PROKAL.CO- Dugaan kasus kekerasan seksual tragis yang menimpa seorang remaja putri lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengguncang warga Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat. Korban diduga diperkosa oleh sepupunya sendiri hingga harus dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami pendarahan fisik dan trauma psikologis yang sangat berat.
Peristiwa pilu ini terbongkar setelah pihak keluarga mendapati korban dalam kondisi syok berat, menangis histeris, bahkan sempat kehilangan kesadaran. Khawatir dengan kondisi kesehatan sang anak, keluarga langsung melarikan korban ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun untuk mendapatkan penanganan medis darurat, sekaligus melaporkan kejahatan tersebut ke pihak berwajib.
Merespons laporan tersebut, aparat kepolisian bergerak cepat dengan langsung meringkus terduga pelaku di kediamannya. Pihak kepolisian juga meluruskan informasi simpang siur yang sempat beredar di masyarakat dengan menegaskan bahwa pelaku merupakan sepupu kandung korban, bukan pamannya. Mengingat rumah korban dan pelaku berada di lingkungan yang sangat berdekatan, polisi memberikan perhatian khusus demi mengantisipasi dampak buruk terhadap pemulihan psikologis korban.
Penyidikan kasus ini kini melebar. Selain mengusut tindakan kekerasan seksual, penyidik juga tengah mendalami indikasi kuat bahwa pelaku di bawah pengaruh narkotika saat melancarkan aksi bejatnya. Kapolsek Pangkalan Banteng, Iptu Agung Sugiarto, mengonfirmasi bahwa tersangka telah diserahkan ke Polres Kotawaringin Barat untuk menjalani pemeriksaan intensif, termasuk tes urine guna memastikan keterlibatannya dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Insiden memilukan ini memicu kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk dari Wakil Ketua II DPRD Kotawaringin Barat, Sri Lestari. Ia mendesak agar hukum ditegakkan seadil-adilnya bagi pelaku tanpa pandang bulu, sekaligus meminta Dinas P3AP2KB setempat segera turun tangan memberikan pendampingan psikologis tingkat lanjut kepada korban.
Mengingat keterbatasan ekonomi dan ketiadaan sanak saudara yang mendampingi di Pangkalan Bun, sejumlah pihak kini mulai bahu-membahu menyalurkan bantuan. Upaya pembuatan BPJS Kesehatan, program bantuan Huma Betang, hingga sokongan dari Palang Merah Indonesia (PMI) terus diupayakan guna memastikan seluruh kebutuhan medis dan penanganan hukum bagi korban dan keluarga dapat berjalan optimal selama masa pemulihan. (*)
Editor : Indra Zakaria