Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Keseriusan Perlasi Menjadikan Layangan Olahraga Prestasi, Berencana Gelar Kejuaraan Dunia

izak-Indra Zakaria • 2023-10-30 01:35:30
BERBURU PRESTASI: Salah satu tim layangan asal Jakarta yang tampil dalam kejurnas di Lapangan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Mereka juga mendukung layangan menjadi cabor di bawah KONI.
BERBURU PRESTASI: Salah satu tim layangan asal Jakarta yang tampil dalam kejurnas di Lapangan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Mereka juga mendukung layangan menjadi cabor di bawah KONI.

Meski ada FORMI, Perlasi lebih memilih membidik jadi anggota KONI seperti halnya sepak bola, bola voli, atau badminton. Targetnya pada PON 2028 jadi cabor ekshibisi.

 

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

 

TARIK...tarik…tarik! Seorang peserta berteriak kencang untuk memberikan aba-aba. Sebuah layangan pun mulai mengudara di atas Lapangan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Tapi, ia tak sendirian. Ada ratusan layangan lain yang juga diterbangkan untuk saling berebut gelar. Layangan memang selama ini lebih identik sebagai permainan tradisional. Tapi, ajang pada 18–20 Agustus lalu itu tak main-main: Kejuaraan Nasional Persatuan Layangan Aduan Seluruh Indonesia (Perlasi) 2023.

Ada 256 peserta dari 18 pengurus provinsi (pengprov) yang ambil bagian di acara bertema Layangan Aduan Menuju Olahraga Prestasi tersebut. Ya, inilah salah satu ikhtiar Perlasi untuk melangkah lebih jauh dengan menjadikan layangan aduan sebagai cabang olahraga (cabor) prestasi.

Meski ada Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI), Perlasi membidik menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Tak ubahnya sepak bola, bulu tangkis, bola voli, dan berbagai cabor populer lain.

“Jadi, saya ingin layangan aduan ini lebih dihargai. Tidak sekadar budaya, rekreasi, dan hiburan,” beber Ketua Perlasi Essa Muhammad kepada Jawa Pos.

Menurut dia, layangan aduan lebih olahraga ketimbang beberapa cabor yang sudah tergabung di dalam KONI. Contohnya, e-sport. Sebab, bermain layangan aduan lebih banyak mengeluarkan keringat karena dilakukan di luar ruangan.

“Dari pergerakannya, larinya butuh fisik, energi, taktik. Itu semua lebih olahraga kan,” ucapnya.

Selain itu, Essa mengaku sudah bertanya kepada banyak orang tua di beberapa wilayah di Indonesia. “Saya tanya kepada orang tua, lebih baik anaknya main layangan atau main gadget, semuanya lebih pilih main layangan,” sebutnya.

Sejak dibentuk pada 2020, Perlasi memiliki 18 pengprov. Untuk diketahui, syarat utama bisa masuk KONI adalah memiliki setengah dari total provinsi. KONI sekarang punya 38 KONI daerah, tapi dua belum dikukuhkan.

Selain itu, sudah terhelat dua edisi kejurnas, tahun ini dijuarai Jawa Timur. Perlasi juga menargetkan bisa menggelar kejuaraan dunia di tanah air.

Perlasi menargetkan bisa menjadi cabor ekshibisi di PON 2028. Tapi, untuk resmi mendaftar KONI, Perlasi menunggu tahun depan.

“Kami tunggu anggaran baru juga. Kan kalau masuk di tengah (tahun) tidak bisa karena sudah ada anggaran lainnya,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Essa, layangan aduan tersebar di beberapa negara. Mulai Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, hingga kawasan Asia lain. Misalnya, Pakistan dan Bangladesh. Sedangkan di Amerika, layangan aduan bisa dijumpai di Amerika Serikat, Brasil, Peru, Uruguay, dan Argentina. Untuk Eropa, ada di Belanda sampai Inggris.

Salah satu peraturan yang sudah diterapkan Perlasi tiap menggelar pertandingan adalah perhitungan poin. Misalnya, siapa yang bisa memutuskan layangan lawan bakal mendapat satu poin.

Sejauh ini, klub-klub layangan yang ada di Indonesia sudah begitu menjamur dan dikelola secara profesional. DKI menjadi yang terbanyak dengan lebih dari 100 tim. Sedangkan di Sumatera Selatan terdapat 75 klub.

Kalau masuk KONI, dia optimistis jumlahnya bakal semakin banyak. “Kita semua tahu mainan anak-anak itu kalau nggak sepak bola, kelereng, ya layangan. Cuma, layangan tidak terawat. Nah, kami ingin merawat dan kembangkan,” tuturnya.

Meski ada di berbagai penjuru dunia, Essa meyakini layangan aduan lahir di tanah air. Karena itu, semua negara menjadikan Indonesia sebagai barometer.

“Kalau layangan hias dan lainnya itu ada yang bilang dari China dan lain-lain. Tapi, kalau layangan aduan ini dari Jakarta tepatnya,” katanya.

Sementara itu, Manajer Tim Perkasa Surabaya Hendra sangat berharap layangan menjadi olahraga prestasi. Dengan menjadikan pemain layangan sebagai ”atlet”, dia meyakini bakal semakin masif anak-anak muda yang bermain layangan.

“Di klub kami anggota sudah cukup banyak. Kami berlatih rutin setiap Minggu,” ucapnya. Tarik…tarik…tarik! (*/c7/ttg/jpg/uno)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature