Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Perburuan Sampah di Kota Seribu Sungai: Banjarmasin Gandeng Daerah Tetangga Demi Proyek Energi Listrik

Redaksi Prokal • Minggu, 5 April 2026 - 07:15 WIB
Pemko Banjarmasin mengupayakan tambahan pasokan sampah untuk memenuhi kebutuhan minimal 500 ton per hari menjalankan program Pengelolaan Sampah Energi Listrik (PSEL).
Pemko Banjarmasin mengupayakan tambahan pasokan sampah untuk memenuhi kebutuhan minimal 500 ton per hari menjalankan program Pengelolaan Sampah Energi Listrik (PSEL).

PROKAL.CO- Ambisi Kota Banjarmasin untuk menyulap tumpukan sampah menjadi sumber energi listrik kini tengah menghadapi tantangan unik. Bukannya kelebihan beban, program Pengelolaan Sampah Energi Listrik (PSEL) di kota ini justru terancam kekurangan "bahan baku". Untuk menjalankan fasilitas pembangkit tersebut secara optimal, diperlukan pasokan minimal 500 ton sampah setiap harinya, sementara produksi sampah domestik Banjarmasin saat ini masih menyisakan selisih kekurangan sekitar 9 ton.

Kondisi ini memaksa Pemerintah Kota Banjarmasin untuk melirik potensi limbah dari wilayah tetangga. Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan Kabupaten Banjar dan Barito Kuala (Batola) untuk menutup celah kekurangan tersebut. Langkah kolaborasi lintas daerah ini bukan sekadar strategi lokal, melainkan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat agar penanganan sampah di Kalimantan Selatan dapat terintegrasi dan memberikan nilai tambah berupa energi terbarukan.

Selain urusan logistik sampah, penentuan lokasi fasilitas PSEL juga menjadi agenda krusial yang tengah dimatangkan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin telah mengusulkan dua titik strategis, yakni kawasan TPAS Basirih dan lahan di sekitar RSJ Sambang Lihum. Banjarmasin merasa optimistis akan terpilih sebagai pusat pengolahan ini mengingat letak geografisnya yang dekat dengan jalur sungai serta volume produksi sampah harian yang secara konsisten paling tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Menariknya, meskipun sedang "berburu" sampah untuk kebutuhan energi, pemerintah kota tetap berkomitmen pada program pemilahan. Skema PSEL nantinya akan lebih difokuskan pada pemanfaatan sampah non-organik, sementara sampah organik tetap diarahkan untuk pengolahan kompos dan pakan maggot melalui fasilitas yang sudah tersedia. Kedepannya, kewajiban pemilahan sampah akan diperketat merambah sektor perhotelan dan perusahaan, guna memastikan transisi Banjarmasin menuju kota yang mandiri energi dan bersih lingkungan dapat berjalan efektif. (*)

Editor : Indra Zakaria
#sampah #banjarmasin