PROKAL.CO- Fenomena menyita telepon seluler (HP) milik pasangan sering kali disalahartikan sebagai wujud kepedulian atau rasa sayang yang mendalam. Namun, para ahli hubungan justru menekankan bahwa tindakan tersebut lebih mengarah pada perilaku kontrol dan dominasi yang tidak sehat. Dalam sebuah hubungan yang dewasa, cinta yang kuat seharusnya dibangun di atas landasan kepercayaan serta penghormatan terhadap privasi masing-masing individu.
Penyitaan HP kini secara luas dianggap sebagai "red flag" atau sinyal bahaya dalam dinamika asmara. Hal ini disebabkan karena tindakan tersebut merupakan bentuk nyata dari pelanggaran privasi dan batasan pribadi. Cinta yang tulus tidak seharusnya menghilangkan hak seseorang atas ruang pribadinya, termasuk kerahasiaan percakapan dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja. Saat salah satu pihak merasa memiliki hak penuh untuk menguasai akses komunikasi pasangannya, muncul ketidakseimbangan yang berisiko merusak kesehatan mental kedua belah pihak.
Munculnya keinginan untuk memeriksa atau menyita perangkat elektronik secara paksa biasanya berakar dari rasa tidak aman atau insecurity yang akut. Sering kali, rasa takut kehilangan atau trauma pengkhianatan di masa lalu menjadi pemicu utama. Meski demikian, mengamankan perangkat fisik bukanlah solusi jangka panjang karena tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah ketidakpercayaan yang ada. Alih-alih memberikan ketenangan, tindakan ini justru menciptakan suasana yang mengekang.
Jika penyitaan dilakukan dengan unsur paksaan, ancaman, atau bertujuan untuk mengisolasi pasangan dari lingkungan sosialnya, maka tindakan ini sudah masuk ke dalam kategori hubungan toksik. Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi setiap individu untuk tumbuh dan berkembang, bukan justru membatasi akses mereka terhadap dunia luar. Hal ini merupakan bentuk kekerasan emosional yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya.(*)
Kunci utama dalam menghadapi kecurigaan dalam hubungan adalah melalui komunikasi yang terbuka dan jujur, bukan dengan tindakan represif yang merugikan. Pasangan yang saling mencintai akan berusaha membangun rasa percaya melalui transparansi yang disepakati bersama. Kesimpulannya, cinta sejati bersifat membebaskan dan menenangkan, sementara kontrol berlebih melalui penyitaan HP hanya akan memicu ketegangan yang berujung pada keretakan hubungan. (*)
Editor : Indra Zakaria