PROKAL.CO– Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Timur bergerak cepat melakukan peninjauan langsung ke lokasi banjir yang merendam pemukiman warga di Dusun Pondok Labu, Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (3/2). Tim yang didampingi oleh relawan TAGANA Kutai Kartanegara tersebut turun ke lapangan guna memastikan kondisi warga serta ketersediaan bantuan di titik pengungsian.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kaltim, Achmad Rasyidi, menjelaskan bahwa bencana banjir ini dipicu oleh tingginya curah hujan serta fenomena pasang air Sungai Mahakam yang terjadi secara berkelanjutan sejak akhir Januari lalu. Berdasarkan data lapangan, luapan air telah merendam setidaknya 14 rumah warga yang tersebar di wilayah RT 09 dan RT 10, dengan total warga yang terdampak mencapai puluhan jiwa dari berbagai kepala keluarga.
Akibat rumah mereka terendam air, sebagian besar warga saat ini terpaksa mengungsi ke area jalanan yang memiliki posisi lebih tinggi sembari menunggu proses pendirian tenda darurat oleh BPBD. Untuk memenuhi kebutuhan pangan mendesak, bantuan logistik telah didistribusikan secara kolaboratif oleh BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Kutai Kartanegara. Distribusi bantuan ini memanfaatkan stok logistik darurat (buffer stock) yang sebelumnya telah dipasok dari Gudang Logistik Bencana Dinsos Provinsi Kaltim.
Setelah melakukan dialog dengan ketua RT setempat, Achmad Rasyidi menyampaikan bahwa situasi saat ini sudah mulai terkendali seiring dengan menurunnya debit air secara perlahan. Pasokan pangan di pengungsian pun dipastikan masih mencukupi kebutuhan warga untuk beberapa hari ke depan. Meski demikian, pihak provinsi tetap menjalin komunikasi intensif guna menyalurkan tambahan bantuan jika sewaktu-waktu terjadi kekurangan stok atau kebutuhan darurat lainnya.
Di balik penanganan bencana tersebut, tim mencatat adanya beberapa kendala krusial yang cukup menghambat aktivitas warga Dusun Pondok Labu. Kerusakan jalan di sejumlah titik menjadi persoalan utama karena saat banjir melanda, akses mobilitas seringkali terputus total sehingga warga berisiko tinggi terisolir dari bantuan luar. Selain itu, keterbatasan infrastruktur dasar seperti aliran listrik yang belum tersedia 24 jam memaksa warga untuk terus bergantung pada panel tenaga surya dalam memenuhi kebutuhan energi harian mereka. (*)
Editor : Indra Zakaria