Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kenali Penyakit Mastitis, Ikatan Dokter Indonesia Memberikan Informasi Pengobatan yang Tepat

ADV • Rabu, 27 November 2024 - 18:13 WIB

(Foto oleh PonyWang dari iStockphoto)
(Foto oleh PonyWang dari iStockphoto)

SALAH satu penyakit yang sering dialami oleh wanita adalah mastitis. Mastitis adalah penyakit peradangan pada jaringan payudara yang bisa terjadi pada wanita menyusui dan wanita yang tidak menyusu. Penyakit ini dapat terjadi karena saluran susu yang terhalang, atau bakteri masuk ke payudara. Kondisi ini biasanya terjadi pada masa tiga bulan pertama menyusui.

IDI merupakan singkatan dari Ikatan Dokter Indonesia. IDI Mataram dengan alamat website idimataram.org  merupakan cabang dari organisasi profesi kedokteran yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah Nusa Tenggara Barat. IDI Mataram berkolaborasi dengan IDI Dompu dengan alamat idiwoha.org menjelaskan bahwa mastitis terjadi akibat tersumbatnya saluran susu, yang dapat terjadi ketika payudara tidak dikosongkan dengan baik.

IDI Borong dengan alamat website idikotadompu.org  bekerja sama dengan IDI Gerung dengan alamat website idigerung.org  telah berupaya dan berusaha untuk mengedukasi serta memberikan konsultasi gratis untuk mengobati pria atau wanita yang sedang mengalami gangguan kesehatan.

IDI Lombok Timur dengan alamat website idipraya.org  untuk melakukan penelitian lanjutan terkait masalah penyakit mastitis serta pengobatan yang tepat bagi penderitanya.

 

Apa saja penyebab terjadinya penyakit mastitis?

(Foto oleh korawat thatinchan dari iStockphoto)
(Foto oleh korawat thatinchan dari iStockphoto)

 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjelaskan mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang sering terjadi pada ibu menyusui, tetapi juga dapat dialami oleh wanita yang tidak menyusui atau pria. Berikut adalah penyebab terjadinya mastitis: meliputi:

  1. Terjadi infeksi karena bakteri

Salah satu faktor terjadinya mastitis adalah infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae dapat menginfeksi payudara melalui luka pada puting atau cedera. Bakteri ini dapat berasal dari mulut bayi atau permukaan kulit payudara.

  1. Saluran ASI yang tersumbat

Penyebab lainnya adalah saluran ASI yang tersumbat. Hal ini dapat terjadi jika payudara tidak dikosongkan dengan baik, misalnya karena posisi menyusui yang tidak tepat, bayi tidak menyusu cukup, atau pengeluaran ASI yang tidak teratur

  1. Luka pada puting susu

Luka atau iritasi pada puting susu berbahaya bagi kesehatan. Luka atau retakan pada puting payudara dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri penyebab infeksi.

  1. Penggunaan bra yang terlalu ketat

Faktor lainnya seperti penggunaan bra terlalu ketat juga dapat berdampak buruk. Bra yang terlalu ketat dapat menyebabkan tekanan pada payudara dan mengganggu aliran ASI, meningkatkan risiko mastitis.

  1. Kelelahan dan kurang gizi

Faktor terakhir penyebab mastitis adalah kelelahan dan kurang istirahat yang cukup. Selain itu, nutrisi yang tidak memadai dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan meningkatkan risiko infeksi.

Apa saja obat yang direkomendasikan untuk penyakit mastitis?

(Foto oleh thaiview dari iStockphoto)
(Foto oleh thaiview dari iStockphoto)

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah merangkum obat yang direkomendasikan untuk mengobati mastitis umumnya meliputi analgesik untuk meredakan nyeri dan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Berikut adalah rincian obat yang sering digunakan meliputi:

  1. Paracetamol

Obat pertama yang dapat mengurangi rasa sakit karena mastitis adalah paracetamol. Dosis penggunaanya adalah 500-1000 mg, dapat diberikan setiap 6 jam, dengan dosis maksimal 4 gram per hari. Paracetamol aman digunakan selama menyusui dan membantu meredakan nyeri serta demam.

  1. Cephalexin

Cefalexin adalah salah satu obat yang dapat membantu mengobati infeksi bakteri S. aureus sebagai penyebab mastitis. Cephalexin biasanya diresepkan dokter untuk kasus infeksi saluran susu yang tidak terlalu parah tanpa adanya luka (abses). Anda tak perlu khawatir karena cefalexin (Keflex) terbilang aman untuk digunakan selama masa menyusui.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai pengobatan untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi individu. Jika gejala tidak membaik atau semakin parah, segera cari perawatan medis lebih lanjut. (*)

Editor : Erwin D. Nugroho
#Ikatan Dokter Indonesia (IDI)