TANJUNG SELOR – Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Utara menetapkan pembangunan pariwisata di wilayah perbatasan sebagai fokus utama program kerja sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas penurunan alokasi anggaran, sehingga pemerintah daerah dituntut untuk lebih cermat dalam menentukan skala prioritas. Destinasi di kawasan perbatasan dinilai menjadi peluang paling realistis karena sebagian besar titik wisatanya telah memiliki perencanaan yang matang dan aktivitas kunjungan yang sudah berjalan.
Kepala Dispar Kaltara, Njau Anau, menjelaskan bahwa arah kebijakan pariwisata tahun ini akan bertumpu pada tiga pilar utama yang saling berkaitan. Ketiganya meliputi pengembangan destinasi yang sudah ada, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, serta penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi para pelaku ekonomi kreatif. Dengan keterbatasan dana yang ada, pemerintah memilih untuk tidak membuka destinasi baru yang membutuhkan kajian panjang dan biaya besar, melainkan memperkuat ekosistem wisata yang sudah menunjukkan potensi ekonomi bagi masyarakat setempat.
Beberapa kawasan yang menjadi perhatian utama adalah Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan yang memiliki keunikan geografis karena berbatasan langsung dengan negara tetangga. Selain itu, kawasan Tanah Ulen dan desa-desa wisata di Kabupaten Malinau juga menjadi model pengembangan yang mengedepankan kearifan lokal di wilayah terpencil. Njau menegaskan bahwa fokus pada kawasan yang sudah berjalan ini akan jauh lebih efektif dalam memberikan dampak langsung dibandingkan memulai proyek dari nol di tengah situasi anggaran yang ketat.
Untuk menutupi celah kekurangan anggaran daerah, Dispar Kaltara secara aktif terus menjalin komunikasi dengan Pemerintah Pusat dan DPR RI. Upaya koordinasi ini dilakukan guna mendorong dukungan kebijakan maupun pendanaan dari kementerian terkait bagi pengembangan pariwisata di beranda depan Indonesia tersebut. Melalui kombinasi optimalisasi APBD dan dukungan pusat, pemerintah optimistis pariwisata perbatasan Kalimantan Utara tetap mampu bersaing dan menjadi motor penggerak ekonomi regional. (*)
Editor : Indra Zakaria