JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan tegas bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih bahan konsumsi guna mencegah penularan Virus Nipah. Penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan ke manusia ini kembali menjadi perhatian global setelah dilaporkan muncul di kawasan Asia Selatan, terutama India. Meski hingga kini Indonesia belum mencatatkan kasus pada manusia, risiko penularan tetap tinggi mengingat tingkat kematian penyakit ini mencapai 40 hingga 75 persen.
Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa kelelawar buah (Pteropus sp.) merupakan reservoir alami atau pembawa virus ini. Jalur penularan yang paling diwaspadai adalah melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar tanpa disadari. Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah larangan mengonsumsi air nira atau aren langsung dari pohonnya. Masyarakat diwajibkan memasak nira hingga mendidih sebelum dikonsumsi karena kelelawar sering menyambangi wadah sadapan aren pada malam hari.
Selain masalah nira, Kemenkes juga menyoroti perilaku masyarakat yang sering kali masih mengonsumsi buah dengan tanda bekas gigitan kelelawar. Sebagian orang masih memercayai mitos bahwa buah bekas gigitan hewan tersebut terasa lebih manis atau memiliki manfaat tertentu. Murti menegaskan agar masyarakat segera membuang buah yang terdapat bekas gigitan dan mencuci serta mengupas buah lain secara menyeluruh sebagai langkah preventif utama.
Langkah pencegahan juga mencakup pola konsumsi produk hewani. Daging ternak seperti babi dan kuda, yang berpotensi menjadi inang perantara virus, harus dimasak hingga matang sempurna. Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan hewan yang tampak sakit. Jika interaksi dengan ternak tidak dapat dihindari, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi sebuah keharusan demi memutus rantai penularan.
Gejala awal Virus Nipah sangat bervariasi, mulai dari gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk, dan sesak napas, hingga keluhan nyeri otot dan muntah. Pada tingkat yang lebih parah, infeksi ini dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) yang berujung pada kejang hingga koma. Dengan risiko yang fatal tersebut, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dan segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah berinteraksi dengan hewan atau mengonsumsi bahan makanan yang berisiko. (*)
Editor : Indra Zakaria