Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menteri Bappenas Sebut Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak daripada Lapangan Kerja, Netizen Langsung Kulik Harta Rachmat Pambudy

Redaksi Prokal • 2026-01-30 13:02:32
Total harta kekayaan Rachmat tercatat sekitar Rp 12,02 miliar, usai pernyataan MBG viral. (Instagram Rachmatpambudy)
Total harta kekayaan Rachmat tercatat sekitar Rp 12,02 miliar, usai pernyataan MBG viral. (Instagram Rachmatpambudy)

 

JAKARTA – Pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih mendesak ketimbang penciptaan lapangan kerja, memicu gelombang diskusi hangat di ruang publik. Perdebatan ini tidak hanya menyasar substansi kebijakan, tetapi juga merembet pada profil personal sang menteri, seiring meningkatnya kekritisan masyarakat dalam menelusuri latar belakang pejabat negara.

Di tengah ramainya perbincangan di media sosial, perhatian netizen mulai bergeser pada catatan kekayaan Rachmat Pambudy. Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan ke KPK, total kekayaan Rachmat tercatat berada di angka Rp 12,02 miliar. Aset tersebut meliputi tanah, bangunan, kendaraan, serta kas dan setara kas. Meskipun angka ini masuk dalam kategori menengah di jajaran Kabinet Merah Putih, profil ekonomi sang menteri tetap menjadi bumbu dalam perdebatan mengenai skala prioritas pembangunan nasional.

Dinamika opini publik menunjukkan kecenderungan untuk mengaitkan kondisi ekonomi pribadi pejabat dengan kebijakan yang mereka telurkan. Isu Makan Bergizi Gratis dan lapangan kerja merupakan dua hal yang sangat sensitif karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan perut dan keberlangsungan ekonomi rumah tangga. Warganet pun mulai membandingkan sudut pandang pejabat dengan realitas hidup masyarakat bawah, meskipun LHKPN sendiri sebenarnya merupakan instrumen transparansi dan akuntabilitas, bukan alat untuk menghakimi kebijakan secara sepihak.

Hingga saat ini, Rachmat Pambudy belum memberikan tanggapan khusus mengenai sorotan publik terhadap kekayaan pribadinya. Namun, substansi mengenai apakah pemenuhan gizi harus didahulukan daripada pembukaan lapangan kerja tetap menjadi isu yang membelah pendapat ahli dan masyarakat. Kubu yang setuju menilai investasi pada gizi adalah kunci kualitas SDM jangka panjang, sementara kubu kontra menganggap lapangan kerja adalah solusi jangka pendek yang lebih berdaya guna untuk mengatasi kemiskinan secara mandiri. (*)

Editor : Indra Zakaria