BANJARBARU - Sepanjang tahun 2019. Narkotika jenis sabu-sabu rupanya masih merajai di Kota Banjarbaru. Hal ini diungkapkan oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Banjarbaru.
Dalam siaran pers akhir tahun 2019 pada kemarin (16/12). Kepala BNNK Banjarbaru, AKBP Sugito menyebut bahwa dari data yang dikantonginya. Kasus sabu-sabu mencapai angka 50 persen dibanding jenis narkotika lainnya.
"Dilihat dari data penyalahgunaan atau pecandu narkoba di klinik Pratama BNNK Banjarbaru berdasarkan jenis zat. Sabu-sabu berada di angka 47,8 persen, ini paling tinggi," ucapnya.
Lalu, Sugito menyebut bahwa jenis narkotika atau obat-obatan terlarang lainnya persentasenya bervariatif. Misalnya, carnophen, dekstro, ekstasi, ganja hingga lem fox serta mix.
"Setelah sabu ada kategori mix (campuran) yang jumlahnya 29,4 persen. Setelah itu Dekstro 10,3 persen, lalu ekstasi 6,6 persen. Untuk lem fox jumlahnya 1,3 persen dan ganja 0,7 persen," paparnya.
Masih diminatinya sabu diprediksi kuat lantaran harga Carnophen yang melambung tinggi. Lantaran diketahui sendiri bahwa sebelumnya, Carnophen sempat memuncaki urutan narkotika paling diminati di wilayah Banjarbaru.
Selain jenis narkotika. Sugito juga membeberkan terkait kalangan pengguna ataupun korban terpapar narkotika yang ada di Banjarbaru. "Untuk yang mendominasi itu kalangan swasta yakni 44,9 persen, lalu pelajar sebanyak 37,5 persen," ujarnya.
Soal lebih spesifik di kalangan swasta. Sugito yang didampingi Kasi Rehabilitasi, Aguswin menjawab jika kalangan informal masih tinggi. Yakni seperti mereka yang bekerja sebagai buruh, driver serta yang terbanyak dari penambang pasir.
"Untuk pelajar dan juga mahasiswa ada penurunan dibanding tahun 2018. Yang mana tahun 2018 lalu menyentuh angka 59 persen. Jika dilihat dari rentang usia, tahun ini yang mendominasi di usia 0-15, 16-19, 20-24 serta 26-40 tahun," tambahnya.
Disinggung apakah ada kalangan dari pejabat pemerintah maupun Aparatur Sipil Negara (ASN). Sugito mengklaim jika sepanjang tahun tidak ada ditemukan.
"Baik itu dari tangkap tangan di lapangan maupun tes urine, Alhamdulillah tidak ada untuk kalangan ASN atau Instansi Pemerintah. Kalaupun ada yang terindikasi, itu ternyata reaksi dari pengobatan dari resep dokter," akunya.
Menariknya, sejauh ini. BNNK Banjarbaru rupanya telah melakukan operasi tangkal tangan terhadap lima kasus. Bahkan operasi yang kerap digelar oleh Seksi Berantas ini juga meringkus bandar.
"Dari lima kegiatan tangkap tangan, ada lima pelaku. Mereka ini pelaku jaringan. Jadi tidak hanya pengedarnya, tapi juga ke bandarnya. Sehingga memutus rantai penyuplai narkoba ke pemakai," terang Sugito.
Karena masih rawan dan berpotensi. BNNK Banjarbaru tegas Sugito akan rutin menggelar pencegahan di tahun 2020 mendatang. Yakni salah satunya dengan melakukan razia ke THM serta tempat kos-kosan yang ada di Banjarbaru.
Tak lupa, ia juga berharap dan mendorong masyarakat agar turut pro aktif dalam pencegahan narkoba. Baik itu dalam memberikan informasi maupun sebagai mediator antara korban dengan pihak rehabilitasi di BNNK.
"Selalu saya tekankan, jangan takut atau berpikiran aib apabila melapor ke kita. Karena korban narkotika itu wajib direhabilitasi. Kita akan merahasiakan identitasnya juga," pesannya. (rvn/al/ram)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin