Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bung Karno Menjulang di Kota Juang Kukar, Patung Proklamator Jadi Magnet Wisata Baru Sangasanga

Elmo Satria Nugraha • 2026-01-27 23:13:28

Peresmian patung Soekarno di Ruang Terbuka Hijau Sangasanga (Elmo/Prokal.co)
Peresmian patung Soekarno di Ruang Terbuka Hijau Sangasanga (Elmo/Prokal.co)


PROKAL.CO, TENGGARONG - Di bawah langit Sangasanga yang terbuka, sosok Ir. Soekarno berdiri tegak, menatap jauh ke depan seolah kembali memanggil ingatan bangsa pada api perjuangan yang tak pernah padam. Balutan seragam dan peci yang melekat pada patung setinggi 12,5 meter itu menghadirkan figur "Bapak Proklamator" dalam wujud paling ikonik—tegas, berani, dan penuh keyakinan.

Ia berdiri gagah di Kecamatan Sangasanga, wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang sangat melekat dengan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Patung presiden pertama Indonesia ini diresmikan pada Selasa (27/1/2026), bersamaan dengan Ruang Terbuka Hijau Sangasanga. Menandakan bahwa patung ini bukan sekadar karya seni, melainkan penanda zaman dan simbol nasionalisme yang kini bersemayam di jantung Kota Juang Kutai Kartanegara.

Patung Bung Karno ini tercatat sebagai yang tertinggi pertama di luar Pulau Jawa, sebuah penegasan bahwa semangat kebangsaan tidak berpusat di satu wilayah, melainkan tumbuh dan hidup di seluruh penjuru Nusantara. Gestur tangan yang mengepal dan pandangan yang mengarah ke kejauhan merepresentasikan karakter Soekarno sebagai orator ulung, pemimpin revolusioner, sekaligus penggagas Pancasila—sebuah ide besar yang lahir dari keberanian berpikir dan tekad mempersatukan bangsa yang majemuk.

Peresmian dihadiri oleh Anggota DPRD Kaltim, DPRD Kukar, tokoh masyarakat Edi Damansyah serta Forkopimda. Menyaksikan langsung megahnya patung Bung Karno saat bungkusnya diangkat menggunakan drone. Perwakilan keluarga Soekarno bahkan hadir langsung dari DKI Jakarta, diwakili Djarot Saiful Hidajat—yang juga mantan Walikota Blitar dan Anggota DPR RI.

Mewakili Ibu Megawati Soekarnoputri dan keluarga besar, Djarot menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Pemkab Kukar yang telah berinisiatif membangun, mendirikan, dan meresmikan Patung Bung Karno. Patung ini sendiri, diakuinya sebagai salah satu karya terbaik yang pernah ia lihat.

“Saya sudah banyak berkeliling ke berbagai daerah, dan ini adalah salah satu patung Bung Karno yang sangat bagus. Patung ini dibuat oleh seniman yang sangat baik, Pak Sunaria dari Bandung, yang juga membangun patung Proklamator di Cengkareng,” katanya.

Djarot menambahkan, dirinya mengenal langsung sang seniman karena keterlibatan Sunaria dalam pembangunan diorama perjalanan Bung Karno di Perpustakaan dan Museum Bung Karno di Blitar.

“Beliau banyak menghasilkan karya, dan kami mengenal beliau karena juga membantu membangun diorama perjalanan Bung Karno di Blitar. Jadi, terima kasih, ini luar biasa,” ucapnya.

Menurut Djarot, keberadaan patung Bung Karno bukan sekadar simbol fisik, tetapi juga sarana pendidikan sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Dengan adanya patung Bung Karno ini, kita didorong untuk lebih mempelajari sejarah, agar kita tidak melupakan sejarah, terutama sejarah perjuangan bangsa dan perjuangan Bung Karno dalam memerdekakan Republik ini,” tegasnya.

Sebagai sang proklamator, Djarot berharap kawasan Patung Bung Karno di Sangasanga dapat menjadi ruang edukasi dan ekspresi budaya bagi generasi muda.

“Ini bisa menjadi media bagi anak-anak muda untuk belajar sejarah, berdiskusi, menggelar pentas seni, dan membangkitkan budaya, sehingga kita memiliki kepribadian dalam kebudayaan seperti yang dicita-citakan Bung Karno,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin pastikan bahwa pembangunan di kawasan ini belum selesai. Ia menjelaskan, pengembangan kawasan RTH Sangasanga masih membutuhkan sejumlah fasilitas pendukung, seperti mushala serta penataan ruang bagi pelaku UMKM agar lebih rapi dan tertata.

“RTH ini masih membutuhkan fasilitas umum lainnya, termasuk musala dan penataan UMKM supaya lebih tertib dan nyaman,” katanya.

Rendi juga mengungkapkan, Pemkab Kukar telah menyiapkan anggaran untuk menghidupkan kawasan tersebut melalui agenda seni dan budaya secara rutin.

“Untuk tahun ini sudah ada anggarannya. Rencananya, setiap malam Minggu atau dua minggu sekali akan digelar ‘Soekarno Night’ yang diisi dengan seni dan budaya khas Kecamatan Sangasanga. Mudah-mudahan bisa konsisten seperti yang ada di Simpang Odah Etam,” jelasnya.

Pun Patung Bung Karno ini dipilih sebagai ikon di Sangasanga telah melalui proses panjang dan pembahasan sejak beberapa tahun lalu. Tahun 2022 pihaknya mulai melakukan peninjauan lokasi dan menentukan figur yang akan dihadirkan di Sangasanga. Sehingga, Bung Karno dipilih karena merupakan Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus Proklamator dan tokoh pahlawan nasional.

“Beliau adalah Presiden pertama Republik Indonesia, sekaligus Proklamator dan pahlawan bangsa. Karena itu kami tetapkan bersama agar Patung Bung Karno didirikan di Kutai Kartanegara, khususnya di Sangasanga, sebagai ikon dan daya tarik tersendiri,” jelas Rendi.

Ia menambahkan, keberadaan Patung Bung Karno juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kukar, mengingat banyak negara besar di dunia yang juga menampilkan patung Bung Karno sebagai simbol perjuangan.
“Bukan hanya provinsi atau kabupaten di Indonesia, banyak negara besar di dunia yang dengan bangga menampilkan Patung Soekarno. Karena itu masyarakat Kutai Kartanegara, khususnya warga Sangasanga, patut berbangga,” katanya.

Terkait proses pembangunan, Rendi menjelaskan bahwa proyek tersebut dilakukan secara bertahap. Yakni tahun 2022 dilakukan peninjauan lokasi dan teknis lahan. Tahun 2023 masuk tahap perencanaan dan anggaran, termasuk pematangan lahan. Baru pada 2024 pembangunan fisik dimulai secara bertahap.

Total anggaran yang digelontorkan untuk pengembangan kawasan tersebut mencapai hampir Rp30 miliar, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk pembangunan RTH. Rendi menegaskan, Pemkab Kukar memastikan pembangunan ikon besar di daerah selalu diiringi dengan pemerataan infrastruktur di sekitarnya.

“Kami pastikan tidak ada ketimpangan sosial di sekitar ikon pembangunan. Jalan-jalan, termasuk jalur dua dan gang-gang di Sangasanga Dalam, harus tertata dan layak. Jangan sampai lokasi tujuan bagus, tetapi akses jalannya rusak,” tutup Rendi.

Di sisi lain, Anggota DPRD Kukar Dapil IV Rahmat Dermawan menyebut pembangunan ini diinisiasikan sebagai hadiah dari pemerintah daerah untuk masyarakat kecamatan. Sebagai penanda bahwa di Sangasanga siap menghadirkan kembali momentum perjuangan melalui RTH dan Patung Bung Karno.

Bung Karno sendiri diyakini merefleksikan sosok Proklamator Republik Indonesia sekaligus menjadi pengingat sejarah besar perjuangan rakyat Sangasanga dalam mempertahankan dan merebut kemerdekaan.

“Patung Bung Karno ini merefleksikan Proklamator Republik Indonesia, agar masyarakat luas mengetahui bahwa di Sangasanga pernah terjadi sejarah besar perjuangan masyarakat dalam mempertahankan dan merebut kemerdekaan Republik Indonesia,” jelasnya.

Selain sebagai simbol sejarah, keberadaan RTH di kawasan tersebut juga diharapkan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di tengah masyarakat.

“RTH ini diharapkan menjadi ruang terbuka yang mampu menumbuhkan ekonomi baru masyarakat. Dengan hadirnya RTH, diharapkan muncul destinasi wisata baru yang bisa dimanfaatkan untuk rekreasi sekaligus wisata sejarah,” katanya.

Rahmat menilai, kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk menarik kunjungan dari luar daerah.
“Orang-orang dari luar Kecamatan Sangasanga yang datang nanti bisa melihat bahwa di sini ada ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan, baik untuk rekreasi masyarakat maupun untuk mengenal sejarah perjuangan,” ujarnya.

Ia menegaskan, Sangasanga yang dikenal sebagai Kota Juang kini semakin diperkuat identitasnya melalui kehadiran berbagai penanda sejarah.

“Dengan adanya patung dan RTH ini, identitas Sangasanga sebagai Kota Juang semakin terefleksikan. Di sini ada museum, ada makam, ada patung, ada jejak perjuangan, dan itu semua menjadi penanda sejarah,” tandas Rahmat.

Kini, kawasan RTH Sangasanga menjelma ruang publik yang bukan hanya hijau secara fisik, tetapi juga sarat makna sejarah. Kehadiran patung Bung Karno menjadikannya magnet wisata baru, ruang edukasi terbuka, sekaligus altar ingatan kolektif tentang perjuangan Merah Putih. Di kota kecil yang memiliki sejarah perlawanan besar, sosok Proklamator itu berdiri sebagai ikon baru—menghubungkan masa lalu, hari ini, dan cita-cita Indonesia ke depan. (moe)

Editor : Indra Zakaria