TANA PASER – Keberadaan Tugu Burung Tiong di kawasan Gantung Temiang, Kabupaten Paser, menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan aspek visual tugu tersebut yang dinilai kurang merepresentasikan ciri khas Burung Tiong sebagaimana yang diatur dalam regulasi resmi daerah sebagai maskot Kabupaten Paser.
Warga setempat, Ali Maulana, menyatakan bahwa kritikan masyarakat bukan ditujukan pada penetapan Burung Tiong sebagai identitas daerah, melainkan pada kemiripan bentuk fisik patung yang telah dibangun. Menurutnya, sebagai ikon daerah yang sudah memiliki payung hukum, tugu tersebut seharusnya menjadi cermin akurat dari filosofi yang ada.
"Kami hanya menyampaikan pendapat. Burung Tiong sudah disepakati sebagai identitas daerah dan sudah ada Perbup-nya. Aspirasi kami sederhana, bagaimana agar patung Burung Tiong itu benar-benar mirip dengan aslinya," ujar Ali.
Sebagai informasi, Pemerintah Kabupaten Paser telah mengatur secara rinci detail maskot ini melalui Perbup Nomor 67 Tahun 2020 dan Perbup Nomor 38 Tahun 2022. Dalam aturan tersebut, maskot Paser digambarkan sebagai Burung Tiong yang mengembangkan sayap di atas tonggak kayu setinggi walu dopo (delapan depa) dengan dimensi yang sarat akan filosofi angka delapan—melambangkan delapan arah mata angin.
Menanggapi polemik yang berkembang di media sosial dan lingkungan warga, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Paser segera memberikan pernyataan. Kepala Bidang Olahraga Disporapar Paser, Ir. Abdhy Permana, mengonfirmasi bahwa pengerjaan fisik revitalisasi di kawasan Gantung Temiang memang telah rampung.
"Ya, proyek sarana bermain dan olahraga di sana sudah selesai. Terkait perbincangan di media sosial mengenai ketidaksesuaian tugu tersebut dengan Perbup, kami akan menindaklanjuti setiap informasi dan masukan yang beredar di masyarakat," tegas Abdhy.
Kawasan Gantung Temiang sendiri saat ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan olahraga dan rekreasi di Tana Paser. Dengan adanya atensi dari Disporapar, masyarakat berharap tugu maskot tersebut dapat disempurnakan agar benar-benar menjadi kebanggaan yang merepresentasikan marwah dan identitas asli suku Paser. (*)
Editor : Indra Zakaria