Puluhan Kasus Pelecehan dan Kekerasan Anak di Kota Tarakan Pada Medio Januari-September 2024
Radar Tarakan• Kamis, 3 Oktober 2024 - 21:15 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual (JawaPos)
Maraknya kasus terhadap persoalan-persoalan anak menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah untuk menciptakan kota aman terhadap anak. Sehingga saat ini pemerintah terus berupaya menuntaskan persoalan anak di Kota Tarakan.
Kendati demikian, kasus kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahunnya, hal itu dibuktikan masih banyaknya kasus baru yang terjadi.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tarakan, Rinny Faulina menerangkan sejak Januari Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tarakan menerima 84 kasus kekerasan terhadap anak. Pengaduan terbanyak yang diterima DP3AP2KB adalah kasus pelecehan seksual.
“Di tahun 2024, kasus kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan kalau dibandingkan pada tahun 2023. Tahun kemarin kasus anak dan perempuan hanya 195. Untuk tahun 2024 per September sudah 165 kasus itu mayoritas memang dari pelecehan seksual kasus anak. Masih ada 3 bulan lagi, ini masih berpotensi bertambah," ujarnya, Rabu (2/10).
"Dari 165 kasus kekerasan dan pelecehan terhadap anak dan perempuan, 84 merupakan kekerasan terhadap anak. Sementara 81 kasus kekerasan terhadap wanita. Untuk pelecehan seksual pada anak mayoritas terjadi pada anak berusia 12-17 tahun. Ada juga yang dilakukan anggota orang terdekat," sambungnya.
Tidak semua kasus pelecehan disebabkan paksaan atau perilaku salah satu pihak, namun juga terdapat adanya unsur suka sama suka dalam artian berpacaran. Biasanya terjadi pada usiar remaja. Namun ada juga kasus pelecehan yang dilakukan atas dasar suka sama suka pada siswa sekolah dasar (SD).
Dalam hal ini pemerintah cukup dilematis lantaran pelaku dan korban masih berstatus anak di bawah umur.
"Tidak semua pelecehan perbuatan salah satu pihak, ada juga berpacaran. Paling miris ini ada anak SD yang sudah tahu berpacaran kemudian kedapatan berbuat hal yang tidak wajar. Dalam hal ini agak dilema karena baik laki-laki dan perempuan masih anak-anak. Sekarang ini anak-anak SD tidak seperti anak SD jaman dulu, anak sekarang lebih cepat dewasa mungkin karena faktor pengaruh media sosial, sinetron dan sebagainya, " terangnya.
"Sebenarnya orang tua menjadi benteng penting untuk mencegah tumbuh kembang anak. Karena saat ini di tengah berkembangnya tehknologi informasi. Orang tua juga harus lebih aware dan memberikan perhatian lebih terhadap anak. Selain itu orang tua bisa memberikan edukasi sedini mungkin mengajarkan pada anak, terkait sentuhan yang dibolehkan dan tidak diperbolehkan," jelasnya.
Dijelaskannya, peran orang tua amat penting untuk memfilter konsumsi anak terhadap media sosial saat ini.
Lanjutnya, selain itu penting menanamkan nilai moril serta nilai keimanan pada anak. Dengan begitu, dapat menanamkan rasa malu dan rasa takut pada anak jika melakukan hal-hal yang melanggar norma.
"Selain itu sangat penting menanamkan nilai moril dan akhlak agama pada anak. Karakter seorang anak ini bisa dibentuk dengan doktrin didikan yang kuat sejak kecil. Sebaliknya, kalau orang tua cuek dan kurang memberikan perhatian pada anak, maka anak ini akan mencari perhatian di luar rumah, salah satunya melakukan sesuatu yang bisa mendapatkan perhatian besar, meski itu berbentuk negatif," ungkapnya. (zac/lim)