Asap putih dengan intensitas tipis dan sedang teramati mencapai ketinggian 25–50 meter dari puncak kawah. Untuk pengamatan instrumen kegempaan, terdapat 45 kali guguran, 20 kali guguran hybrid atau fase banyak, 1 guguran tektonik, dan 1 guguran awan panas. ’’Terjadi juga deformasi kurang dari 0,2 cm per hari dalam empat hari terakhir,’’ paparnya.
Dengan kondisi tersebut, PVMBG memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat. Yakni, potensi bahaya guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya Sungai Doyong sejauh maksimal 5 kilometer dan sejauh 7 kilometer di Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng. ’’Di sektor tenggara atau Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer,’’ jelas Hendra.
Selain itu, terdapat potensi bahaya berupa lontaran material vulkanik yang menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Lontaran material bisa terjadi saat terdapat letusan eksplosif. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu guguran awan panas dalam radius bahaya.
Terkait status Gunung Merapi, hingga kini PVMBG memastikan masih pada tingkat siaga atau level III. Status tersebut berlaku sejak 5 November 2020 dan akan ditinjau bila terjadi aktivitas yang signifikan.
Dia menambahkan, Gunung Merapi memasuki masa erupsi efusif sejak 4 Januari 2021. Hal itu ditandai dengan pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran. ’’Saat itu Merapi memiliki dua kubah lava. Yakni, di barat daya dan tengah kawah,’’ terang Hendra.
Kubah lava di barat daya saat itu tercatat 1.598.700 meter kubik dan kubah lava di tengah kawah mencapai 2.276.400 meter kubik. ’’Bila kubah longsor, diprediksi mencapai 7 kilometer dan 5 kilometer,’’ jelasnya. (idr/c18/fal)