UPT BP3MI Nunukan menampung setidaknya ada tiga orang eks deportan yang belum jelas arah dan tujuannya. Mereka tidak punya keluarga di Indonesia dan memilih untuk tinggal di Nunukan saja untuk bekerja.
Ironisnya seorang dari 3 yang ditampung, sudah hampir dipulangkan. Dari atas kapal, dia melompat ke laut. Beruntung aksinya dilihat nelayan dan cepat-cepat diselamatkan nelayan di wilayah perairan depan Jalan Lingkar, Nunukan Selatan. Dua eks deportan lainnya, ada Nasir (40) dan Rosalin (60).
Kepala UPT BP3MI Nunukan, Kombes PJ. Ginting mengaku, kejadian lompatnya eks deportan tersebut terjadi 15 menit setelah kapal lepas tali setelah berlabuh di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan.
“Baru saja kapal berangkat, sekitar 15 menitan, untuk masih sorean, dan pas dia lompat, dilihat nelayan di sekitar area dia lompat, langsung lah diselamatkan dan dibawa ke Polsek Pelabuhan,” ujar Ginting ketika diwawancarai, Selasa (2/1).
Ginting mengaku, kapal sejatinya tujuan Sulawesi Selatan dan eks deportan bernama Erlyn (37) tersebut diberangkatkan dengan tujuan Sulawesi. Dia melompat karena berubah pikiran dan enggan pulang, karena sudah tidak punya keluarga di Sulawesi.
“Dia awalnya ngangguk ngangguk saja sebelum dipulangkan, ternyata ketika di atas kapal berubah pikiran dia, malah lompat, untung masih selamat dan akhirnya kita tampung lagi di sini (balai),” tambah Ginting.
Erlyn sejatinya ingin kembali ke Malaysia, karena hanya tersisa keluarga di Malaysia. Sayangnya, karena dirinya terlibat kasus kriminal sampai dokumen, ia harus di blacklist dari pemerintah Malaysia dan belum bisa kembali ke Malaysia. Akhirnya Erlyn direncanakan akan dicarikan pekerjaan di Nunukan saja.
Sementara eks deportan lainnya yakni Nasir (40) disebutkan tidak punya arah dan tujuan juga tidak terdeteksi keluarganya. Dia sendiri juga masih linglung karena ditinggal istrinya di Malaysia. Meski begitu, dipekerjakan di pelataran taman BP3MI, Nasir terlihat fokus dan masih nyambung diajak komunikasi.
“Nasir ini kita bingung mau pulangkan kemana, karena keterangan suka ngelantur, belum pernah jelas kalau ditanyakan keberadaan keluarga, mungkin masih efek stres akibat kasus yang dialami,” kata Ginting.
Sementara Rosalin (60) merupakan eks deportan wanita yang dideportasi dari Batam dan dititipkan ke BP3MI. Rosalin sejatinya beralamatkan di Nunukan sebagai warga Toraja. Namun setelah keluarga besar kerukunan Toraja di Nunukan dikonfirmasi, tidak ada seorangpun yang mengenalnya.
Arah dan tujuannya dipulangkan pun masih menjadi tanda tanya, terlebih meski beralamat di Nunukan, dia tidak punya satu pun keluarga di Nunukan. “Sebenarnya dari Batam, karena alamatnya di Nunukan, jadinya dideportasi ke Nunukan dia. Ternyata tidak ada juga keluarga yang mengakui di Nunukan ini, makanya sementara kita tampung dahulu,” ungkap Ginting.
Selanjutnya, kepada ketiga eks deportan tersebut, rencananya akan dibantu penanganannya oleh instansi terkait yang terlibat seperti pihak dinas sosial dan dinas ketenagakerjaan di Nunukan, apakah nantinya mereka akan dipekerjakan kembali, atau ditelusuri dengan jelas asal muasalnya. (raw/jpg/lim)