Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Publik Paling Khawatir Anggota Keluarga Tertular Covid-19

izak-Indra Zakaria • Senin, 13 April 2020 - 21:26 WIB
Photo
Photo

JAKARTA – Perkembangan virus Covid-19 sudah pada taraf sangat mengkhawatirkan, karena telah menyebar ke 34 provinsi di Indonesia. Masyarakat pun semakin tenang. Yang paling dikhawatirkan publik adalah tertularnya keluarga mereka dari virus yang menyebar dengan cepat. Mereka juga khawatir terhadap ketersediaan dan harga bahan makan.

Fakta itu terungkap dalam survei yang dilakukan Alvara Research Center. Hasanuddin Ali, founder and CEO Alvara Research Center menyatakan, penyebaran Covid-19 yang semakin meluas, membuat publi bertambah was-was. “Hal itu dapat berpengaruh kepada kondisi kejiwaan masyarakat,” terang dia.

Hasanuddin menyatakan, menurut survei yang dilakukan lembaganya, persoalan yang paling dikhawatirkan masyarakat adalah tertularnya anggota keluarga oleh Covid-19. Jumlah mereka yang khawatir mencapai 94,9 persen. Selanjutnya, sebanyak 89,9 persen merasa khawatir terhadap kenaikan harga makanan. Selain itu, 61,8 persen publik juga khawatir terhadap ketersediaan bahan makanan (selengkapnya baca grafis).

Menurut pria asal Gresik itu, wabah Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari sebulan di Indonesia itu benar-benar telah mengganggu secara lahir dan batin masyarakat. “Selain kekhawatiran akan anggota keluarga yang tertular Covid-19, publik juga sangat khawatir dengan persoalan ekonomi,” terang dia.

Terkait dengan tingkat kedisplinan dan partisipasi warga sekitar dalam menjalankan social atau physical distancing di lingkungan mereka cukup rendah. Ketika public diminta menilai tingka tkedisplinan dan partisipasi masyarakat dalam menjalankan social atau physical distancing di lingkungan sekitarnya, hasil survei menunjukkanhanya 8,3 persen menilai semuanya benar-benar patuh, 38,7 persen menilai sebagian kecil mengikuti, 50,2 persen menilai sebagian besar mengikuti, 2,6 persen menilai tidak ada yang mengikuti, dan 0,2 persen menjawab tidak tahu.

Bagaimana dengan anjuran di rumah saja, Hasan mengatakan, mayoritas public melaksanakan anjuran untuk tinggal di rumah. Mereka paling banyak keluar rumah hanya satu sampai dua kali dalam seminggu.“Namun ada kecenderungan kelompok masyarakat dengan status social ekonomi menengah ke bawah frekuensi keluar rumahnya lebih tinggi,” terang alumnus ITS itu.

Menurut dia, pada kelompok sosial ekonomi menengah bawah, perilaku keluar rumah lebih dari 10 kali. Cenderung lebih banyak dibandingkan kelompok sosial diatasnya. Perilaku kelompok menengah bawah didorong oleh berbagai faktor. Yaitu, tuntutan ekonomi yang tetap harus dipenuhi atau literasi masyarakat terhadap kebijakan tinggal di rumah belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat.

Dalam survei itu, publik juga ditanya terkait kebijakan larangan mudik lebaran. Sebanyak 80,6 persen setuju tidak ada mudik lebaran, 11,5 persen tidak setuju tidak ada mudik, dan 7,9 persen tidak tahu.

Responden dalam survei itu juga menilai terkait respons pemerintah terhadap penanganan pandemi Covid-19. 49,6 persen publik menilai respons Pemerintah Indonesia terhadap penanganan wabah itu baik. sedangkan 22,0 persen menilai biasa saja, dan 28,3 persen menilai respons pemerintah buruk.

Hasan menambahkan, pandemi Covid-19 melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru, seperti hidup lebih bersih atau higienis. Sebagian besar ingin pergi ke tempat wisata jika wabah Covid-19 selesai. “Publik menilai adanya perubahan dalam kehidupan mereka sehari-hari,” terang pria yang tinggal di Depok itu.

Sebanyak 78 persen berubah lebih bersih atau higienis, 60,5 persen berubah lebih banyak waktu aktivitas di rumah, 48 persen berubah lebih sering menjaga jarak dengan orang lain’. Selain perilaku yang mengikuti imbauan pemerintah, terdapat sisi lain dimana 40,9 persen berubah lebih akrab dengan keluarga, 25,9 persen mengalami kesepian, dan 24,8 persen melakukan perubahan pada belanja.

Survei tersebut dilakukan secara online pada 4- 9 April 2020, dan melibatkan 504 responden yang tersebar dari berbagai daerah. “Karena sifatnya survei online, maka survei ini memiliki keterbatasan tidak bias digunakan untuk mewakili seluruh populasi Indonesia,” pungkas Hasan. (lum)

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona