JAKARTA - Kongres Pemuda Indonesia (KPI) menilai penyebab kematian Brigadir Polisi (Brigpol) Setyo Herlambang terasa janggal.
Seperti diketahui, Walpri Kapolda Kaltara tersebut tewas tertembak peluru senpi miliknya sendiri. Peluru itu diketahui menembus jantung dan paru-paru Brigpol Setyo Herlambang.
Jika melihat profil korban, Brigpol Setyo Herlambang tercatat pernah bertugas di Gegana Satbrimob Polda Kaltara dan Pasukan Gegana pada Korps Brigade Mobil (Brimob). Korban juga pernah bertugas di kesatuan khusus Polri, yang menangani tugas berbahaya seperti kontra terorisme dan pemberontakan hingga menjinakkan bahan peledak.
Selain itu, Brigadir Setyo Herlambang juga dibekali keahlian untuk menyelamatkan sandera, menangani ancaman kimia-bilogi-radiasi (KBR), sampai intelijen.
Sampai sini terlihat bahwa rekam jejak dan pengalaman Walpri Kapolda Kaltara tersebut tidak kaleng-kaleng. “Pasukan Gegana dikenal sebagai penjinak bahan peledak atau Jihandak yang melakukan detonasi pada serangan-serangan dengan bom,” ungkap Presiden KPI, Pitra Romadoni Nasution, pada Senin (25/9) lalu, dikutip dari Pojoksatu.
Pitra pun mempertanyakan cara Brigadir Setyo Herlambang membersihkan senpinya hingga langsung disimpulkan oleh penyidik bahwa itu adalah penyebab kematian korban. Tentunya, merujuk latar belakang korban, sangat kecil kemungkinan korban mengarahkan moncong senjata ke dadanya sendiri saat membersihkan senpinya.
“Apakah dalam membersihkan senpi, laras (ujung pistol) menghadap dadanya. Sehingga peluru menembus jantung dan paru-paru yang mengakibatkan pendarahan hebat?” heran dia.
Karena kejanggalan itu, Pitra menekankan bahwa penyelidikan mendalam terkait kasus kematian Walpri Kapolda Kaltara Irjen Daniel Adityajaya ini sangat diperlukan.
“Propam Polri perlu mendalami lagi kematian Brigpol Setyo tersebut mengingat pengalamannya yang pernah bertugas di Gegana,” tegas dia.
Di samping itu, Pitra juga mendesak Mabes Polri turun tangan secara langsung untuk mengusut kasus ini secara tuntas dan transparan. Mabes Polri juga harus memberi penjelasan berdasarkan temuan dan fakta kepada publik. Agar tidak menimbulkan spekulasi liar di masyarakat.
“(Kapolri) Segera turun tangan dan menjelaskan kepada publik duduk persoalan yang sebenarnya. Setelah hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Propam Polri tuntas,” tandasnya.
Sementara itu, Pengamat kepolisian dari Institut For Security and Strategic Studies, Bambang Rukminto, meminta Polri dalam menyelidiki kasus kematian Brigadir Setyo Herlambang alias Brigadir SH untuk berkaca pada kasus penembakan Brigadir Joshua.
“Kepolisian harusnya belajar dari kasus penembakan Brigadir Joshua di Duren Tiga setahun lalu,” kata Bambang, dikutip dari Pojoksatu, pada Selasa (26/9).
Seperti diketahui, Brigadir Joshua ditembak oleh atasannya sendiri, Ferdy Sambo. Namun, sebelum Ferdy Sambo terbukti melakukan pembunuhan berencana, kasus Brigadir Joshua diketahui sempat terjadi rekayasa.
Bambang sendiri menilai penyebab tewasnya Walpri Kapolda Kaltara Irjen Daniel Adityajaya itu terasa janggal. Seperti diketahui, Brigadir Setyo Herlambang diduga tewas karena lalai saat membersihkan senpinya.
“Jadi sangat janggal kalau ada kelalaian sehingga tertembak senjatanya sendiri, kecuali memang disengaja atau bunuh diri,” ujarnya.
Menurut Bambang, semakin tidak masuk akal jika melihat fakta bahwa Walpri Kapolda Kaltara tersebut merupakan anggota Brimob berpangkat Brigadir Polisi yang sudah bekerja lebih dari delapan tahun.
Bambang menuturkan bahwa seharusnya Brigadir Setyo Herlambang sudah paham caranya menggunakan senjata.
“Inikan tidak masuk akal. Makanya Humas harusnya menjelaskan dengan scientific crime investigation secara gamblang,” tutur dia.
Oleh sebab itu, Bambang mendesak Polri agar mengusut kasus kematian Brigadir Setyo Herlambang ini dengan tuntas dan transparan.
Hal tersebut diperlukan agar publik tidak berspekulasi liar terkait tewasnya pengawal pribadi Kapolda Kaltara tersebut.
“Di mana luka tembak pada jenazah yang menyebabkan kematian dan di mana posisi senjata dengan lebih rinci agar tak memunculkan asumsi ke mana-mana,” tandas dia.
Diberitakan sebelumnya, pada Senin (25/9) lalu, Polda Kaltara sudah melakukan gelar perkara. Kabid Humas Polda Kaltara Kombes Pol Budi Rachmat mengungkapkan, beberapa hal berkaitan penyelidikan mulai dari CCTV, proyektil, saksi maupun apa saja barang bukti yang ditemukan penyidik.
“Kami melakukan gelar perkara dengan supervisi Dit Propam Mabes Polri,” ungkapnya.
Gelar perkara yang dilakukan dengan memperlihatkan hasil dari berkas acara pemeriksaan (BAP) 14 saksi, penilaian CCTV dan rekontruksi di lokasi kejadian. Setelah gelar perkara ini, dari penyelidikan akan ditingkatkan statusnya ke penyidikan.
Dari hasil penyelidikan sementara, lanjut Budi, korban termonitor dari rekaman CCTV keluar masuk kamar walpri. Diketahui ada personel penjagaan yang datang ke kamar meminjam sandal dan saat itu korban masih hidup.
Di rekaman CCTV depan memperlihatkan aktivitas korban. Mulai dari pagi jelang siang sampai korban meninggal dunia. Kemudian CCTV samping memperlihatkan proyektil peluru saat meletus berada di pukul 12.39 Wita, Jumat (22-9) lalu.
“Rekaman CCTV ini berbeda durasinya 20 menit dengan waktu jam riil. Dalam kamar, akses masuk hanya dari depan dan terlihat korban seorang diri, tanpa ada orang lain lagi. Tentunya nanti yang menyampaikan dari ahlinya, rekaman akan kami kirimkan ke forensik. Ini akan menjadi bukti petunjuk dalam proses penyelidikan dan ranah penyidikan,” tuturnya.
Korban pertama kali ditemukan rekan sesama walpri, berinisial Briptu K setelah ledakan. Penyidik mencocokkan waktu proyektil keluar jendela dan dicocokkan dengan saksi K memfoto makanan yang dimasak untuk dikirim ke korban. Briptu K dan korban saat kejadian dalam berstatus lepas dinas.
Menurut Budi, korban merupakan salah seorang personel Polri yang profesional. Sudah terdidik di Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Kaltara. Tembakan itu dibungkus, jarak senjata berdekatan sehingga tidak terdengar ledakan. Tak ada satu orang pun yang mendengarkan ledakan. Tapi, masih diteliti ada yang terlihat proyektil keluar jendela di jam 12.39 Wita, sesuai asumsi jam yang tertera di CCTV.
“Proyektilnya bahkan sampai sekarang belum ditemukan, karena ditembakkan dari dalam ruangan dan tembus ke jendela, ke atas dan mungkin ke arah kantor Dokkes,” tuturnya. (jpg/uno2)
Editor : izak-Indra Zakaria