Koordinator Di Bawah Satu Bendera, Che Ageng menerangkan, bahwa pihaknya berhasil memecahkan titik koordinat dalam arsip Perang Dunia II milik militer Australia. Di mana dari arsip itu menunjukkan adanya aset pertahanan di sekitar perbukitan Gunung Selatan. Setelah menganalisis koordinat akhirnya kelompok ini mulai melakukan pencarian dan akhirnya menemukan situs pertahanan yang dimaksud.
“Ini berawal dari ketertarikan kami terhadap sejarah Kota Tarakan yang belum ditemukan. Sehingga 2 tahun lalu kami mencoba mencari informasi arsip-arsip Perang Dunia II. Kemudian kami menemukan situs arsip militer Australia, Belanda, Jepang pada laman khusus yang memang tidak dapat dibuka secara umum. Setelah menemukan kami mulai menjadi informasi satu persatu tentang sejarah Tarakan. Setelah melalui proses panjang kami akhirnya bisa mencocokkan titik koordinator aset yang ada dengan metode pendekatan,” sambungnya.
Dikatakan, dalam memecahkan koordinat lokasi sebuah situs tidaklah mudah. Proses kajian pengolahan data pada peta memerlukan waktu. Kendati demikian, bagi kelompok pecinta sejarah di Tarakan hal ini merupakan tantangan.
“Akhirnya dalam 2 tahun terakhir kami menemukan 3 situs yang mana berasal dari informasi arsip ini. Ketiga itu 1 di Gunung Selatan (Defrida) dan 2 situs di hutan perbatasan Gunung Selatan dan Kampung Satu (Fukukaku). Ketiganya adalah basis pertahanan di Fukukaku ada pertahanan artileri mortir dan senapan. Sementara di Defrida ini pertahanan senapan,” tuturnya.
Adapun lubang pertahanan ditemukan berjumlah 4 yang masing-masing lubang diisi 1 prajurit. Di lubang tersebut juga ditemukan beberapa mortir, peluru dan tempat makanan prajurit Jepang. Rencananya, benda-benda tersebut akan ditempatkan di museum alam Gunung Selatan yang baru akan dibangun.
“Di sini ada 4 lubang, dan 1 lubang diisi satu prajurit. Sebelumnya kami merilis temuan kami di Perpustakaan Daerah, seperti peluru, mortir dan nesting tentara Nippon Jepang. Semua benda itu kami temukan di lubang pertahanan ini. Dari informasi arsip militer Australia, kawasan ini menjadi salah satu target serangan udara Sekutu untuk melumpuhkan kekuatan tentara Nippon (Jepang),” ungkapnya.
“Dengan adanya temuan ini, kami berharap agar pemerintah bersama masyarakat dapat menjaga situs ini. Selain kami berharap situs ini dapat direstorasi agar nantinya tetap dapat dilihat anak cucu kita. Ini merupakan warisan sejarah Perang Dunia di Tarakan, semoga kami dapat lebih banyak menggali situs perang Dunia Kedua yang belum ditemukan,” pungkasnya. (zac/lim)