Sekelompok orang tidak dikenal, jumlahnya diperkirakan mencapai 100 orang, menyerang Mapolres Jeneponto pada Kamis (27/4) dini hari. Akibatnya, sejumlah fasilitas di mapolres rusak. Selain itu, seorang personel Polres Jeneponto berpangkat bripka mengalami luka tembak di perut.
Terdapat dua video yang beredar terkait penyerangan tersebut. Pada salah satu video, tampak sejumlah orang mencoba menerobos pagar Mapolres Jeneponto. Terdengar pula teriakan-teriakan untuk membakar. Beberapa orang terlihat melempar batu. Lalu, muncul api yang diduga berasal dari bom molotov.
Beberapa bagian bangunan di dalam mapolres yang berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, itu rusak.
Di antaranya, ruang propam, ruang SKCK satintelkam, jendela kaca ruang identifikasi satreskrim, serta Masjid Asy Syurti. Selain itu, mobil dalmas milik Polres Jeneponto bernomor polisi XIV-115-33 dibakar di areal persawahan di Kelurahan Panaikang, Kecamatan Binamu. Diduga, penyerangan tersebut terkait dengan peristiwa sehari sebelumnya (26/4). Yakni, pengeroyokan yang ditengarai dilakukan anggota Reskrim Polres Jeneponto terhadap personel TNI yang merupakan warga Jeneponto, Pratu Irsan dan Prada Amran.
Namun, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Setyo Boedi Moempoeni Harso yang dikonfirmasi awak media saat mengunjungi Mapolres Jeneponto masih membantahnya. Dia tidak ingin berspekulasi terkait siapa di balik penyerangan Mako Polres Jeneponto tersebut. Sebab, itu butuh bukti. ”Itu masih tahap penyelidikan. Sudah saya minta tim labfor (laboratorium forensik) dan reskrim untuk tindak lanjuti. Kita tidak boleh menuduh. Kita perlu fakta sebenarnya,” katanya dilansir dari Fajar kemarin.
Polisi bintang dua itu mengaku turun langsung ke lapangan untuk melihat dampak kerusakan di Mapolres Jeneponto. Sekaligus mencari tahu asal muasal dari penyerangan tersebut. ”Mengecek fakta di lapangan seperti apa, melihat kerusakan, serta mendengar langsung laporan dari Kapolres seperti apa,” kata Setyo.
Dia berharap tidak ada riak atau reaksi dari anggota kepolisian pascainsiden penyerangan tersebut. Layanan di Mapolres Jeneponto juga harus tetap berjalan. ”Sudah saya kumpulkan tadi sejumlah perwira. Utamakan masyarakat, polres harus tetap berjalan karena masyarakat masih membutuhkan kita,” tegasnya.
Tadi malam Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santoso dan Kapolda Sulsel Irjen Setyo Boedi Moempoeni Harso bertemu dan menggelar konferensi pers di Makodam XIV/Hasanuddin. Keduanya sepakat bahwa kasus itu masih dalam penyelidikan dan dibentuk tim gabungan TNI-Polri. Sejauh ini belum ada titik terang siapa pelaku penyerangan Mapolres Jeneponto. ”Kita tunggu hasil penyidikan yang lebih mendalam. Statusnya masih OTK (orang tidak dikenal),” kata Totok.
Dia membenarkan ada gesekan antara personel Kodam V Brawijaya dan Kodam XIII Merdeka dengan anggota Polres Jeneponto. Namun, permasalahan tersebut telah didamaikan. Perwakilan Kodam V/Brawijaya dan Kodam XIII/Merdeka telah melakukan pemeriksaan. Sehingga belum bisa dipastikan kaitannya dengan insiden penyerangan mapolres. ”Kami komitmen jika memang ada personel TNI yang terlibat akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegas Totok.
Peristiwa tersebut terjadi Rabu (26/4) pukul 02.20 Wita. Ketika itu, Pratu Irsan (personel Kodam Brawijaya) dan Prada Amran Faisal (personel Kodam Merdeka) bersama dua temannya akan masuk ke sebuah warung makan. Namun, tiba-tiba ada anggota Satuan Reskrim Polres Jeneponto. Mereka kemudian terlibat cekcok.
Beberapa menit kemudian, datang personel Satuan Reskrim Polres Jeneponto menggunakan dua mobil Avanza silver. Mereka mengepung dan terjadilah pengeroyokan. Akibatnya, Pratu Irsan mengalami luka pada batang hidung.
Totok menegaskan, kesalahpahaman tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab penyerangan Mapolres Jeneponto. Danpom dari masing-masing Kodam asal anggota TNI yang terlibat sudah turun memeriksa di Jeneponto. Begitu pun Propam Polda Sulsel ikut mengusut oknum polisi yang terlibat. ”Saat ini Danpomdam kedua kodam (Brawijaya dan Manado) masih di Jeneponto untuk mengambil keterangan. Kemudian, dari polda sudah diambil alih oleh Propam dan minta tidak lama segera disampaikan,” terang Totok.
Tim gabungan TNI dan Polri, kata dia, akan mengusut peristiwa penyerangan tersebut hingga diperoleh kesimpulan terkait pelakunya. Pimpinan kedua instansi juga sudah mendatangi langsung Mapolres Jeneponto. ”Sampai saat ini juga itu tidak ada kaitan dengan TNI, tidak ada. Jadi, saat ini masih bicara tindak kriminal,” ucapnya. ”Saya sampaikan, yang melakukan pelemparan atau penyerangan itu adalah orang tidak dikenal,” tegas Totok.
Sementara itu, Irjen Setyo Boedi Moempoeni Harso mengatakan, Bripka Musmuliadi, personel Polres Jeneponto yang terkena tembakan di bagian perut, telah menjalani operasi di RS Bhayangkara. Saat ini masih fase observasi. ”Yang bersangkutan ada di sekitar polres (saat terjadi penyerangan). Dia mengalami luka tembak di perut, tembus,” ujarnya.
Pihaknya terus mengumpulkan bukti-bukti di TKP untuk mendalami penembakan tersebut. ”Untuk uji balistiknya masih sementara dilakukan, termasuk olah TKP. Belum ada laporan yang saya terima,” kata Setyo. Terkait insiden pengeroyokan sehari sebelumnya yang diduga melibatkan personel Satreskrim Polres Jeneponto, Setyo menyatakan masih mendalaminya. ”Kita masih lakukan pendalaman, apakah fakta seperti itu. Kalau memang itu anggota, tentu kita akan berikan sanksi,” ujarnya. (edo-akb/maj/zuk/idr/syn/c6/fal)
Editor : izak-Indra Zakaria