Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kabar Bahagia dari Ujung Kulon: Anakan Badak Jawa Pertama di Tahun 2026 Terekam Kamera

Redaksi Prokal • 2026-02-05 09:40:00
Seekor anakan Badak Jawa baru terekam kamera di TN Ujung Kulon. (Istimewa)
Seekor anakan Badak Jawa baru terekam kamera di TN Ujung Kulon. (Istimewa)

 

PANDEGLANG – Dunia konservasi Indonesia menyambut awal tahun 2026 dengan kabar yang sangat menggembirakan. Populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), salah satu mamalia paling langka di dunia, kembali menunjukkan tanda-tanda perkembangan positif setelah seekor anakan baru terekam kamera jebak (camera trap) di habitat alaminya.

Momen langka tersebut ditangkap oleh Tim Monitoring dan Evakuasi Operasi Merah Putih di wilayah Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), pada 29 Januari 2026 pukul 22.17 WIB. Dalam rekaman tersebut, terlihat seekor induk badak sedang berjalan dengan tenang didampingi oleh anaknya yang masih kecil. Ini merupakan temuan anakan badak pertama yang dilaporkan sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan hasil analisis mendalam dari tim ahli, induk badak tersebut diidentifikasi sebagai "Arum", individu yang selama ini telah masuk dalam sistem monitoring rutin balai taman nasional. Sementara itu, anaknya diprediksi masih berusia sangat muda, yakni di bawah lima bulan.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menyatakan bahwa penemuan ini menjadi bukti otentik bahwa upaya perlindungan habitat di ujung barat Pulau Jawa masih berjalan sangat efektif.

"Keberadaan induk dan anakan Badak Jawa ini menunjukkan bahwa habitat di Taman Nasional Ujung Kulon masih terjaga dengan baik. Pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan satwa ini berkembang biak secara alami," ujar Satyawan pada Rabu (4/2).

Kementerian Kehutanan melalui Balai TNUK menegaskan komitmennya untuk terus memperketat pengamanan kawasan. Penggunaan teknologi mutakhir dan intensitas patroli di lapangan menjadi garda terdepan guna memastikan tidak ada gangguan terhadap proses perkembangbiakan alami satwa kebanggaan Indonesia ini.

Selain mengandalkan patroli fisik, pemerintah juga terus menggandeng masyarakat lokal, aparat penegak hukum, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kelestarian Badak Jawa. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat menjamin kelangsungan hidup populasi badak yang tersisa bagi generasi mendatang. (*)

Editor : Indra Zakaria