Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Awal Ramadan Potensi Berbeda, Muhammadiyah Tetapkan 11 Maret, NU Kemungkinan 12 Maret

Indra Zakaria • Kamis, 7 Maret 2024 - 15:57 WIB
ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA – Kementerian Agama akhirnya merespons potensi perbedaan awal Ramadan 1445 H/2024 M. Lewat surat edaran Menag Yaqut Cholil Qoumas yang dikeluarkan Selasa (5/3) malam, masyarakat diminta tetap menjaga toleransi menyikapi potensi perbedaan tersebut.

Seperti diketahui, PP Muhammadiyah sudah sejak awal tahun lalu mengeluarkan maklumat. Di antara isinya adalah awal puasa tahun ini ditetapkan jatuh pada Senin, 11 Maret 2024. Muhammadiyah sudah bisa menetapkan awal puasa karena menggunakan metode hisab.

Sementara NU, selain menggunakan hisab, juga melakukan rukyat atau pengamatan hilal. Dari metode hisab, Minggu (10/3) nanti hilal memang sudah di atas ufuk. Tetapi tingginya disebut masih di bawah satu derajat. Sehingga kecil kemungkinan untuk bisa dirukyat. Jadi, NU hampir dipastikan mengawali puasa pada Selasa, 12 Maret 2024.

Perbedaan penetapan hari besar Islam itu sama seperti tahun lalu. Bedanya pada 2023, perbedaan terjadi pada penetapan 1 Syawal atau Idulfitri. Tahun lalu Muhammadiyah dengan metode hisabnya menetapkan Lebaran jatuh pada 21 April. Sementara NU dan pemerintah menetapkan Lebaran jatuh pada 22 April. Adapun untuk awal puasa, tahun lalu serentak pada 23 Maret.

“Umat Islam diimbau untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan toleransi dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan 1 Ramadan 1445 Hijriah/2024 Masehi,’’ kata Yaqut di Jakarta, Rabu (6/3). Dia mengatakan dalam surat edaran menyambut Ramadan tersebut, isinya tidak hanya soal sikap terhadap perbedaan awal puasa, tetapi juga ada poin lain, terkait dengan panduan ibadah selama bulan puasa.

Yaqut mengatakan, di antaranya adalah dalam menjalankan ibadah puasa dan Lebaran nanti, umat Islam diminta sesuai syariat dan menjaga toleransi. Termasuk juga soal penggunaan pengeras suara, harus tetap merujuk pada pedoman yang dikeluarkan pada 2022 lalu.

Kemudian saat malam takbir nanti, diminta mematuhi aturan pemerintah daerah setempat. Pelaksanaan materi ceramah kegiatan selama Ramadan dan salat Idulfitri, berpedoman pada Surat Edaran Menag 9/2023. ’’Materi ceramahnya menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah, mengutamakan nilai-nilai toleransi, persatuan dan kesatuan bangsa, serta tidak bermuatan politik praktis,’’ jelasnya.

Umat Islam juga diimbau mengoptimalkan ibadah zakat, infak, sedekah, sampai wakaf. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan sosial, sehingga masyarakat yang kurang beruntung dari sisi ekonomi, tetap memperoleh keberkahan selama bulan puasa nanti. Selain itu, bisa tetap sukacita menyambut Ramadan.

Di bagian lain, Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag mengeluarkan surat edaran terkait pembelajaran di madrasah selama bulan puasa. Di antara ketentuannya adalah hari belajar pada 1 Ramadan diliburkan satu hari. Penetapan 1 Ramadan tetap menunggu hasil sidang isbat Kemenag.

Kemudian kegiatan pembelajaran sepanjang Ramadan diarahkan untuk peningkatan keimanan, ketakwaan, pendalaman, pemahaman, dan keterampilan ibadah. Madrasah juga diperbolehkan menjalankan program pesantren Ramadan atau aktivitas pembinaan keagamaan lainnya. Untuk jam belajar setiap harinya, diatur oleh masing-masing kepala madrasah. Dengan ketentuan merujuk dari kebijakan di pemerintah daerah setempat.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam untuk mengisi Ramadan dengan memperbanyak ibadah. Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar mengatakan, setiap umat Islam patut bersyukur diberikan panjang umur sehingga bisa bertemu bulan puasa kembali.

Dia mengatakan, salah satu keutamaan Ramadan adalah penuh rahmat dan ampunan. ’’Allah telah menjanjikan maghfirah (ampunan), rahmat, dan berbagai kenikmatan yang akan diberikan pada umat Islam yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah di bulan Ramadan,’’ tuturnya.

Anwar mengatakan, sebagai manusia, tentu tidak luput dari dosa, sehingga pada momen Ramadan nanti, umat Islam harus betul-betul membersihkan dosa. Caranya dengan meminta ampun sedalam-dalamnya kepada Allah. Menurutnya, sebesar apapun dosa yang dilakukan apabila menunaikan ibadah puasa Ramadan dengan ikhlas dan semata mencari rida Allah, nanti akan diberikan ampunan. (wan/mia/jpg/dwi/k16)

Editor : Indra Zakaria