CIBINONG – Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia kembali bertambah dengan ditemukannya spesies baru cecak jarilengkung dari Jawa Timur. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mengidentifikasi spesies yang diberi nama ilmiah Cyrtodactylus pecelmadiun. Nama unik ini sengaja dipilih untuk mengangkat kearifan lokal kuliner "Pecel Madiun", mengingat lokasi penemuan spesies ini berada di sekitar wilayah Madiun, Maospati, hingga Mojokerto.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, menjelaskan bahwa pemberian nama tersebut merupakan bagian dari upaya peneliti untuk memperkenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains global. Strategi ini sebelumnya juga telah diterapkan pada spesies lain seperti C. papeda dari Pulau Obi. Penemuan ini semakin menegaskan bahwa eksplorasi keragaman tersembunyi (hidden diversity) di Pulau Jawa masih sangat menjanjikan, meskipun penelitian sudah dimulai sejak era kolonial Belanda.
Secara fisik, C. pecelmadiun memiliki ciri khas warna dasar cokelat kehitaman. Cecak ini memiliki ukuran tubuh yang relatif mungil, dengan panjang tubuh jantan dewasa sekitar 67,2 mm dan betina mencapai 59,0 mm. Para peneliti mengamati bahwa spesies ini memiliki daya adaptasi yang luar biasa tinggi terhadap lingkungan urban. Mereka sering ditemukan di habitat yang bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia, seperti di tanggul jembatan, tumpukan genteng, hingga kebun di permukiman desa, dengan kebiasaan hidup yang tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah.
Secara filogenetik, spesies baru ini diketahui berkerabat dekat dengan C. petani dan merupakan bukti kedua keberadaan grup darmandvillei di Jawa, sebuah kelompok yang sebenarnya lebih melimpah di kawasan Sunda Kecil. Hal ini menunjukkan dinamika persebaran spesies yang menarik di wilayah Nusantara. Secara keseluruhan, genus Cyrtodactylus di Jawa kini terbagi dalam dua kelompok besar, yakni grup darmandvillei dan marmoratus, yang keduanya merupakan kompleks spesies dengan keragaman yang sangat tinggi.
Hasil penelitian penting ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Zootaxa pada awal tahun 2025. Penemuan ini diharapkan menjadi referensi baru dalam studi taksonomi dan upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Para peneliti BRIN pun berkomitmen untuk terus melanjutkan eksplorasi, mengingat masih banyak spesies di Pulau Jawa yang diyakini belum teridentifikasi secara menyeluruh dan menunggu untuk diungkap ke hadapan publik.(*)
Editor : Indra Zakaria