PROKAL.CO, PENAJAM — Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur kini telah beroperasi penuh setelah resmi menerima Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Penyerahan sertifikat tersebut dilakukan pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025 oleh Bupati PPU, Mudyat Noor.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) PPU, dr Jansje Grace Makisurat, menjelaskan bahwa seluruh proses penilaian untuk sertifikasi telah tuntas.
“Sudah kita serahkan ke SPPG, empat SPPG. Jadi sudah selesai prosesnya,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Ia menegaskan, seluruh SPPG yang ditetapkan kini beroperasi penuh. Empat SPPG tersebut berada di dua kecamatan.
“Dua SPPG di Kecamatan Sepaku, Kelurahan Bumi Harapan sama Tengin Baru. Selain itu SPPG Gunung Steleng dan SPPG Penajam,” jelasnya. Selain empat unit tersebut, satu SPPG tambahan tengah dipersiapkan.
“Ini nanti ada satu calon SPPG Saloloang. Lagi berproses. Penjamah makanannya sudah kita latih. Mudah-mudahan dalam waktu dekat mereka bisa melayani daerah Petung,” tambahnya.
Grace menekankan, proses penilaian SLHS tidak sederhana. Untuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi itu pertama penjamah makanannya harus bersertifikat, sudah mendapat pelatihan dari Badan Gizi Nasional dan Diskes PPU.
Selain pelatihan, dilakukan pula pemeriksaan kesehatan menyeluruh terhadap penjamah makanan.
“Pemeriksaan kesehatan misalnya dia tidak hepatitis A, tidak TBC. Kan repot ya kalau mereka berpenyakitan. Kemudian termasuk kita usap anus. Jangan sampai ada beberapa penyakit yang bisa kita deteksi lewat usap anus,” terangnya.
Menurutnya, inspeksi lingkungan menjadi bagian penting penilaian. Misalnya soal sampah, limbah, air bersih.
"Itu dia harus memenuhi minimal 80 persen,” ujarnya. Kualitas air di dapur juga diuji secara ketat dengan melakukan pemeriksaan air dalam dapur.
"Kualitas airnya bagaimana? Karena tidak boleh ada kuman sama sekali. Karena ada yang hanya mencuci seperti buah, tidak dimasak. Jadi airnya harus benar-benar berkualitas dan baik,” jelasnya.
Ia menyebut, sejumlah SPPG menggunakan air galon atau air mineral untuk memastikan keamanan pangan.
“Tadi katanya standarnya bahkan pakai air galon. Iya. Karena air di kita rata-rata enggak bagus. Jadi untuk amannya mungkin mereka pakai air isi ulang atau air mineral,” ungkapnya.
Terkait jumlah penjamah makanan, ia menyebut tidak ada batasan khusus yang ditetapkan oleh Diskes. Ia memastikan, SPPG yang telah lolos penilaian dianggap memenuhi seluruh kelayakan sanitasi.
“Karena mereka sudah kita beri sertifikat, berarti sudah layak,” tegasnya. (ami/far)
Editor : Faroq Zamzami