Kalimantan Selatan kini jadi sorotan pemerintah pusat. Bukan hanya sekadar melonjaknya kasus Covid-19 terakhir. Namun juga buntut dari aksi teror berdarah di Mapolsek Daha Selatan Kabupaten HSS beberapa waktu lalu.
---
Jumat (5/6) siang kemarin bukanlah hari yang biasa di Tanah Bumbu. Untuk pertamakalinya, ada penggerebekan kasus terorisme di wilayah itu. AS, seorang warga Desa Batuah Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanbu, ditangkap Densus 88 Anti Teror. Dia diduga terlibat jaringan terorisme.
Kepala Desa Batuah Mahluki membenarkan penangkapan tersebut. Saat ditangkap, AS bersama istri (SR) dan tiga anaknya. “Jadi perlu saya garis bawahi disini, bahwa AS bukan ditangkap di rumahnya di Desa Batuah. Dia ditangkap di Desa Barugelang Kecamatan Kusan Hilir,” jelasnya, Sabtu (6/6).
Kala disergap tim dari Mabes Polri, AS bersama istri dan ketiga anaknya sedang mengisi BBM. Setelah ditangkap, AS beserta keluarga dibawa ke rumah untuk dilakukan penggeledahan.
“Saat penggeledahan itu, saya lewat. Anggota Densus yang menanyakan siapa kepala desa di sini? Mereka minta izin untuk melakukan penggeledahan,” ceritanya.
Mahluki bersama ketua RT juga ikut mendampingi penggeledahan itu. Petugas menemukan KTP dan KK milik AS yang masih beralamatkan di Tangerang Selatan. Kemudian busur dan panah, buku panduan jihad, tas ransel serta buku nikah.
“Pak RT sempat membaca buku itu. Kata anggota Densus, buku panduan jihad ini yang bisa membuat orang melakukan segala cara untuk membunuh,” terangnya.
Dijelaskan Mahluki, dalam kesehariannya, AS dan istrinya SR dikenal sebagai guru ngaji. AS menempati rumah mertuanya. Di rumah itu, kegiatan keagamaan dilakukan pasangan suami istri ini. Murid ngajinya sampai puluhan orang. “Info dari tetangga AS, bagi murid ngaji perempuan, wajib menggunakan cadar,” katanya.
Mahluki sendiri tidak begitu mengenal sosok AS dan SR. Namun dari keterangan warga sekitar, kedua pasangan suami istri ini tetap bergaul dengan warga lain. Bahkan, AS rutin menjadi imam di salah satu masjid yang ada di Desa Pasar Baru Kecamatan Kusan Hilir. Sementara itu, SR mulai memakai cadar sejak menikah dengan AS.“Info dari warga, SR merupakan lulusan salah satu pondok pesantren yang ada di Banjarmasin,” ucapnya.
Kapolres Tanbu AKBP Sugianto Marweki mengaku mengetahui penangkapan tersebut. Bahkan, sebelum penangkapan, Densus 88 Anti Teror juga sudah memberikan informasi.
“Saya dapat info ada kegiatan penangkapan terduga teroris. Ada anggota saya juga ikut mendampingi. Setelah ditangkap, AS langsung dibawa Tim Densus. Cuma saya belum dapat informasi kemana membawanya,” papar kapolres.
Sejauh ini, kata kapolres pihaknya tidak pernah mendapat laporan terkait kegiatan keagamaan yang menyimpang di Kecamatan Kusan Hilir.“Selama ini memang tidak ada laporan,” ucapnya.
Menyikapi penangkapan terduga teroris AS, dia mengajak kepada seluruh jajarannya dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi agar kasus yang sama tidak sampai terjadi lagi. “Yang jelas tetap waspada dan antisipasi,” pungkasnya.
Belakangan berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, selain AS, ada empat orang lagi yang turut diamankan aparat di Kalsel. Semuanya diduga juga terlibat dalam aksi teror. Penangkapan empat orang ini di waktu dan lokasi yang berbeda.
Empat orang ini masing-masing berinisial TA, MZ, MRR serta MN. Untuk TA, MZ dan MRR kuat diduga dijemput di wilayah Banjarbaru. Sementara MN disebutkan diamankan di wilayah Banjarmasin.
Isu terorisme yang mulai panas di Kalsel dalam sepekan terakhir membuat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Boy Rafli Amar datang di Kalsel, Sabtu (6/6) tadi. Ia mengunjungi Mapolsek Daha Selatan yang menjadi lokasi penyerangan Abdurrahman, seorang yang diduga simpatisan ISIS di HSS.
Boy Rafli menyebut pihaknya datang guna mencari format pencegahan terhadap kejahatan terorisme di Kalsel. Salah satu cara yang dilakukan dengan cara pendekatan agama.
“Pemikiran dan pemahaman sesat dan keliru menafsirkan pemahaman agama oleh anak-anak muda tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya.
Ia berharap agar unsur para alim ulama dapat memberikan pemahaman yang benar dalam menjalan syariat agama. "Mari kita cegah ke depan anak-anak muda seperti pelaku ini tidak ada lagi."
Terkait kabar bahwasanya ada sejumlah orang yang diamankan oleh Densus 88 Anti Teror karena diduga terlibat aksi teror lalu. Mantan Kapolda Papua ini tak menampik. "Dari hasil pemeriksan ada yang (memang) mengarah," katanya yang mengatakan mereka yang ditangkap masihs edang diperiksa.
Boy juga menerangkan jika ada indikasi kuat kalau tersangka tidak melakukan aksi tunggal. Mengingat katanya dalam skema aksi teror, erat kaitannya dengan kelompok tertentu."Saat malam itu iya (pelaku tunggal), tapi kejahatan terorisme itu yang dilihat prapertistiwanya. Jadi pra persitiwa ini yang sedang didalami," tambahnya.
Sementara, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, Hafiz Anshari yang turut hadir dalam konferensi pers terkait aksi teror menyatakan jika pihaknya memiliki kesamaan pandangan bahwa gerakan terorisme merupakan satu kejahatan besar.
"Ini menyadarkan kita bahwa di Kalsel bulan zona aman dari aksi teror. Terbukti ada kegiatan terornya. Jadi ini kewajiban kita semua untuk menanggulangi agar NKRI tetap utuh," ajaknya.
MUI sendiri katanya bersama pihak terkait akan berupaya untuk melacak serta menanggulangi apabila ada potensi kegiatan teror yang berkaitan dengan keagamaan. (kry/rvn/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin