PROKAL.CO, TENGGARONG – Berbeda dengan ramainya destinasi wisata saat libur Lebaran, suasana di Museum Kayu Tenggarong justru tampak lebih lengang. Jumlah pengunjung pada momen Idulfitri 1447 Hijriah tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Museum yang berada di Jalan Panji, Kelurahan Panji itu mulai kembali dibuka pada hari kedua Lebaran. Namun hingga memasuki hari pertama cuti bersama Idulfitri 1447 Hijriah, lonjakan pengunjung belum signifikan.
Pengelola Museum Kayu, Sofian Hadi, mengakui terjadi peningkatan jumlah pengunjung beberapa hari setelah dibuka. Meski begitu, angkanya masih jauh di bawah capaian tahun sebelumnya.
“Memang ada peningkatan setelah dibuka, tapi kalau dibandingkan tahun lalu, jumlahnya masih jauh menurun,” ujarnya, Senin (24/3/2026).
Ia menyebut, pada tahun lalu jumlah pengunjung selama libur Lebaran bisa mencapai sekitar 1.000 orang. Sementara tahun ini, pergerakan kunjungan masih relatif rendah.
“Untuk kemarin sekitar 65 orang, dan hari ini kurang lebih 80 pengunjung,” jelasnya.
Sofian menambahkan, pihaknya belum dapat memastikan total penurunan secara keseluruhan karena periode libur Lebaran masih berlangsung. Namun tren saat ini menunjukkan minat masyarakat belum kembali seperti sebelumnya.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi adalah semakin banyaknya pilihan destinasi wisata baru di berbagai daerah.
“Sekarang banyak alternatif wisata, baik di Samarinda, Loa Janan, maupun ke arah Kota Bangun dan Muara Muntai. Kemungkinan masyarakat lebih tertarik mencoba tempat-tempat baru,” katanya.
Meski mengalami penurunan, Museum Kayu tetap menarik minat pengunjung dari luar daerah. Beberapa di antaranya datang dari Malang, Balikpapan, Bontang hingga Kabupaten Paser.
Salah satu pengunjung, Indra, mengaku baru pertama kali datang ke Museum Kayu setelah mengetahui informasi dari media sosial.
“Saya lihat dari rekomendasi di media sosial, jadi penasaran ingin berkunjung ke sini,” ujarnya.
Ia menilai Museum Kayu cukup menarik sebagai destinasi wisata edukasi. Namun, ia menyarankan agar penataan area depan museum bisa lebih ditingkatkan untuk menambah daya tarik.
“Mungkin bagian depan bisa diperbaiki, misalnya ditambah taman supaya lebih menarik,” katanya.
Indra juga menyebut Museum Kayu menjadi tujuan awal kunjungannya di Tenggarong sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Balikpapan bersama keluarga.
Kendati tren kunjungan menurun, Museum Kayu masih menjadi salah satu pilihan wisata edukatif di Tenggarong, terutama bagi pengunjung yang ingin mengenal kekayaan hasil hutan dan sejarah kehutanan di Kalimantan. (moe)
Editor : Indra Zakaria