Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sungai Kembali Dipenuhi Eceng Gondok

uki-Berau Post • Jumat, 27 Januari 2023 - 08:30 WIB
PERLU NORMALISASI SUNGAI: Kondisi Sungai Selor dan Sungai Buaya yang kembali dipenuhi tanaman eceng gondok membuat warga setempat kesulitan pergi melaut.
PERLU NORMALISASI SUNGAI: Kondisi Sungai Selor dan Sungai Buaya yang kembali dipenuhi tanaman eceng gondok membuat warga setempat kesulitan pergi melaut.

TANJUNG SELOR – Normalisasi Sungai Selor dan Sungai Buaya, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, yang dipenuhi tanaman eceng gondok, pernah dilakukan pembersihan pada tahun 2019 lalu.

Berselang tiga tahun, tanaman eceng gondok tersebut kembali tumbuh dan menghambat jalannya arus air Sungai Selor dan Sungai Buaya sepanjang 3 kilometer. Dampaknya pun dirasakan warga sekitar, yang kesulitan untuk melintasi sungai tersebut.

Ismail yang merupakan Ketua RT 14 mengatakan, sungai ini sudah lama dipenuhi eceng gondok dan rumput rumpai. Meskipun pada tahun 2019 lalu, pernah dilakukan pembersihan. “Jadi kami dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Pemprov Kaltara, termasuk TNI/Polri dan sejumlah elemen masyarakat pada 2019 lalu pernah lakukan pembersihan. Tapi, tanaman itu kembali tumbuh dan menutupi sebagian sungai,” ucap pria yang berusia 48 tahun itu, Kamis (26/1).

Dengan kondisi sungai yang semakin dangkal, warga RT 14 yang mayoritas nelayan merasa kesulitan keluar dari sungai ini. Pasalnya, tertutup dengan tanaman eceng gondok. Ismail mengakui, untuk bisa pergi melaut, dalam sebulan sekali dilakukan tiga kali pembersihan. Namun, pembersihan tersebut dinilai tidak efektif.

“Karena nelayan di sini berjumlah 14 orang, dengan jumlah 65 KK (Kepala Keluarga) di RT 14. Paling kita bersih daerah yang bisa untuk dilalui perahu,” ungkapnya.

Diharapkan pihak terkait bisa melakukan pengerukan kembali. Pasalnya, dengan kondisi seperti saat ini, jarak tempuh agar bisa keluar ke sungai besar memakan waktu sampai dua jam.

“Jika sudah dibersihkan, untuk keluar Sungai Selor waktu tempuhnya hanya satu jam,” ujarnya.

Menurut dia, tanaman eceng gondok pun harus rutin sebulan sekali dibersihkan. Jika tidak, maka tanaman itu cepat sekali tumbuhnya. Kesulitan melintasi sungai dengan dipenuhinya tanaman eceng gondok dirasakan salah seorang nelayan Abdurahman. Dia mengatakan, kondisi sungai sudah mengkhawatirkan. Selain terjadi pendangkalan sungai, tanaman eceng gondok pun menghambat aktivitas warga sekitar yang memiliki profesi sebagai nelayan.

“Saya sebagai nelayan paling kesal kalau mau melaut harus bersihkan dulu tanaman eceng gondok, baru bisa melintasi sungai. Ini membuat kita nelayan terganggu dalam beraktivitas,” singkat pria berusia 52 tahun itu. (*/ika/uno)

Editor : uki-Berau Post
#lingkungan