PROKAL.CO, TENGGARONG – Di tepi Sungai Mahakam yang mengelilingi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dengan pelbagai kekayaannya, terdapat sebuah warisan yang terjaga selama puluhan tahun. Warisan ini terpatri dalam bentuk kuliner yang kaya akan cita rasa dan rempah-rempah—jauh dari negeri bharat, India. Ia adalah Martabak Kareh, sebuah kuliner yang sudah sangat dikenal di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kuliner ini dapat ditemui di ujung Kota Raja, tepatnya Kelurahan Loa Tebu—yang memang memiliki banyak macam penjual Martabak Kareh. Namun mereka memiliki tujuan yang sama, membawa warisan yang telah terjaga selama puluhan tahun. Sebuah warisan yang memadukan ketumbar, jintan, bunga pekak, kapulaga, kayu manis, das manis, serta pala.Menjelma menjadi sebuah kuliner sederhana nan menggiurkan, Martabak Kareh.
Kuah kari autentik dari India ini dipadukan dengan adonan martabak yang dimasak dengan mentega, telur ayam, cabai hijau serta acar timun sebagai kondimen pendamping. Pun untuk menikmatinya dapat memilih lauk daging sapi ataupun ayam. Salah satu penjual martabak kareh ini adalah Haji Abdullah, yang konsisten menjual kuliner asal kampung halamannya ini selama 40 tahun terakhir.
Awak media Prokal.co berkesempatan untuk mencicipi dan mengetahui langsung kekayaan kuliner khas Loa Tebu ini. Terletak di Jalan Matlimak, Loa Tebu—Martabak Kareh Malabar Haji Abdullah sudah berdagang medio tahun 1980 di Tenggarong. Hal ini diceritakan langsung oleh anak pertamanya, Muhidin—yang juga meneruskan usaha ayahnya per tahun 2026 ini.
“Bapak sudah lanjut usia, kasihan lelah berjualan. Jadi saya yang dulu memang bantu-bantu berjualan, kini sudah melanjutkan,” ujar Muhidin, memulai ceritanya kepada wartawan, Minggu (25/1).
Bercerita sedikit tentang mulanya ada Martabak Kareh di Tenggarong, Muhidin menyebut kuliner ini memang autentik dari keluarga ayahnya yang merantau ke Bumi Etam. Berasal dari keluarga keturunan India-Pakistan, resep bumbu kari ini memang dijaga konsistensinya dari dulu. Bahkan, Haji Abdullah tidak menjualnya seorang diri—namun saudaranya juga ikut berjualan.
“Resep ini dari keluarga kakek, mereka bawa saat zaman Pertamina banyak orang India merantau ke sini. Awalnya dulu berjualan di kawasan Taman Titik Nol, tapi akhirnya menetap di sini (Loa Tebu),” lanjutnya.
Selain mempertahankan resep bumbu kari, cara memasak martabak kareh pun sangat dijaga. Di wajan datar tersebut, Muhidin sangat lihai mencincang martabak dengan mangkok dan sutil yang ia pegang. Sebuah keahlian yang ia terima langsung dari ayahnya sedari kecil hingga berusia 53 tahun ini.
Martabak tersebut kemudian disajikan di piring, disiram dengan kuah kari autentik dari India. Untuk menikmatinya pun, pembeli disediakan acar timun dan cabai untuk memberi sensasi segar.
Kekentalan kuah kari serta rasa yang sarat rempah memberi identitas kuat kuliner asal Loa Tebu ini. Dan pembeli dapat menikmatinya sembari menikmati pemandangan Sungai Mahakam yang ramai akan tongkang dan aktivitas masyarakat. Muhidin menyebut usaha ini sudah diwariskan secara turun-temurun, dan ia merupakan generasi ketiga.
Berbagai pejabat maupun tokoh masyarakat telah menyambangi rumah makannya yang sangat sederhana—sebuah rumah kayu yang berdiri kokoh di atas sungai. Sederhana, namun menyimpan sejarah dan warisan yang terjaga selama hampir setengah abad. Pada masa primanya, martabak di rumah makan ini dapat menyajikan hingga ratusan porsi per harinya.
Meski demikian, Muhidin tak menampik bahwa kuliner ini mulai tergerus dengan waktu. Menjamurnya kuliner ini hingga ke Kota Samarinda dan lainnya diakui membuat usaha menurun. Namun tiap akhir pekan ia pastikan masyarakat tetap ramai berkunjung dari berbagai daerah, pun ada langganan tetap di usahanya ini.
“Memang sudah tidak seramai dulu, tiap hari tidak menentu jumlah pembelinya,” ucap Muhidin.
Sebagai generasi ketiga, Muhidin berharap usahanya ini dapat terus terjaga hingga anak cucunya nanti. Bagi keluarga besarnya yang mengadu nasib sebagai seorang perantau—Martabak Kareh ini adalah simbol perjuangan. Dari Negeri Bharat ke Sungai Mahakam, Martabak Kareh adalah penghubung budaya dan sejarah imigrasi di Tanah Kutai.
“Sekarang memang persaingan sudah banyak, tapi ALhamdulillah tetap jalan. Yang penting usahanya nanti dapat terjaga sampai anak cucu kami,” tutur Muhidin berseloroh, mengakhiri perbincangannya. (moe)
Editor : Indra Zakaria