Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Transisi di Bulan April dan Mei, Kotim Bersiap Hadapi Kemarau Panjang hingga 120 Hari

Redaksi Prokal • 2026-04-02 10:15:06
Awan hitam di atas langit Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menandakan akan terjadi hujan lebat beserta penyerta cuaca lainnya. (Oes/ Radar Sampit)
Awan hitam di atas langit Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menandakan akan terjadi hujan lebat beserta penyerta cuaca lainnya. (Oes/ Radar Sampit)

 

SAMPIT – Di saat sebagian besar wilayah Indonesia mulai merasakan embusan angin musim peralihan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) rupanya masih setia didekap musim penghujan. Namun, kondisi ini diprediksi tidak akan bertahan lama karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal bahwa gerbang menuju musim kemarau akan segera terbuka dalam waktu dekat.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa meskipun intensitas hujan masih cukup tinggi di Sampit dan sekitarnya, fase peralihan atau pancaroba diprakirakan akan mulai menyapa Kotim pada rentang April hingga Mei 2026. Menurutnya, meskipun sebagian besar daerah di Indonesia sudah masuk masa transisi, Kotim saat ini secara teknis masih berada dalam musim hujan dengan peralihan yang baru akan terasa pada satu hingga dua bulan ke depan.

Mulyono turut mengingatkan warga agar tidak lengah, sebab masa transisi justru sering kali menjadi periode yang lebih berbahaya dibandingkan puncak musim hujan itu sendiri. Cuaca yang tidak menentu menjadi ciri khas utama fase ini, di mana hujan deras bisa turun secara tiba-tiba dengan disertai angin kencang yang berpotensi membahayakan masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan.

Hal yang paling menjadi sorotan dalam prediksi tahun ini adalah durasi musim kemarau yang dinilai tidak biasa. BMKG mencatat adanya anomali di mana musim kering di Kotim yang biasanya berlangsung sekitar 60 hari atau dua bulan, pada tahun 2026 ini diperkirakan akan berlangsung jauh lebih lama dan melelahkan. Musim kemarau yang diprediksi mulai stabil pada Mei hingga Juni mendatang diperkirakan akan membentang selama 100 hingga 120 hari.

Durasi yang mencapai hampir empat bulan ini menuntut persiapan ekstra, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat luas. Tantangan besar seperti ketersediaan air bersih hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian utama akibat periode kering yang panjang tersebut.

Mengingat pola cuaca yang sangat dinamis, BMKG mengimbau warga Kotim untuk rutin memantau informasi cuaca resmi. Antisipasi dini dianggap sangat krusial agar perubahan cuaca yang mendadak tidak menghambat produktivitas maupun mengancam keselamatan. Warga diharapkan mulai menyiapkan fisik menghadapi cuaca panas yang lebih panjang dan tetap waspada sebelum hujan benar-benar pergi dari wilayah Kotim.

Editor : Indra Zakaria
#sampit