Bagi sebagian orang, solo trip merupakan hal yang sudah biasa. Berbeda dengan yang baru mencoba hal itu. Seperti Oktavia Megaria, pertengahan Januari lalu solo trip ke beberapa tempat, yang ternyata bikin nagih.
TAHUN ini, dibuka dengan pengalaman yang cukup menyenangkan bagi Okta. Sebab, wacana yang sudah terlalu lama dipikirkan, yaitu perjalanan sendiri tanpa kawan akhirnya terwujud di awal 2024. Meski memang bisa dibilang liburan dadakan dengan persiapan yang jauh dari kata matang.
“Perjalanan itu saya lakukan dengan mendatangi tiga kota besar. Dalam kurun waktu satu minggu. Sederhana sebenarnya, semua orang mungkin sudah pernah melakukannya. Jujur aja, sehari sebelum berangkat sempat bimbang. Saking galaunya, tiket baru dibeli saat hari keberangkatan. Sabtu (13/1) malam, saya ke Jakarta. Ya, kota metropolitan yang sebentar lagi melepas statusnya sebagai ibu kota itu jadi tujuan pertama saya,” ujarnya.
Bukan tanpa alasan, seorang kerabat yang kebetulan merantau ke sana menawarkan tempatnya untuk ditumpangi. Lumayan menghemat ongkos.
Di hari kedua, mendatangi beberapa tempat. Karena datang tanpa daftar destinasi yang jelas –kecuali Monas, teman yang membuat daftarnya. Walau pada akhirnya semua list yang dibuat sia-sia. Dari banyak tempat, kami hanya sukses mewujudkan Monas dan anjungan di Halte Bundaran HI, atau lebih dikenal Skydeck Bundaran HI. Salah satu spot foto baru yang diresmikan 2022.
Meski sudah lebih dari satu tahun berdiri, nyatanya tempat itu masih jadi primadona. Saat datang ke sana, harus antre ke anjungannya. Tentunya untuk naik ke anjungan, pengunjung harus membayar menggunakan kartu Transjakarta atau kartu e-money lainnya, seharga Rp 3.500.
“Untuk waktu perginya terserah saja. Jika ingin mengambil pemandangan city light ibu kota, bisa datang malam. Untuk siang pemandangan langit biru cerah,” tegasnya.
Kota kedua yang mendadak didatangi adalah Bogor. Modal naik KRL dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Manggarai seharga Rp 9.000. Kemudian berganti kereta, lanjut ke Stasiun Bogor melewat 15 titik perhentian dengan harga hanya Rp 6.000. “Sebuah pengalaman menarik dengan waktu tempuh hampir dua jam,” sambung Okta kala berbincang.
Di Kota Hujan itu, saya hanya mendatangi dua tempat. Lagi-lagi ditemani seorang teman yang berasal dari sana. “Kami mendatangi salah satu wisata baru. HeHa Waterfall Bogor, sebuah wisata alam berkonsep air terjun buatan di Jalan Kapten Harun Kabir, Cibeureum, Cisarua, lengkap dengan stan-stan kulinernya,” tegasnya.
Termasuk Kopi Nako di kawasan Bogor Timur. Kafe memiliki konsep outdoor dengan pemandangan sunset yang indah. Tempat itu bisa jadi salah satu yang digandrungi, terlihat dari pengunjung yang memenuhi tempat itu hingga sulit menemukan meja kosong.
Berselang dua hari, bertolak ke Bandung. “Salah satu kota yang sangat ingin saya datangi dengan kekayaan kuliner yang dimiliki. Dibanding ke Bogor, Bandung lebih cepat. Hanya 30 menit. Menggunakan transportasi kereta cepat yang sedang ramai dipakai, Whoosh.
Dengan harga yang katanya waktu itu sedang promo, Rp 200 ribu, berangkat dari Stasiun Kereta Cepat Halim ke Stasiun Padalarang. “Benar-benar waktu yang singkat dibanding memakai kereta api biasa yang memakan waktu dua sampai tiga jam. Menginap dua hari satu malam di Bandung, ternyata kurang. Saya hanya mendatangi beberapa tempat mainstream seperti Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Jalan Braga, Mal Paris Van Java, Taman Lansia, dan Pasar Cisangkuy,” ceritanya.
Satu yang unik, ialah kafe bertema animasi karya Studio Ghibli. Kurokoffee, tepat sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan datang ke kafe itu. Tempat sangat cocok bagi pencinta animasi seperti My Neighbor Totoro dan Spirited Away.
Satu minggu mendatangi tiga kota tanpa perencanaan matang, nyatanya tidak buruk juga. “Memang bingung harus ke mana dulu, tapi rasa penasaran akan kota-kota terbayar lunas. Tetap aja di perjalanan selanjutnya saya harus memastikan punya daftar atau rencana tempat mana saja yang ingin dikunjungi,” kuncinya. (dra/k16)
OKTAVIA MEGARIA
Editor : Indra Zakaria