Dari hentakan kaki penari, alunan sape’, hingga tangan-tangan kecil yang belajar gerak tari leluhur. Masyarakat Dayak Kenyah di Desa Sungai Bawang, Kukar sedang menjaga sesuatu yang tak bisa diwariskan lewat cerita: budaya. Di tengah perubahan zaman dan derasnya modernisasi, perantau dari pedalaman Mahakam ini tetap hidup dengan tradisinya. Dipertahankan sebagai identitas, juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan masa depan desa.
Elmo Satria Nugraha Sasmito, Tenggarong
PROKAL.CO, MUARA BADAK – Lantunan musik tradisional Dayak dari alat musik sape’ yang terdengar syahdu di bawah Terik matahari pada tanggal 27 Agustus lalu itu masih membekas di ingatan. Panas bisa saja menyengat tubuh, namun ia juga luruh akan alunan nada yang mengiringi gerakan para penari di halaman Lamin Adat Pemung Madung, Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar).
Irama demi irama mengalun. Sesekali, hentakan kaki dan teriakan enerjik para penari pria menyatu dengan gerakan tubuh mereka. Mandau tergenggam di tangan kanan, tameng khas Dayak di tangan kiri. Pakaian adat dengan segala ornament khas serta bulu burung enggang bergerak Anggun seolah itu adalah kulit mereka—menambah semarak tarian penyambutan.
Para tamu kehormatan sebelumnya diarak menggunakan perahu adat yang dipikul di atas daratan—sebuah tradisi yang dikenal dengan nama Alut Adang. Setibanya di dalam lamin, mereka kembali disambut para penari. Hentakan kaki berpadu dengan gemerincing perhiasan perak, beresonansi di dalam bangunan adat, menghidupkan melodi sape yang menghanyutkan.
Suasana ini menjadi pemandangan yang terasa saat Festival Mecaq Undat yang berlangsung 27 Agustus lalu. Di tengah arus modernisasi yang deras bergerak di luar lamin, masyarakat Dayak Kenyah di Sungai Bawang justru menunjukkan bagaimana tradisi berusia ratusan tahun tetap hidup. Bukan sekadar dikenang sebagai peninggalan leluhur, tetapi terus dipraktikkan, diwariskan, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di antara penari lelaki yang menghidupkan suasana itu, ada Rico—pemuda berumur 23 tahun. Sama seperti teman-teman di kampungnya, Rico memilih untuk menyisihkan waktunya menjaga kebudayaan. Ketika sebagian anak muda banyak menghabiskan waktu dengan gawai, Rico tetap mengakrabkan diri dengan panggung kesenian.
Sedari kecil, gerakan tari tradisional telah menjadi bagian dari hari-hari Rico. Sungai Bawang dikenal sebagai lingkungan yang sangat kental akan adat, hal ini juga membuat Rico ikut tumbuh dengan adat. Sehingga tumbuh sebuah pola pikir, bahwa menari bukan sekedar aktivitas seni atau menyambut tamu—melainkan sebuah panggilan. “Sudah tradisi kita dari kecil. Saya merasa terpanggil untuk harus melestarikan budaya nenek moyang,” ujarnya, Kamis (27/8/2026) lalu.
Rico sendiri saat ini memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja di sektor pertambangan. Di satu sisi, ada panggilan yang terus menariknya untuk mempertahankan warisan leluhur yang telah dikenal sejak kecil.
Bersama kelompok tari Desa Sungai Bawang, ia beberapa kali tampil di luar kampung, termasuk di Balikpapan. Undangan datang dari berbagai kegiatan, mulai peresmian hingga agenda lainnya. Dalam sebulan, kelompok tersebut bisa tampil sekitar satu kali, bergantung pada undangan yang diterima.
Ada kebanggaan yang dirasakan Rico saat tampil. Bahwa adat budaya kampungnya dapat dikenal banyak khalayak. Bahwa tiap penampilan bukan hanya kesempatan menunjukkan kemampuan menari, melainkan juga membawa identitas leluhur ke ruang yang lebih luas.
Apa yang dilakukan Rico bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Di Sungai Bawang, kebudayaan memang tumbuh melalui keterlibatan lintas generasi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa masih mengambil bagian dalam berbagai kegiatan seni. Tradisi itu dirawat melalui sanggar, kegiatan adat, serta perayaan tahunan yang mempertemukan masyarakat.
Norti, pelatih sekaligus pembina Sanggar Tari Bangen Tawai, telah menjalankan kegiatan pembinaan sejak 2014 silam. Bersama teman-temannya yang juga menari sejak keci, dia meneruskan ilmu yang dimiliki itu kepada anak-anak sejak usia dini. Bahkan, ada peserta yang mulai belajar ketika belum memasuki usia sekolah. Ia mengaku penari termuda yang pernah dibina berusia empat tahun. Sementara penari tertua mencapai 70 tahun.
Rentang usia tersebut memperlihatkan bagaimana seni tari menjadi ruang pertemuan antargenerasi di Sungai Bawang. Antusiasme anak-anak pun menjadi salah satu alasan Norti terus melatih mereka. Ketika dijadwalkan latihan pukul 14.00 Wita, tidak sedikit anak yang sudah datang lebih awal. Kegiatan latihan biasanya berlangsung setiap Minggu, sekitar satu hingga dua jam.
“Antusiasme anak-anak luar biasa. Kalau sudah dijanjikan latihan pukul 14.00, mereka bahkan sudah datang sebelum waktunya,” tuturnya. Bagi Norti, mengenalkan budaya sejak dini menjadi cara agar anak-anak tidak kehilangan pengetahuan mengenai asal-usul mereka. Dari tiap tarian yang diajarkan, terdapat cerita dan makna tersendiri. Bukan sekedar gerakan yang mengikuti irama musik, tetapi ada gambaran kehidupan leluhur yang terabadikan hingga kini.
Salah satunya adalah tari Pinta Tai—tarian ini menggambarkan kebiasaan nenek moyang ketika mencari penghidupan. Dulu, leluhur masyarakat Dayak hidup di sekitar gunung, hutan, dan ladang. Mereka memasuki hutan dengan tujuan mencari lahan subur, memberi tanda dan melakukan ritual doa dengan harapan hasil panen melimpah.
Dari tarian ini, tergambar proses membuka lahan, menanam, hingga tanaman tumbuh dan menghasilkan padi. Bahkan, proses mengolah padi menjadi beras turut menjadi bagian dari cerita yang disampaikan melalui tarian. Ia ingin anak-anak ikut memahami bahwa makanan yang tersedia saat ini juga memiliki perjalanan panjang. Segala hal seperti beras tidak hadir begitu saja, melainkan melalui proses yang ditemani ketekunan. Mulai dari proses penumbukan padi hingga panen menjadi beras.
Di antara tarian yang masih dikenal masyarakat, terdapat Datun Meno, Ajai, Pinta Pai, Puyan Umat, dan Hudoq Kiba. Beberapa di antaranya masih kerap ditampilkan. Namun, Hudoq Kiba yang menggunakan penutup atau topeng mulai jarang dipentaskan.
Tantangan regenerasi juga tetap ada. Norti mengakui, penari laki-laki yang telah beranjak dewasa lebih sulit dikumpulkan karena sebagian besar melanjutkan pendidikan ke kota. Kondisi serupa dialami anak-anak yang bersekolah di luar desa.
Norti sendiri mengambil jadwal latihan pada hari Minggu, atau tiap satu bulan sekali. Tidak banyak anggaran dari desa untuk tari. Bahkan Norti hanya menerima honorarium Rp250 ribu per bulan dari desa. Namun dengan dana itu, ia memilih beli makanan ringan dan minuman agar para penari semakin bersemangat.
Meski honorarium itu tidak mencukupi kebutuhan hidup, Norti dan rekannya tetap semangat mengajar. Dengan tujuan mengembangkan budaya dan memperkenalkan budaya dayak kepada anak-anak sejak dini. “Harapan kami ke depan, Sanggar Tari Bangen Tawai bisa berprestasi. Kami sangat ingin agar nanti tamu-tamu atau orang yang berkunjung ke desa kami bisa melihat pertunjukan tari kami,” pintanya.
Kepala Desa Sungai Bawang Martinus menyebut keterbatasan jumlah penduduk menjadi kendala dalam mengembangkan kesenian. Ketika sebuah pentas membutuhkan banyak penari, masyarakat harus memaksimalkan sumber daya yang tersedia.
Bahkan, dalam satu pentas seni, ada anak-anak yang harus membawakan hingga 23 tarian. Idealnya, setiap tarian diperankan oleh penari berbeda. Namun, keterbatasan jumlah pelaku seni membuat mereka perlu menguasai dua hingga tiga jenis tarian.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan semangat. Dibutuhkan pembinaan yang konsisten, ruang berkegiatan, serta dukungan agar generasi muda tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan tampil.
Martinus sangat memahami mengapa identitas budaya sangat penting bagi warganya. Sebab, Sungai Bawang bisa lahir karena perjalanan panjang masyarakat Dayak Kenyah yang merantau dari pedalaman Sungai Mahakam untuk kehidupan lebih layak.
Pada awal 1980-an, sejumlah keluarga mulai merintis kehidupan di wilayah tersebut. Saat itu, akses transportasi dari pedalaman masih sangat bergantung pada jalur sungai. Ketika musim kemarau tiba dan air surut, perjalanan menjadi sulit. Bahan makanan dan kebutuhan pokok bisa terlambat diperoleh. Akses terhadap pendidikan maupun pelayanan kesehatan juga terbatas.
Kedekatan dengan perkotaan menjadi salah satu alasan masyarakat mencari tempat bermukim yang lebih mudah dijangkau. Mereka ingin anak-anak mendapatkan pendidikan lebih baik, masyarakat lebih mudah mengakses rumah sakit, serta hasil pertanian dan pekerjaan dapat dipasarkan dengan lebih mudah.
Pada 1984, semakin banyak keluarga dari wilayah pedalaman berdatangan. Mereka berasal dari berbagai kawasan, termasuk wilayah yang kini masuk Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Timur.
Permukiman yang semula hanya dihuni kelompok kecil perlahan berkembang menjadi kelompok masyarakat dan wilayah RT. Pada 2005, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mulai memberikan perhatian terhadap pembentukan wilayah tersebut menjadi desa.
Jumlah penduduk yang belum memenuhi persyaratan desa reguler sempat menjadi pertimbangan. Namun, hasil asesmen pemerintah menunjukkan adanya kesamaan tradisi, bahasa, dan kebiasaan di tengah masyarakat. Kesamaan itulah yang menjadi dasar penetapan Sungai Bawang sebagai desa budaya sekaligus desa definitif.
Nama Sungai Bawang sendiri berasal dari bahasa Dayak Kenyah. Sungai berarti air, sedangkan bawang berarti rawa atau danau. Nama itu berkaitan dengan kondisi geografis kawasan yang dahulu memiliki rawa luas dan menjadi bagian dari pengalaman hidup para perintis permukiman.
Dari kelompok perantau yang ingin memperoleh kehidupan lebih baik, Sungai Bawang selanjutnya tumbuh menjadi desa dengan identitas budaya yang kuat. Tradisi yang dibawa dari tanah leluhur di pedalaman Mahakam tidak mereka tinggalkan, justru menjadi fondasi kehidupan di tempat baru.
Energi budaya inilah yang kemudian terus dikembangkan melalui Festival Mecaq Undat. Bagi masyarakat Dayak Kenyah, sebuah tradisi yang sarat akan ungkapan syukur atas hasil panen. Rasa syukur diekspresikan melalui berbagai talenta dan kesenian yang diwariskan para leluhur.
May, 24 tahun, salah satu penari di Sungai Bawang, mengaku telah mengenal tarian tradisional sejak masih sangat kecil. “Kami sudah menari sejak kecil, mungkin sejak umur empat atau lima tahun. Bahkan, ada yang sudah menari sebelum masuk sekolah,” katanya.
Mecaq Undat bukan sekedar ruang menampilkan kesenian. Festival ini juga mempertemukan masyarakat, memperkuat hubungan antarkelompok, sekaligus membuka kesempatan bagi kebudayaan Dayak Kenyah dikenal lebih luas.
Pemerintah desa menjadi penginisiasi kegiatan tahunan tersebut dengan mengalokasikan anggaran dari Dana Desa. Sementara pelaksanaan dan koordinasi kegiatan dipercayakan kepada lembaga adat.
Martinus menyebut sekitar 1.500 orang dipersiapkan untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan. Selain pentas seni, festival juga menghadirkan olahraga tradisional yang terbuka bagi masyarakat Kalimantan Timur, mulai dari Kutai Timur, Kutai Barat, Samarinda, hingga Balikpapan.
Empat cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan meliputi sumpit, gasing, ketapel, dan lembing. Festival juga menghadirkan kelompok kesenian dari Desa Lekaq Kidau, Kecamatan Sebulu, serta Desa Budaya Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu. Kehadiran berbagai kelompok masyarakat pada festival ini menjadi bukti—bahwa budaya bukan sekedar urusan satu kampung. Terdapat ruang kolaborasi yang mempertemukan tradisi untuk saling dikenal, dipelajari, juga dipertahankan bersama.
Di tengah upaya tersebut, Zona 8 PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Pertamina Hulu Mahakam (PHM) turut mengambil peran melalui program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Yang tak hanya diarahkan untuk menjaga pelaksanaan festival, tetapi juga mengembangkan potensi kebudayaan agar memberi manfaat lebih luas bagi warga Sungai Bawang. (Head of Communication Relations & Community Involvement and Development (CID) PHM Zona 8 Achmad Krisna Hadiyanto antusias mengikuti Tarian Leleng)
Head of Communication Relations & Community Involvement and Development (CID) PHM Zona 8 Achmad Krisna Hadiyanto menjelaskan. Kehadiran perusahaan dalam melestarikan budaya Dayak dan Kutai merupakan bagian dari komitmen pengembangan masyarakat di wilayah operasi PHM.
Terkhusus di Desa Budaya Sungai Bawang, program ini telah berjalan sejak 2018. Dukungan pun berjalan bertahap, dimulai dari penguatan aset budaya yang dimiliki masyarakat. Termasuk pengembangan kerajinan anyaman, pembangunan gapura desa dan Lamin Adat, pengadaan kostum tari serta alat musik tradisional, hingga penyediaan sarana pendukung kegiatan budaya.
Tak berhenti di situ, dukungan kemudian berlanjut pada peningkatan kapasitas masyarakat. Mulai dari pelatihan kerajinan menggunakan pewarna alami, diversifikasi produk, pemasaran digital, hingga penguatan kelompok wanita tani.
Memasuki tahun 2023 dan 2024. PHM mulai meletakkan perhatian mereka dalam mentransformasi Desa Sungai Bawang sebagai destinasi wisata. Dimulai dengan penataan destinasi serta infrastruktur pendukung. Termasuk Festival Mecaq Undat, yang didukung dengan penyediaan fasilitas di kawasan Lamin Adat dan sarana pendukung lainnya.
Pada 2025, pengembangan mulai mengarah ke digitalisasi. Seperti promosi destinasi melalui baliho, pelatihan pembuatan konten media sosial, serta promosi budaya melalui Festival Mecaq Undat dan Erau. Pelestarian olahraga tradisional Ngelepet atau menyumpit juga menjadi bagian dari kegiatan.
Sementara pada 2026, PHM mulai mengarahkan pengembangan produk wisata, termasuk alternatif paket kunjungan atau open trip. Dukungan terhadap seragam tari serta pelestarian olahraga tradisional Ngelepet dan gasing juga terus dilakukan.
“Dari 2018 sampai 2026 ini, kami sudah masuk ke fase berikutnya, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat di Desa Sungai Bawang untuk mengelola pariwisatanya,” jelas Achmad. Tujuannya bukan sekadar mempertahankan kesenian sebagai warisan. Melainkan membekali masyarakat kemampuan untuk mengelola potensi yang mereka miliki agar kebudayaan dapat memberikan manfaat ekonomi.
Karena itu, PHM mendorong peningkatan kompetensi masyarakat, termasuk kemampuan memproduksi kerajinan dan mengembangkan potensi wisata secara mandiri. Harapannya, Sungai Bawang tidak hanya dikenal sebagai desa yang memiliki warisan budaya, tetapi juga mampu mengelola kekayaan tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.
“Kami melibatkan masyarakat agar mereka bisa berkreasi dan memproduksi barang-barang atau kesenian dari suku Dayak. Harapannya, produk-produk dari suku Dayak ini bisa terus bertahan ke depannya. Ketika generasi berganti, tetap ada yang melestarikan kerajinan-kerajinan yang memanfaatkan sumber daya yang ada,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah melihat kebudayaan Sungai Bawang sebagai kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi ekosistem pariwisata. Menurutnya, budaya merupakan hulu yang harus dijaga, sementara pariwisata menjadi salah satu hilir yang dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.
Ia berharap kegiatan seperti Mecaq Undat tidak hanya dikenal di tingkat kabupaten maupun provinsi, tetapi juga mampu menjangkau tingkat nasional hingga internasional. Namun, pengembangan tersebut harus tetap bertumpu pada pelestarian budaya dan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik tradisi.
Pelestarian, menurutnya, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan yang beroperasi di sekitar masyarakat, perlu mengambil bagian dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kehidupan sosial budaya.“Keseimbangan itu adalah bagaimana kita bersama-sama, tidak hanya perusahaan yang mengambil sumber daya alam, tetapi juga memperhatikan aspek budaya dan sosial masyarakat di sekitarnya,” tutupnya.
Bagi Sungai Bawang, perjalanan menjaga budaya telah dimulai jauh sebelum festival Mecaq Undat menjadi agenda tahunan. Kini tradisi itu menyatukan para perantau dari pedalaman, membentuk kehidupan bersama dan menjadi fondasi kuat lahirnya sebuah desa budaya.
Generasi muda seperti Rico, May maupun anak-anak Sanggar Tari Bangen Tawai dipercaya melanjutkan tongkat estafet pelestarian adat tersebut. Ada yang menari di panggung adat, ada yang belajar mengenali irama sape, dan ada juga yang pertama kali memahami kisah leluhur melalui setiap gerakan tari.
Dukungan PHM juga membuka ruang bagi warga Sungai Bawang mengembangkan warisan budaya menjadi kekuatan baru. Tidak hanya melestarikan kesenian, juga mengembangkan pariwisata, serta menumbuhkan energi baru dari kebudayaan yang diharapkan memberikan manfaat lintas generasi.
Sebab, bagi warga Sungai Bawang—budaya bukan sekedar identitas yang dikenakan saat festival tahunan saja. Ia adalah nadi kehidupan yang menjaga mereka tetap terhubung dengan tanah leluhur, juga bekal yang menatap masa depan. Di tengah perubahan zaman dan aktivitas produksi energi yang terus berjalan, ada energi lain yang tak kalah penting dijaga.
Ia tidak diambil dari perut bumi, tak terukur oleh angka produksi, dan ia tidak akan habis selagi masih ada orang seperti Rico dan May—yang bersedia dan berkomitmen merawatnya. Energi itu bernama budaya. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co