala yang dirasakan apoteker selama masa pandemi covid-19.
Saat dikonfirmasi, Ketua PCIAI Tarakan Wisian menerangkan persoalan yang dialami apoteker menjadi tanggung jawab bersama, sehingga pertemuan tersebut menjadi wadah bagi para apoteker dalam menyampaikan kendala sekaligus mencari solusi.
"Ini adalah kegiatan pertama di masa pandemi, jadi IAI sempat vakum tidak ada pertemuan kurang lebih 1 setengah tahun. Pembahasannya lebih kepada terkait pengalaman apoteker selama pandemi Covid-19 ini. Apa saja kendalanya dan bagaimana penyelesaiannya,"ujarnya, Minggu (12/12).
"Misalnya yang kemarin masih banyak masyarakat yang takut dengan vaksin, ragu dengan vaksin dan efek sampingnya. Di situ lah peran apoteker untuk mengedukasi masyarakat,"sambungnya.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti masih minimnya jumlah Apoteker di Tarakan. Padahal, sebagai peracik obat-obatan di masa pandemi membutuhkan lebih banyak apoteker selain perawat dan dokter.
"Selain itu, saat ini jumlah apoteker di Tarakan belum terlalu banyak. Dan saat pandemi lalu, kita butuh tenaga kesehatan sangat banyak. Saat ini jumlah apoteker sekitar 140 orang,"tuturnya.
Dijelaskannya, di masa pandemi tidak sedikit masyarakat yang mempercayai beredarnya informasi obat-obatan Covid-19 yang tersebar di media sosial. Sehingga menurutnya, banyak masyarakat yang mempercayai beberapa obat tertentu untuk menyembuhkan Covid-19. Padahal obat yang dimaksud secara klinis tidak benar. Oleh sebab itu peran apoteker sangat dibutuhkan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
"Kadang masyarakat terpengaruh dengan adanya berita misalnya obat herbal bisa dibuat untuk Covid-19. Jadi masyarakat bisa membeli misalnya kemarin ada obat herbal yang diperkenalkan seseorang, banyak masyarakat langsung percaya tanpa mengecek kebenarannya,"ujarnya.
"Dengan adanya peran apoteker, tentu hal ini membuat kita bisa memberikan edukasi kepada masyarakat kalau obat ini kegunaannya ini,"pungkasnya. (*/zac/ana).
Editor : anggri-Radar Tarakan