Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Perkara Buku Tulis dan Pensil, Siswa SD di NTT Akhiri Hidup dan Tinggalkan Surat Perpisahan Memilukan

Redaksi Prokal • 2026-02-05 08:00:04
Surat wasiat korban untuk mamanya. (INSTAGRAM)
Surat wasiat korban untuk mamanya. (INSTAGRAM)

 

NGADA – Suasana duka yang mendalam menyelimuti Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Masyarakat setempat digegerkan oleh penemuan tragis seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10), yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di sebuah pohon cengkeh pada Kamis pagi.

Tragedi memilukan ini bermula dari sebuah permintaan yang tampak sangat sederhana bagi kebanyakan orang, namun menjadi beban berat di tengah keterbatasan ekonomi. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta kepada ibunya agar dibelikan buku tulis dan pensil untuk keperluan sekolah. Namun, kondisi keuangan yang sulit memaksa sang ibu untuk belum bisa memenuhi permintaan kecil buah hatinya tersebut.

Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, mengungkapkan bahwa YBS selama ini dikenal sebagai sosok anak yang pendiam, sopan, dan rajin belajar. Meski hidup dalam garis kemiskinan, tidak ada tanda-tanda depresi yang mencolok pada keseharian bocah tersebut di mata para tetangga. YBS merupakan anak yang tangguh sejak dalam kandungan; ia telah kehilangan sosok ayah bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia.

Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang sudah berusia lanjut, sekitar 80 tahun. Sementara itu, ibunya yang berinisial MGT (47) tinggal di kampung yang berbeda bersama lima anaknya yang lain. Perpisahan tempat tinggal ini membuat perhatian yang diterima YBS menjadi sangat terbatas, apalagi ia harus merawat neneknya yang sudah renta di usianya yang masih sangat belia.

Ibu korban menceritakan bahwa malam sebelum kejadian, YBS sempat menginap di rumahnya. Pada pagi harinya sekitar pukul 06.00 WITA, YBS diantar pulang ke rumah neneknya menggunakan ojek. Saat itu, sang ibu sempat memberikan pesan agar YBS tetap rajin bersekolah dan memahami kondisi keluarga yang sedang dilanda kesulitan ekonomi. Pesan itulah yang menjadi percakapan terakhir antara ibu dan anak tersebut.

Menjelang siang, tubuh bocah malang tersebut ditemukan oleh warga yang sedang menggembalakan kerbau. Namun, yang paling menyayat hati adalah temuan aparat Polres Ngada di lokasi kejadian. Polisi menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan YBS dalam bahasa daerah setempat yang ditujukan untuk ibunya.

Dalam surat perpisahan tersebut, YBS meminta ibunya untuk merelakan kepergiannya dan memohon agar sang ibu tidak menangisinya. Di akhir surat, bocah kelas IV SD itu membubuhkan gambar sederhana menyerupai wajah yang sedang menangis. Pesan tersebut menggambarkan betapa berat beban batin yang dipikul seorang anak kecil yang merasa tidak ingin menjadi beban lebih lanjut bagi keluarganya. Peristiwa ini kini menjadi pengingat pedih bagi masyarakat akan pentingnya kepekaan terhadap kondisi mental anak-anak di tengah himpitan ekonomi. (*)

Editor : Indra Zakaria