Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pura-Pura Bahagia: Mengenal Toxic Positivity yang Justru Merusak Mental

Indra Zakaria • 2026-01-31 13:29:27
Ilustrasi pura-pura bahagia.
Ilustrasi pura-pura bahagia.

PROKAL.CO– Di balik riuhnya kampanye kesehatan mental di media sosial, terselip sebuah jebakan emosional yang sering kali tidak disadari, yakni toxic positivity. Fenomena ini muncul dalam bentuk desakan untuk selalu berpikiran positif dan bahagia, sambil menolak atau mengabaikan emosi negatif yang sebenarnya merupakan bagian alami dari pengalaman manusia.

Secara harfiah, toxic positivity bukanlah tentang menjadi orang yang optimis, melainkan sebuah pemaksaan terhadap sikap positif yang justru membungkam perasaan jujur seseorang. Gampangnya, toxic positivity adalah orang yang pura-pura bahagia.

Hal ini sering kali muncul dalam interaksi sehari-hari melalui kalimat-kalimat penyemangat yang terdengar manis namun dangkal, seperti "ambil hikmahnya saja" atau "jangan menyerah, tetaplah tersenyum," saat seseorang sedang mengalami tekanan berat.

Para pakar psikologi memperingatkan bahwa perilaku ini bisa menjadi racun karena menciptakan standar palsu tentang kebahagiaan. Ketika seseorang ditekan untuk selalu bersyukur di tengah kegagalan atau duka, mereka cenderung merasa bersalah dan malu atas kesedihan yang mereka rasakan. Alhasil, emosi negatif tersebut tidak hilang, melainkan hanya terkubur dan berpotensi memicu stres berkepanjangan hingga kecemasan akut.

Perbedaan mendasar antara optimisme yang sehat dengan toxic positivity terletak pada penerimaan. Optimisme yang sehat mengakui adanya rasa sakit namun tetap mencari harapan, sementara toxic positivity menolak keberadaan rasa sakit itu sendiri. Validasi terhadap perasaan "sedang tidak baik-baik saja" justru merupakan langkah awal yang krusial untuk pemulihan mental yang lebih stabil dan jujur.

Masyarakat kini diajak untuk lebih bijak dalam memberikan dukungan emosional. Alih-alih memberikan solusi instan atau kalimat klise, mendengarkan tanpa menghakimi dan mengakui bahwa emosi negatif adalah hal yang wajar jauh lebih efektif dalam membantu seseorang melewati masa sulit. Menjadi manusiawi berarti berani menerima seluruh spektrum emosi, termasuk kesedihan dan kekecewaan.(*)

Editor : Indra Zakaria