MANGUPURA -Kasus kematian ternak celeng atau babi yang terus bertambah di Kabupaten Badung menuntut pemerintah lebih serius dalam penanganan. Sebab, selain peternakan babi sebagai salah satu sumber penghasilan masyarakat, juga mengingat Hari Raya Galungan dan Kuningan kian dekat. Seperti diketahui, menjelang Galungan dan Kuningan, permintaan daging babi biasanya meningkat. Baik untuk sarana upacara, maupun bahan masakan lokal.
Diberitakan BALI EXPRESS, berkaitan dengan ini, Sekretaris Daerah Kabupaten Badung, I Wayan Adi Arnawa langsung mengumpulkan jajarannya, Rabu (5/2). Didampingi Asisten II dr Gede Putra Suteja dan Kabag SDA IGN Gunawan, ia memimpin rapat penanganan kasus kematian babi yang meresahkan peternak dan masyarakat ini. Rapat dihadiri OPD terkait, perwakilan camat dan perwakilan Kelompok Tani Andalan (KTA) Kabupaten Badung.
Dalam rapat tersebut, Sekda Adi Arnawa menginstruksikan kepada OPD teknis maupun OPD terkait lainnya untuk meningkatkan sinergitas guna mempercepat proses penyelamatan sentra ternak babi yang berbasis kemasyarakatan di Kabupaten Badung. "Kami prihatin sekaligus sedih dengan apa yang terjadi saat ini. Tentu ini menjadi pukulan berat bagi para peternak kita, karena berdampak dan berpengaruh langsung pada sisi kestabilan ekonomi maupun pada sisi ketersediaan pangan masyarakat," ungkapnya.
Apalagi, lanjut mantan Kepala Bapenda ini, dalam beberapa hari ke depan masyarakat akan menyambut hari raya. Ini tentunya juga akan berpengaruh terhadap supply-demand daging babi yang memang menjadi kebutuhan pokok masyarakat saat Galungan dan Kuningan. "Untuk menjamin kesehatan daging yang akan dikonsumsi masyarakat, saya minta kepada OPD teknis menyiapkan dokter hewan untuk melakukan pendampingan dan pemeriksaan terhadap hewan yang akan dipotong saat penampahan Galungan," tegasnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya kasus kematian babi, Sekda Adi Arnawa juga meminta semua camat untuk mengumpulkan Kadus dan Kaling di wilayah masing-masing guna memudahkan OPD teknis dalam memberikan sosialisasi informasi yang benar. Sehingga diharapkan bisa meredam keresahan dan kepanikan masyarakat tentang kematian babi. "Bisa juga kita buatkan pamflet sosialisasi pencegahan kematian babi yang simpel sehingga mudah dipahami masyarakat. Sembari kita menyiapkan formulasi payung hukum untuk memberikan dana kompensasi guna meringankan beban kerugian peternak kita, tanpa harus melanggar aturan sehingga tidak menjadi temuan dikemudian hari," gebernya.
Sementara, itu Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Gede Asrama melaporkan, Peternakan babi menjadi salah satu sentra unggulan yang dimiliki oleh Kabupaten Badung. Ini mengingat sebagian besar masyarakat pedesaan di Badung merupakan pelaku langsung usaha ternak babi. Menurut data pihaknya, Kecamatan Abiansemal dan Mengwi menjadi daerah yang terdampak paling tinggi di wilayah Kabupaten Badung dengan jumlah ternak babi yang mati per 4 Februari mencapau 600 ekor. Sementara untuk keseluruhan wilayah kabupaten Badung sejumlah 804 ekor atau sekitar 5 persen dari 12 ribu ekor populasi babi yang ada. "Untuk mencegah penyebaran tersebut, kami sudah melakukan langkah penanggulangan secara cepat dengan memberikan vaksinasi maupun melakukan penyemprotan disinfektan pada kandang warga," ungkapnya.
Pihaknya juga berharap masyarakat lebih proaktif dalam memberikan laporan tentang kondisi hewan ternaknya kepada Dinas Pertanian dan Pangan. "Sehingga kami bisa menyiapkan tim untuk melakukan penanganan," kata Asrama.
Masih terlait dengan masalah African Swine Fever (ASF) atau virus demam babi membuat warga kian resah. Terkait dengan masalah celeng di Denpasar, Virus ini menyerang babi dan dapat menyebabkan babi mati. Di Denpasar dari bulan Desember 2019 hingga 23 Januari 2020 sebanyak 45 ekor babi mati karena sakit.
Dari 20 ribu populasi babi di kota Denpasar, penurunan babi mencapai angka 50 persen. Penurunan tersebut disebabkan karena babi sudah banyak yang dijual dengan harga murah Dan banyak pula yang mati. Kebanyakan babi-babi itu mati karena sakit.
Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar Gede Ambara Putra menjelaskan, penambahan bibit baru belum dianjurkan mengingat banyaknya ternak babi yang mati. "Sementara kami menyarankan kepada peternak jangan dulu menambah bibit baru," terangnya.
Ambara menambahkan, untuk keamanan dan keselamatan babi-babi itu, peternak sebisa mungkin melaksanakan biosecurity, dekontaminasi dengan desinfektan, depopulasi, memasak pakan, membatasi pergerakan hewan.
Dari 45 ekor babi yang mati, di Banjar Babakan Sari, Desa Tanjung Bungkak, Kecamatan Denpasar, tercatat sebanyak 9 ekor celeng mati. Namun belum diketahui secara pasti penyebab kematian dari babi itu. Dari pantauan di lapangan, salah satu usaha ternak babi terlihat biasa saja. Namun siapa sangka dari 40 ekor babi yang dipelihara, 9 ekor telah mati. Bahkan dari kematian babi itu pemilik usaha mengalami kerugian mencapai Rp 9 juta lebih.
Saat ditanya penyebab kematian babi itu, pemilik usaha ternak babi Komang Sri Wahyuni asal Nusa Penida mengaku tidak tahu. Babi-babi itu mati begitu saja. "Saya tidak tahu matinya karena apa. Awalnya babi-babi ini tidak mau makan selama 3 hari. Bengong-bengong saja. Biasanya ribut dan ngamuk-ngamuk saat mau makan. Tapi ini beda. Setelah itu lemas dan mati. Setelah dicek dari Dinas Pertanian hanya dibilang mati karena sakit," ujarnya.
Sri pun sudah melakukan antisipasi dengan cara membersihkan kandang secara rutin. "Biasanya saya semprot kandang-kandangnya. Dua kali sehari sesuai yang diarahkan oleh dinas," tambahnya.
Disisi lain peternak babi Ketut Arta yang juga berasal dari Nusa Penida ini mengatakan virus babi belum merambah di tempat usahanya. Babi-babinya tidak ada yang mati karena virus. "Kalau mati karena virus sih tidak Ada. Kemarin juga sudah dicek, babi-babi disini masih aman," jelasnya saat ditemui Rabu (3/2).
Sementara, Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar Gede Ambara Putra menjelaskan Dinas Pertanian sudah melakukan pemeriksaan terhadap babi di peternakan Banjar Babakan Sari Desa Tanjung Bungkak Kecamatan Denpasar. Dari hasil pemeriksaan, belum diketahui secara pasti faktor penyebab kematian babi tersebut. "Kami sudah cek. Sudah periksa. Tapi kami belum tahu apakah penyebabnya adalah virus ASF atau yang lainnya. Kami juga masih menunggu hasil lab dari sample yang diambil dari peternakan," jelasnya.
Meskipun terbilang aman, namun para peternak babi ini mengalami penurunan omset penjualan. Biasanya menjelang hari raya Galungan, orderan Babi bisa mencapai 8 ekor. Tapi hingga saat ini belum ada pelangan yang menghubungi mereka untuk memesan celeng (babi dewasa). Bahkan harganya pun turun dari Rp 35 ribu per kilogram menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Anjloknya penjualan daging babi juga disebabkan karena warga khawatir untuk mengkonsumsi daging babi dan untuk sementara memilih tidak membeli daging babi. (adi/dhi/art)
Editor : izak-Indra Zakaria