PROKAL.CO— Pemandangan seorang pria yang mengalami penambahan berat badan secara signifikan setelah menikah kerap dianggap sebagai tanda hidup bahagia atau happy fat. Namun, dari sudut pandang psikologi dan fisiologi, perubahan fisik tersebut bukanlah sekadar simbol kepuasan hidup, melainkan hasil dari pergeseran gaya hidup, respons hormonal, serta dinamika psikologis dalam hubungan pernikahan.
Sejumlah riset dan analisis ahli menunjukkan ada beberapa alasan utama yang menyebabkan pria lebih rentan mengalami kenaikan berat badan setelah membina rumah tangga:
Penurunan Kadar Hormon Testosteron
Secara biologis, pria yang telah memasuki fase pernikahan stabil—terutama setelah memiliki anak—cenderung mengalami penurunan kadar hormon testosteron. Hormon ini berperan vital dalam menjaga massa otot dan membakar lemak tubuh. Ketika kadarnya menurun seiring bergesernya fokus pria menjadi pengasuh keluarga, laju metabolisme tubuh melambat sehingga lemak lebih mudah menumpuk, terutama di area perut.
Fenomena 'Habiskan Makanan' dan Porsi Ganda
Pola makan pria setelah menikah menjadi jauh lebih terstruktur melalui momen makan bersama. Dalam proses ini, pria kerap mengambil peran untuk menghabiskan porsi sisa makanan pasangan atau anak dengan alasan tidak ingin membuang makanan. Selain itu, pria cenderung menyamakan frekuensi ngemil pasangan, tetapi tetap dengan porsi makan besar khas pria.
Pergeseran Prioritas dan Berkurangnya Aktivitas Fisik
Sebelum menikah, waktu luang pria umumnya diisi dengan kegiatan fisik seperti olahraga, ke gym, atau hobi luar ruangan. Setelah berkeluarga, alokasi waktu tersebut tergeser oleh tanggung jawab baru untuk mengurus rumah tangga dan mendampingi keluarga. Penurunan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan pengurangan asupan kalori membuat penumpukan berat badan terjadi lebih cepat.
Rasa Aman dalam Hubungan (The Settling-In Effect)
Secara psikologis, keberhasilan mendapatkan pasangan hidup menurunkan dorongan mating effort—yaitu usaha untuk menjaga bentuk tubuh demi menarik lawan jenis. Rasa aman dan diterima apa adanya oleh pasangan membuat tingkat kecemasan terhadap penampilan fisik berkurang, sehingga pria menjadi lebih santai dan kurang disiplin dalam menjaga bentuk tubuhnya.
Para ahli menyarankan agar pasangan baru mulai membangun kesadaran bersama dalam mengelola pola hidup sehat. Menjadikan olahraga sebagai aktivitas berdua serta mengontrol porsi makan harian dapat menjadi langkah efektif untuk mencegah risiko masalah kesehatan jangka panjang akibat kenaikan berat badan berlebih pascanikah. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co