Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Target Inflasi Desember di Bawah 0,6 Persen

izak-Indra Zakaria • Rabu, 27 Desember 2023 - 18:00 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Jelang tutup tahun 2023, pemerintah terus berupaya menekan laju angka inflasi. Karena itu Badan Pusat Statistik (BPS) terus melakukan pemantuan harga kebutuhan pokok di akhir tahun 2023. Kepala BPS Tarakan Umar Riyadi mengungkapkan hingga memasuki akhir tahun angka inflasi di Kota Tarakan masih dalam kategori terkendali, lantaran angka inflasi akhir November 2023 sebesar 0,32 persen. Dikatakannya, inflasi yang terjadi di bulan November 2023 jauh cukup baik dibandingkan dengan inflasi pada November 2022. 

“Ini gambaran November saja terjadi inflasi sebesar 0,32 persen. Sementara kalau kita lihat progres dari Januari hingga November 2023, tercatat inflasi sebesar 1,98 persen,” sebut Umar. “Inflasi years on years ketika kita bandingkan antara November 2022 dengan November 2023 tercatat inflasi 2,58 persen.

Dalam artian, kalau kita cermati dari years on years ada potensi kalau kita misalnya pola inflasi pada Desember 2023 menyamai dengan Desember 2022, maka ending inflasi 2023 sebesar 2,58 persen,”ujarnya. Lanjut dikatakan, jika dibandingkan dengan harapan Bank Indonesia inflasi tahun 2023 sekitar 3 persen. 

Dikatakan, jika pemerintah dapat menekan inflasi tidak melebihi 0,6 persen di bulan Desember, maka secara komulatif data tahunan inflasi tahun 2023 menunjukan penurunan dari tahun 2022 lalu.

Karena itu, ia berharap di momen Natal dan Tahun Baru harga kebutuhan pokok tetap stabil sehingga daya beli masyarakat terjaga.

“Saya kira di sisa bulan Desember, kalau polanya sama dengan Desember tahun 2022, ada inflasi sekitar 0,6 persen. Oleh karena itu seandainya di Desember 2023 ini bisa kita kendalikan di bawah 0,6 persen, maka ending dari inflasi sepanjang  tahun 2023 bisa di bawah dari 2,58 persen.

Itu sebagai gambaran awal. Kalau sepanjang 2023 secara umum inflasi yang cukup tinggi terjadi di bulan April saat momen Ramadan dan Idul Fitri,”ungkapnya.

“Saya kira terasa terutama di angkutan udara itu tarifnya lumayan tinggi sehingga kemudian berdampak kepada peningkatan inflasi pada saat itu. Ditambah dengan beberapa komoditas makanan dan minuman dan tembakau yang ikut naik pada momen tersebut. Sementara pada bulan-bulan yang lain saya kira itu masih pada kondisi yang wajar dan terkendali,”katanya.

Ia tidak mempungkiri jika inflasi pasti akan bergejolak di hari besar keagamaan. Mengingat saat momentum hari besar keagamaan terjadi perubahan harga kebutuhan dari hari biasa. Selain itu, perubahan harga cenderung akan naik dan hal ini mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat.
“Setiap hari besar keagamaan pasti terjadi inflasi, saya kira ini sudah menjadi hukum pasar demand dan suplai dan ketika permintaan meningkat sementara posisi suplai terbatas maka ada potensi seperti itu.

Makanya berkaitan dengan hal ini perlu ada treatment ke depan dan saya kira kami akan menyajikan juga dalam kesempatan rapat-rapat penanganan inflasi daerah, melihat prilaku setiap komoditas,”ungkapnya.

“Pada bulan berapa dia naik, pada bulan berapa dia terkendali dan itu menjadi road map pengendalian inflasi 2024 nanti. Yang jelas tantangan terbesar pemerintah ialah mengendalikan inflasi saat hari-hari besar keagamaan dan gejolak itu pasti terjadi,”pungkasnya. (zac/ana)

 

 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria