Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jangan Tabu Lagi! Sebelum Naik Pelaminan, Pasangan Wajib Buka-Bukaan Soal Penghasilan hingga Utang Piutang

Redaksi Prokal • Rabu, 20 Mei 2026 | 11:15 WIB
Ilustrasi keuangan.
Ilustrasi keuangan.

PROKAL.CO— Menyatukan dua isi kepala dalam ikatan sakral pernikahan sejatinya bukan hanya perkara menyelaraskan perasaan cinta dan romantis semata. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah komitmen besar untuk siap berhadapan langsung dengan realitas finansial bersama di masa depan. Guna menghindari keretakan rumah tangga di kemudian hari, para pasangan sangat disarankan untuk mulai menurunkan ego dan berani membahas berbagai aspek keuangan sejak sebelum hari pernikahan tiba.

Psikolog sekaligus konselor pernikahan, Ratna Sari, menegaskan bahwa transparansi nominal penghasilan merupakan pondasi paling esensial yang wajib dibicarakan secara jujur oleh setiap pasangan. Keterbukaan mengenai sumber pendapatan dan stabilitas finansial ini dinilai sangat krusial agar kedua belah pihak dapat menyelaraskan standar gaya hidup, sekaligus merancang target keuangan bersama tanpa ada yang merasa terbebani.

Namun, pembicaraan tidak boleh berhenti hanya pada masalah pemasukan. Ratna mengingatkan bahwa pasangan juga harus memiliki keberanian untuk saling membeberkan rekam jejak utang, beban cicilan berjalan, jumlah tabungan, portofolio investasi, hingga komitmen tanggung jawab finansial kepada orang tua atau keluarga besar (sandwich generation).

’’Bukan soal boleh atau tidak memberi ke keluarga, tetapi nilai dan kesepakatannya harus dibicarakan bersama, bukan keputusan sepihak,’’ tegas Ratna.

Selain itu, gaya hidup dan pola konsumsi sehari-hari juga memegang peranan penting untuk dikuliti sejak awal. Hal-hal mendetail seperti kebiasaan belanja bulanan, frekuensi penggunaan kartu kredit, hingga skala prioritas pengeluaran rumah tangga wajib disepakati. Begitu pula dengan proyeksi rencana finansial jangka pendek maupun jangka panjang, mulai dari pos anggaran persalinan anak, biaya pendidikan, kepemilikan asuransi, hingga strategi mempersiapkan dana pensiun di hari tua.

Mengingat banyaknya instrumen keuangan yang harus dibedah, Ratna memberikan tips agar pembicaraan berat ini tidak dilakukan secara terburu-buru atau diselesaikan hanya dalam satu waktu. Pembahasan mengenai uang ini justru sebaiknya dicicil secara bertahap dalam beberapa kali kesempatan. Kuncinya ada pada konsistensi dan atmosfer yang santai namun tetap terbuka, sehingga diskusi masa depan ini berjalan mengalir dengan nyaman serta tidak terasa kaku layaknya sebuah proses audit keuangan korporat. (*)

Editor : Indra Zakaria
#rumah tangga #nikah