Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jejak Tradisi Mengepang Rambut Pria: Budaya Kuno Bangsa Arab yang Kini Menghilang

Indra Zakaria • Selasa, 10 Maret 2026 - 17:10 WIB

Sheikh Abdullah bin Abdul Rahman Al-Yahya bersama Mohammed Al-Ma'rawi  difoto bulan Maret 1914. Tampak mereka berkepang.
Sheikh Abdullah bin Abdul Rahman Al-Yahya bersama Mohammed Al-Ma'rawi difoto bulan Maret 1914. Tampak mereka berkepang.

PROKAL.CO- Tradisi mengepang rambut sering kali dianggap sebagai gaya estetika modern, namun bagi bangsa Arab, kebiasaan ini merupakan warisan identitas yang telah mengakar sejak zaman pra-Islam. Hingga awal abad ke-20 atau sekitar seratus tahun yang lalu, pria di berbagai wilayah Jazirah Arab masih mempertahankan tradisi mengepang rambut, sebuah praktik kuno yang jejaknya dapat ditarik hingga masa sebelum Masehi.

Berdasarkan catatan sejarah dan artefak kuno, seni mengepang rambut di kalangan masyarakat Arab bukan sekadar pilihan gaya, melainkan simbol kejantanan, status sosial, dan afiliasi suku. Para ksatria dan pengembara padang pasir pada masa itu kerap tampil dengan rambut panjang yang dikepang rapi, sebuah pemandangan yang lazim ditemui dalam dokumentasi sejarah awal mengenai kehidupan Badui.

Hingga awal abad ke-20 atau sekitar seratus tahun yang lalu, pria di berbagai wilayah Jazirah Arab masih mempertahankan tradisi mengepang rambut.
Hingga awal abad ke-20 atau sekitar seratus tahun yang lalu, pria di berbagai wilayah Jazirah Arab masih mempertahankan tradisi mengepang rambut.

Tradisi ini telah terdokumentasi jauh sebelum masehi, di mana ukiran dan relief kuno sering kali menggambarkan figur-figur dari semenanjung Arab dengan tatanan rambut kepang yang khas. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga masa keemasan Islam dan bertahan melewati berbagai pergantian dinasti, membuktikan betapa kuatnya nilai tradisi tersebut dalam budaya mereka.

Memasuki era modern, tepatnya pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kebiasaan ini perlahan mulai memudar seiring dengan perubahan gaya hidup dan pengaruh budaya luar. Meski kini pria Arab lebih dikenal dengan penutup kepala khas seperti ghutra atau shmagh, catatan sejarah mengenai rambut kepang tetap menjadi bagian penting dari studi antropologi mengenai masyarakat Arab kuno.

Pudarnya tradisi ini menandai akhir dari sebuah era di mana identitas visual seorang pria Arab ditentukan oleh jalinan rambut yang rumit. Namun, bagi para sejarawan, fakta bahwa kebiasaan ini mampu bertahan selama ribuan tahun—dari masa sebelum Masehi hingga satu abad yang lalu—menunjukkan ketangguhan budaya Jazirah Arab dalam menjaga warisan leluhur mereka.(*)

Editor : Indra Zakaria