Tradisi, kerajinan, musik, hingga olahraga adat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Sungai Bawang, Kalimantan Timur. Di tengah arus modernisasi, kekayaan budaya Dayak Kenyah Lepoq Jalan di desa ini terus dijaga sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata berbasis masyarakat. Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mendorong pelestarian budaya sekaligus pengembangan destinasi wisata berbasis kearifan lokal.
Lantunan musik tradisional Dayak terdengar syahdu, mengalun meresap ke telinga. Irama demi irama mengiringi setiap gerakan tari. Kompak menyatu dengan hentakan kaki dan ayunan tubuh para penari yang enerjik. Penari pria, ada Mandau di tangan kanan. Tameng khas Dayak di tangan kiri. Rico (23) bergerak enerjik mengikuti irama musik. Sesekali ia dan rekannya berteriak memekikkan suaranya. Suara itu sebagai tanda semangat, keberanian, dan luapan kegemberiaan. Menghentakkan kaki dan mengayunkan tubuh bersama teman-temannya. Di tengah kemeriahan Mecaq Undat, ia membawakan tarian adat Dayak yang sudah akrab dengannya sejak kecil.
Desa Sungai Bawang memiliki karakter budaya yang kuat. Mayoritas penduduknya merupakan Dayak Kenyah Lepoq Jalan, keturunan ketiga sejak migrasi dari Apo Kayan pada 1970-an.
Berbagai tradisi lokal masih tumbuh dan melibatkan masyarakat lintas usia serta gender. Mulai dari kerajinan, kuliner, permainan tradisional, musik, tari, hingga cara bercocok tanam yang diwariskan turun-temurun.
Pada 27 September 2026 lalu, Desa Sungai Bawang menggelar pesta adat Mecaq Undat. Suasananya begitu meriah. Ribuan orang hadir. Desa ini terletak satu jam dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Secara teritorial, desa ini masuk di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kepala Desa Sungai Bawang, Martinus mengatakan, Mecaq Undat merupakan pesta adat dan upacara syukur atas hasil panen padi yang dirayakan turun-temurun oleh masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan. Rangkaian acara Mecaq Undat di Desa Budaya Sungai Bawang, Kutai Kartanegara, diisi dengan penyambutan tamu secara adat menggunakan perahu Alut Adang, pemukulan gong sebagai tanda pembukaan, serta prosesi menumbuk beras menjadi tepung untuk diolah menjadi Undat. Perayaan juga dimeriahkan pertunjukan tari tradisional Dayak Kenyah, seperti Datun Julut, Nyelama Sakai, dan Hudoq, serta berbagai permainan tradisional, di antaranya lomba menyumpit. “Seluruh rangkaian kegiatan ini momentum syukur atas hasil panen sekaligus mempererat kebersamaan dan melestarikan adat budaya leluhur,” ujar Martinus.
Di antara acara itu, ada penampilan tari tradisional Dayak yang memukau. Rico menjadi salah satu generasi muda yang memilih menjaga budaya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan anak muda masa kini yang lebih asyik layar ponsel ketimbang di panggung kesenian, Rico tetap menyisihkan waktu untuk menari. Baginya, tarian tradisional bukan sekadar pertunjukan seni.
Rico mengatakan, sejak kecil ia akrab dengan gerakan-gerakan tari yang tumbuh dan diwariskan secara turun-temurun di desa itu.
Lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu faktor yang membentuk kecintaan terhadap seni tari tradisional. Di desa tersebut, menari bukan hanya aktivitas seni, tetapi juga bagian dari tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
“Karena sudah tradisi kita dari kecil. Saya terpanggil untuk harus melestarikan budaya nenek moyang,” ujar Rico, saat ditemui usai acara Mecaq Undat, 27 Agustus 2026 lalu.
Bagi masyarakat setempat, khususnya laki-laki, mengikuti tarian tradisional merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya desa.
Tradisi itu terus hidup di tengah generasi muda. Anak-anak hingga remaja, termasuk mereka yang masih duduk di bangku SMP, SMA, maupun kuliah, menjadi bagian dari kegiatan seni tari di desa tersebut.
Rico menyebut, hampir seluruh anak muda di lingkungan tempat tinggalnya telah mengenal dan mampu menarikan tarian tradisional sejak kecil.
Kebiasaan itu membuat seni tari tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu. Sebaliknya, tarian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di usia yang masih muda, Rico menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisinya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Di satu sisi, ia menjalani pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup masa kini. Namun, di sisi lain, ia punya panggilan hati mempertahankan keterlibatannya dalam seni budaya yang telah dikenalnya sejak kecil.
Kecintaan terhadap tari tradisional tidak membuat Rico hanya menari di lingkungan kampung. Bersama kelompok tari di Desa Sungai Bawang, ia juga pernah tampil dalam berbagai kegiatan di luar desa, termasuk di Balikpapan.
Kelompok tari tersebut kerap mendapat undangan untuk mengisi acara, mulai dari kegiatan peresmian hingga berbagai agenda lainnya.
Dalam sebulan, kelompok tari itu bisa tampil sekitar satu kali di luar desa. Tergantung pada undangan yang diterima.
Bagi Rico, tampil di berbagai acara bukan sekadar memenuhi undangan. “Ada kebanggaan tersendiri ketika tarian yang diwariskan oleh leluhur dapat diperkenalkan kepada masyarakat di luar lingkungan desa,: kata pemuda yang bekerja di sektor pertambangan ini.
Kecintaan terhadap budaya juga tumbuh dalam diri rekannya, Aldo Fernandez. Pemuda yang telah mengenal seni tari sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar itu memilih tetap aktif tampil menari hingga kini bersama Rico.
Bagi Aldo, melestarikan budaya bukan semata-mata karena tuntutan orang tua atau kewajiban keluarga. Keinginan itu tumbuh dari dirinya sendiri. Ditambah lingkungan pergaulan yang masih akrab dengan tradisi. “Dari diri sendiri. Mau ikut, semangat menjaga budaya leluhur,” ujarnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, Aldo tetap berusaha menjaga keseimbangan antara kehidupan anak muda dengan kecintaannya terhadap budaya tradisional.
Instagram dan TikTok menjadi bagian dari kesehariannya. Dari platform media social itu, ia kerap mengunggah penampilan tari melalui akun Instagram pribadinya. “Responnya macam-macam. Kadang dapat tanggapan ramai. Kadang juga biasa saja. Tapi unggahan tersebut terkadang menarik perhatian teman-teman yang berada di luar desa. Ada pula yang mengajaknya untuk tampil atau mengikuti kegiatan tertentu,” ujar pemuda berusia 18 tahun ini.
Namun, bagi Aldo, menjaga budaya tidak cukup hanya dengan mengunggah video atau foto di media sosial.
Latihan menjadi bagian penting untuk memastikan tradisi itu tetap hidup. Ia bersama teman-temannya terus mengikuti kegiatan latihan tari yang menjadi bagian dari aktivitas budaya di Desa Sungai Bawang.
Keterlibatan Aldo dalam pelestarian budaya tidak berhenti pada seni tari. Ia juga mengikuti sejumlah kegiatan tradisional lainnya, seperti menyumpit. Kegiatan menyumpit masih rutin dilakukan setiap Sabtu. Pesertanya berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Bagi Aldo, latihan dan keterlibatan langsung menjadi cara untuk menjaga budaya agar tidak sekadar menjadi cerita tentang masa lalu. “Faktor lingkungan pengaruh penting juga ya. Saya tak memungkiri, di tengah perubahan zaman sekarang ini. Tapi, saya dan teman-temannya tetap memilih untuk terus mempelajari dan menjalankan tradisi yang diwariskan,” kata Aldo.
Perempuan-Perempuan yang Menjaga Gerakan Leluhur
Di balik gerakan tari yang ditampilkan generasi muda Desa Budaya Sungai Bawang, ada tangan-tangan perempuan yang setia menjaga warisan leluhur itu.
Mereka bukan hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memastikan tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sejak 2014, dua perempuan di desa tersebut telah mendedikasikan diri melatih anak-anak menari. Mereka mengajarkan berbagai tarian tradisional Dayak yang diwariskan secara turun-temurun.
Usia tidak menjadi penghalang bagi para pelatih untuk terus mengabdikan diri. Bahkan, sejumlah penari senior yang masih mempertahankan tradisi berusia 68 hingga 70 tahun.
Di sisi lain, generasi muda mulai mengambil peran. Anak-anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar terlihat antusias mengikuti latihan.
Namun, regenerasi tidak selalu berjalan mudah. Para pemuda yang sebelumnya aktif menari sejak kecil kini sebagian telah melanjutkan Pendidikan atau kehidupan di luar desa. Kesibukan itu membuat mereka sulit berkumpul dan mengikuti latihan secara rutin. “Kalau untuk anak-anak yang masih SD, mereka masih semangat karena masih tinggal di kampung ini. Kendalanya, banyak yang sekolah di luar desa sehingga susah berkumpul,” ujar Ibu Hepi, salah seorang pelatih.
Untuk menjaga semangat anak-anak, latihan dijadwalkan setiap Minggu. Kegiatan tersebut juga didukung dengan pemberian makanan ringan dan minuman bagi peserta.
Bagi para pelatih, mengajarkan tari tradisional bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Ada tanggung jawab untuk memperkenalkan budaya leluhur kepada generasi penerus.
Meski honorarium yang diterima tak seberapa. Hanya sekitar Rp 250 ribu per bulan dari desa, semangat pengajar ini tidak surut. “Motivasi kami karena ingin mengembangkan budaya dan memperkenalkan budaya kita sejak dini kepada anak-anak. Itu saja. Jangan sampai luntur apalagi punah,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan, para pelatih tetap berupaya menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada anak-anak.
Mereka ingin generasi muda tidak hanya mampu menari, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya yang diwariskan oleh orang tua dan nenek moyang.
“Ketika mereka masih kecil, kami memperdengarkan musik dan tarian kita. Mereka juga selalu hadir dalam kegiatan gotong royong supaya budaya-budaya kita tetap terjaga,” ujar Ibu Hepi.
Keinginan mereka sederhana saja. Ia ingin generasi muda tidak hanya mampu menari, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya yang diwariskan. “Dengan cara itu, seni tari yang selama ini hidup di lingkungan masyarakat setempat memiliki kesempatan untuk dikenal oleh khalayak yang lebih luas,” katanya.
Desa Budaya Sungai Bawang memiliki sejumlah tarian tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Dayak setempat. Di antaranya Tari Datun Meno, Ajai, Pinta Pai, Puyan Umat, dan Udo Kiba.
Setiap tarian memiliki karakter dan nilai budaya tersendiri. Di antara tarian tersebut, Udo Kiba menjadi salah satu yang relatif jarang ditampilkan karena hanya dimainkan pada kesempatan tertentu.
Para pelatih juga mengenalkan berbagai kreasi tari yang menggabungkan gerakan tradisional dengan unsur lain.
Namun, untuk tarian yang dianggap sebagai pakem atau bentuk asli warisan leluhur, mereka tetap berupaya mempertahankan gerakan sesuai tradisi.
Bagi mereka, pengembangan seni tidak berarti menghilangkan identitas budaya yang telah diwariskan.
Berharap Pengunjung Datang ke Lamin Adat
Di balik semangat melatih anak-anak, tersimpan harapan agar Desa Budaya Sungai Bawang semakin dikenal sebagai tujuan wisata budaya.
Selama ini, kelompok tari telah beberapa kali mendapat undangan untuk tampil di luar desa. Mereka pernah memenuhi undangan perusahaan, acara pernikahan, hingga kegiatan festival di Yogyakarta. Namun, para pelatih memiliki keinginan yang lebih besar.
Mereka ingin masyarakat dari luar daerah datang langsung ke Desa Sungai Bawang. Menjadi magnet destinasi di setiap akhir pekan. Orang datang menyaksikan tarian tradisional di lamin adat dan mengenal kehidupan budaya masyarakat Dayak. “Kami ingin bukan hanya kami yang datang ke tempat orang. Kami rindu ada yang datang ke lamin ini, melihat tarian kami,” tuturnya.
Upaya untuk membuka kunjungan wisata sebenarnya pernah dilakukan. Pernah selama sekitar dua hingga tiga bulan, kelompok tari mencoba menerima kunjungan wisatawan secara rutin pada hari Minggu. Namun rupanya jumlah pengunjung belum sesuai harapan. Yang datang hanya hitungan jari.
Sementara itu, persiapan pertunjukan membutuhkan waktu dan tenaga. Anak-anak harus mengenakan kostum tradisional dan merias wajah sebelum tampil. “Dengan tiket masuk Rp 15 ribu per orang, pendapatan yang diperoleh tak sesuai dengan persiapan dan jumlah yang tampil. Belum persiapan lainnya,” katanya.
Ketika pengunjung yang datang sangat sedikit, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelatih untuk menjaga semangat anak-anak.
Meski begitu, mereka berusaha memberikan pemahaman bahwa membangun sesuatu tidak selalu langsung mendapatkan hasil yang besar.
Para pelatih berharap dukungan promosi dan kunjungan wisata dapat terus dikembangkan agar pertunjukan budaya di Desa Sungai Bawang memiliki penonton yang lebih luas.
PHM Hadir Merawat Energi dan Semangat Budaya
Head of Communication, Relations, and CSR Pertamina Hulu Mahakam, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan, keberadaan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat menjadi modal penting dalam pengembangan Desa Budaya Sungai Bawang.
Selain memiliki kekayaan budaya, desa ini juga didukung lokasi yang strategis. Jaraknya sekitar lima kilometer dari Bandara APT Pranoto Samarinda, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya. ““PHM hadir untuk membantu melestarikan budaya, termasuk melalui pelatihan bagi para pengrajin dan pengembangan generasi mudanya,” kata Achmad.
Salah satu tradisi yang masih rutin dilaksanakan masyarakat adalah Festival Mecaq Undat. Festival ini merupakan perayaan adat yang berkaitan dengan pesta panen dan menjadi ruang berkumpulnya masyarakat untuk merawat kebersamaan sekaligus melestarikan warisan budaya.
Selain itu, olahraga tradisional seperti menyumpit juga menjadi bagian dari aktivitas budaya yang terus dipertahankan.
Kekayaan budaya inilah yang menjadi fondasi bagi pengembangan Desa Budaya Sungai Bawang. Melalui program pelestarian budaya, PHM mendorong agar potensi yang dimiliki masyarakat dapat dikembangkan secara bertahap, tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai adat.
Roadmap program pelestarian budaya Dayak yang dikembangkan PHM dimulai sejak 2018. Tahap awal difokuskan pada penguatan identitas dan pelestarian aset budaya.
Sejumlah kegiatan dilakukan, antara lain pelatihan kerajinan anyaman, pembangunan gapura Lamin Adat dan gapura desa, pengadaan kostum tari serta alat musik tradisional, hingga penyediaan mebel Lamin Adat.
Pada tahap ini, penguatan budaya juga dilakukan melalui assessment lingkungan, penyediaan bibit pohon penunjang bahan kerajinan, serta studi banding dan orientasi wisata.
Memasuki 2021 hingga 2022, program berlanjut pada penguatan kapasitas masyarakat dan nilai ekonomi produk budaya.
Pelatihan bagi perajin dilakukan dengan memperkenalkan pewarna alam, diversifikasi produk, serta pemasaran digital. Masyarakat juga didorong berpartisipasi dalam pameran InaCraft dan mendapat dukungan bagi kelompok wanita tani.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah menghubungkan pelestarian budaya dengan peluang ekonomi masyarakat.
Pada periode 2022 hingga 2024, pengembangan diarahkan pada penataan destinasi dan infrastruktur pendukung.
Bantuan penerangan jalan umum, penyelenggaraan Festival Mecaq Undat, pemetaan potensi tahap kedua, serta fasilitas pendukung wisata seperti toilet dan sarana prasarana Lamin Adat menjadi bagian dari program.
Tahap berikutnya adalah aktivasi pasar dan promosi destinasi. Pada 2025, promosi dilakukan melalui baliho, pelatihan pembuatan konten media sosial, serta promosi budaya melalui Festival Mecaq Undat dan kegiatan olahraga tradisional Ngeleput.
Pengembangan kemudian diarahkan pada diversifikasi produk wisata pada 2026.
Salah satu rencana yang tercantum dalam roadmap adalah praktik open trip sebagai produk wisata alternatif. Dukungan terhadap seragam tari, kegiatan promosi budaya, serta pelestarian olahraga tradisional Ngeleput dan gasing juga menjadi bagian dari pengembangan tersebut.
Dengan tahapan ini, Desa Budaya Sungai Bawang diharapkan memiliki daya tarik wisata yang tidak hanya bertumpu pada satu kegiatan, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang lebih beragam.
Budaya sebagai Identitas dan Peluang Ekonomi
Pengembangan Desa Budaya Sungai Bawang menjadi contoh bagaimana pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas masyarakat.
Kerajinan, pertunjukan seni, kuliner, hingga permainan tradisional tidak hanya menjadi penanda identitas masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk wisata.
Di tengah perubahan zaman, keberlanjutan budaya sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku tradisi.
Melalui program pelestarian budaya, PHM mendorong agar warisan leluhur tetap hidup, dikenal lebih luas, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Bagi Desa Sungai Bawang, pengembangan wisata budaya bukan semata-mata tentang menarik kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi jalan untuk menjaga tradisi tetap tumbuh di tengah masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi mendatang.
Di tengah perjuangan masyarakat menjaga tradisi, dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting untuk memastikan budaya tetap hidup dan berkembang.
Salah satunya melalui keterlibatan Program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang mendukung pelestarian budaya masyarakat Dayak di Desa Budaya Sungai Bawang.
Bagi PHM, pelestarian budaya merupakan bagian dari kepedulian terhadap masyarakat di wilayah kerja perusahaan. Kehadiran program ini tidak hanya diarahkan untuk menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat potensi masyarakat agar budaya dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Sejak 2018, PHM mendukung berbagai upaya pengembangan budaya di Desa Sungai Bawang. Program tersebut dilakukan melalui pendampingan, dukungan terhadap regenerasi pengrajin, pengembangan generasi muda, serta upaya memperluas promosi kesenian tradisional.
Head of Communication, Relations, and CSR Pertamina Hulu Mahakam, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Menurutnya, tarian tradisional dan berbagai kesenian yang diwariskan masyarakat Dayak memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
“Harapannya, tarian-tarian ini bukan hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi pendorong ekonomi bagi masyarakat Desa Sungai Bawang,” ujarnya.
PHM berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk pengelola open trip atau perjalanan wisata, untuk mengembangkan potensi pariwisata di Desa Budaya Sungai Bawang.
Melalui pengembangan wisata, kesenian tradisional diharapkan dapat memperoleh ruang pertunjukan yang lebih luas. Kehadiran pengunjung juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Upaya tersebut turut dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Selain mendukung pelestarian seni tari, PHM juga memberikan perhatian terhadap keberlanjutan kerajinan tradisional masyarakat.
Achmad mengungkapkan, sebelum program pendampingan dilakukan, regenerasi pengrajin di Desa Budaya Sungai Bawang masih menjadi tantangan.
Keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun membutuhkan generasi penerus agar tidak berhenti pada kelompok masyarakat tertentu.
PHM kemudian memberikan dukungan melalui pelatihan bagi para pengrajin sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda.
Perusahaan juga berupaya memperluas ruang promosi bagi hasil kerajinan masyarakat, salah satunya dengan mengajak para pengrajin berpartisipasi dalam pameran Inacraft.
Selain itu, studi banding dilakukan untuk membuka wawasan masyarakat mengenai pengembangan kerajinan dan kesenian tradisional.
Dengan berbagai upaya tersebut, kerajinan lokal diharapkan tidak hanya bertahan sebagai produk budaya, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Keterlibatan PHM juga mencakup dukungan terhadap renovasi lamin adat yang menjadi salah satu ruang penting bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai kegiatan budaya.
Bagi Rico, dukungan tersebut menjadi sesuatu yang membahagiakan. Ia menilai kehadiran PHM turut membantu masyarakat menjaga budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. “Senang sih, senang bisa membantu renovasi lamin adat ini,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama agar pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada semangat masyarakat, tetapi juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Tantangan pelestarian budaya tidak berhenti pada bagaimana mengembangkan potensi ekonomi.
Keberlanjutan program juga menjadi perhatian, terutama ketika pendampingan dari perusahaan suatu saat berakhir.
PHM menyadari bahwa keberhasilan pelestarian budaya tidak dapat bergantung selamanya pada kehadiran perusahaan.
Karena itu, program yang dijalankan diharapkan dapat meninggalkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, pemerintah, dan para pemangku kepentingan yang terlibat.
“Harapannya, program yang kami jalankan bersama masyarakat, pemerintah, dan para pemangku kepentingan ini dapat terus dimanfaatkan oleh penduduk Desa Sungai Bawang, sehingga pelestarian budaya tetap berjalan secara berkelanjutan,” ujar Achmad.
Bagi para pelatih, menjaga tari tradisional bukan sekadar mempertahankan kesenian. Ada identitas masyarakat yang ikut dipertaruhkan.
Desa Sungai Bawang memiliki kekhasan karena budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Keberadaan kesenian tradisional menjadi bagian penting yang membentuk identitas desa tersebut.
Karena itu, mereka merasa kehilangan jika suatu saat generasi penerus tidak lagi mengenal atau menjalankan tradisi leluhur.
“Kalau budaya ini sampai punah, kami sangat menyayangkan. Desa kami ini menjadi desa budaya karena memiliki budaya. Kalau budaya itu hilang, tentu sangat disayangkan,” ujar salah seorang pelatih.
Harapan itu terus ditanamkan kepada anak-anak yang mengikuti latihan tari. Di tengah perubahan zaman, para pelatih ingin memastikan bahwa generasi muda tetap mengenal akar budaya mereka.
Sebab, selama anak-anak masih mau menari, selama musik tradisional masih terdengar, dan selama masyarakat masih menjaga gotong royong, warisan leluhur Desa Sungai Bawang akan memiliki kesempatan untuk terus hidup.
Rico dan Aldo menjadi bagian dari generasi yang meneruskan tradisi itu. Di tengah kesibukan bekerja, belajar, dan berselancar di dunia digital, mereka tetap memilih untuk menari.
Editor : Wawan