Kepungan 41 Titik Panas Membara di Kotim, Status Tanggap Darurat Karhutla Mulai Diberlakukan

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 09:39 WIB
Karhutla di Kalteng.
Karhutla di Kalteng.

SAMPIT — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berada pada level yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu 24 jam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 41 hotspot atau titik panas yang tersebar di enam kecamatan, sementara minimnya curah hujan terus mempertinggi risiko persebaran api.

Berdasarkan pembaruan data BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, sebaran titik panas tersebut terpantau di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Telawang, Parenggean, Seranau, hingga Teluk Sampit. Wilayah Mentaya Hilir Utara mencatatkan jumlah hotspot terbanyak dengan 16 titik, disusul Mentawa Baru Ketapang sebanyak 12 titik, dan Telawang sebanyak 8 titik.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengonfirmasi bahwa seluruh titik panas yang terdeteksi lewat satelit SNPP dan NOAA20 memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

“Sebaran terbanyak berada di Mentaya Hilir Utara dengan 16 hotspot, disusul Mentawa Baru Ketapang sebanyak 12 hotspot dan Telawang sebanyak 8 hotspot,” jelas Mulyono Leo Nardo saat memberikan rincian data.

Titik panas tersebut terpantau membakar sejumlah area strategis, seperti Desa Bagendang Tengah, Kelurahan Ketapang, Desa Eka Bahurui, hingga wilayah gambut di Desa Biru Maju. Lonjakan titik panas ini bertepatan dengan keputusan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur yang resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan Tahun 2026 selama 28 hari, terhitung sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.

Penetapan status darurat ini mengacu pada Peraturan Bupati Kotim Nomor 9 Tahun 2026. Keputusan tersebut didasarkan pada tiga indikator utama, yakni frekuensi kejadian kebakaran harian, penurunan tinggi muka air tanah selama tiga pekan terakhir, serta grafik peningkatan hotspot. Selain itu, faktor pendukung seperti ancaman lonjakan kasus ISPA, kekeringan sumber air bersih, hingga penurunan kualitas udara turut menjadi pertimbangan mendesak.

Kondisi diperparah oleh prakiraan cuaca BMKG yang menunjukkan bahwa peluang terjadinya hujan di wilayah Kotim masih sangat minim. Analisis parameter cuaca menempatkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah, khususnya Kotim, dalam kategori lahan "Sangat Mudah Terbakar".

Dengan kombinasi cuaca terik, lahan gambut yang mengering, serta minimnya potensi hujan, risiko meluasnya karhutla menjadi ancaman nyata. Pihak Pemkab Kotim bersama Satgas Gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan para relawan kini terus melipatgandakan patroli serta pemadaman darat guna mencegah terjadinya kebakaran baru di wilayah tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
karhutla