TARAKAN - Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang akhirnya mendatangi petambak Kaltara, untuk membahas anjloknya harga udang.
Tak hanya berdiskusi dengan petambak, perwakilan anggota DPRD Kaltara turut hadir dalam pembahasan yang terlaksana di Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat, Rabu (19/10). Zainal menyampaikan, beberapa hal yang telah dilakukan terkait turunnya harga udang. Termasuk melakukan beberapa kali diskusi dengan pemilik modal, untuk membuat cold storage di Tarakan.
“Kalau lambat responsnya dari cold storage, kita pakai APBD. Nanti untuk membuat cold storage agar bisa menampung hasil panen dari petambak,” tegasnya.
Gubernur pun berjanji mengumpulkan semua pemilik cold storage, untuk mencari solusi harga udang yang terus menurun. Ia juga menyadari di wilayah lainnya seperti Makassar dan Balikpapan mengalami hal yang sama. Namun harga udang masih berada pada batas wajar.
“Kalau di sana tidak sampai anjlok, jadi harga udang ini business to business. Kalau di tempat lain perlakukan beli udang, beda di Kaltara. Di Balikpapan dan Makassar kalau hasil panen langsung jual ke pabrik dan cara penimbangan yang dilakukan juga beda dengan di Tarakan. Ini yang mau kita urai,” jelasnya.
Sebelumnya, pihaknya telah memanggil tiga perusahaan cold storage untuk menjual udang langsung ke pabrik. Gubernur menyarankan petambak untuk menjual hasil panen ke pos pembelian udang yang memiliki izin. Hanya saja pos pembelian udang saat ini, masih banyak yang tidak memiliki izin.
“Mereka sepakat, ada 3.000 space itu penjual. Saya yakin kalau petambak langsung menjual ke pabrik itu harga (udang) tidak sebegitu jatuh. Dulu itu hanya ada 2 pos pembeli udang dan tidak ada masalah harga waktu itu. Sekarang pos pembelian udang ratusan dan susah dikontrol,” keluhnya.
Mengantisipasi hal tersebut, pihaknya akan membentuk Satgas untuk memantau perizinan pos pembelian udang. Juga sebagai bentuk melakukan stabilisasi harga udang di Kaltara.
Selain itu, telah melakukan MoU dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah. Guna mengakomodir produk perikanan di Kaltara. Anjloknya produk perikanan ini bukan hanya pada udang. Namun sempat pada komoditas rumput laut yang saat ini harganya sudah stabil, bahkan jauh lebih baik.
“Dulu harga jual Rp 19 ribu per kg, bahkan sempat Rp 12 ribu per kg. Tapi kami sudah atasi dengan buat koperasi dan terima harga Rp 29 ribu per kg. Setelah itu harga rumput laut melonjak tinggi sampai sempat harga Rp 40 ribu per kg. Ini upaya-upaya. Jadi saya ini tak tinggal diam, saya pikir bagaimana cara menyejahterakan masyarakat saya,” tuturnya.
Gubernur pun menyayangkan adanya aksi demonstrasi pada Selasa (18/10) lalu, yang dilakukan petambak dan mahasiswa. Padahal ia sudah berkomunikasi langsung kepada Presiden BEM Universitas Borneo Tarakan, untuk berkomitmen menstabilkan harga udang.
“Saya sayangkan, seharusnya kita ada komunikasi. Termasuk anak-anak saya di UBT belum pernah ada komunikasi. Hanya melalui pesan, saya sampaikan ke Ketua BEM UBT. Saya itu tidak menutup mata, bukan lupa janji. Tapi saya sudah berbuat bagaimana harga udang ini bisa stabil,” harapnya.
Sementara itu, Ketua HNSI Kaltara Muhammad Nurhasan Al Huda berharap Gubernur dapat tegas untuk bertemu pihak cold storage. Pihaknya, ingin mendengar langsung alasan dari pabrik soal harga udang yang rendah.
“Sudah ada jalan sebenarnya, wajib ada pertemuan lanjutan dan Gubernur sudah siap. Poin pembahasan yang sama, tuntutan masyarakat sudah ditampung Gubernur dari cold storage sudah ditampung juga. Kami menuntut dibuat pernyataan untuk disetujui agar tak dilanggar,” tegasnya.
Selain itu, petambak mengharapkan bukan hanya kenaikan harga. Tapi kestabilan harga yang berkelanjutan. Dalam pertemuan selanjutnya, ia berharap sudah ada titik terang dari permasalahan harga udang ini.
“Ini akan terus berjalan, pak Gubernur kan sudah panggil cold storage. Tapi kan masyarakat juga punya alasan, dorongan itu bukan hanya menegur Gubernur. Tapi memberi solusi untuk hal yang lebih tegas. Gubernur pasti paham kalau ada pihak yang melanggar, ya harus ada sanksi,” tuturnya. (sas/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria