Isran Noor menanggapi dengan santai namun tajam, menyoroti bahwa program beasiswa Kaltim Tuntas sudah cukup efektif dalam mendukung pendidikan anak-anak Kaltim dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Ia menyatakan bahwa program ini adalah yang terbesar di Indonesia, dengan alokasi anggaran yang mengalahkan DKI Jakarta sekalipun.
“Alhamdulillah, kami sudah melaksanakan program pendidikan yang sesuai dengan kemampuan anggaran. Kaltim Tuntas ini telah membantu lebih dari 201.5 ribu pelajar dan mahasiswa. Anda bisa cek di Google, tidak ada anggaran beasiswa sebesar ini di seluruh Indonesia, bahkan DKI Jakarta,” tegas Isran.
Namun, Rudy tidak mundur dan menantang balik, merujuk pada negara-negara lain seperti Jerman dan Mesir yang menurutnya telah menyediakan pendidikan gratis hingga tingkat perguruan tinggi.
Rudy menyebut besarnya APBD Kaltim yang mencapai lebih dari Rp 20 triliun, dengan surplus atau Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 6,6 triliun pada tahun 2022, sebagai alasan mengapa Kaltim mampu menerapkan pendidikan gratis.
“APBD kita besar, tapi masih ada SILPA yang menganggur. Ini menunjukkan bahwa pemerintah masih lalai dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya,” ujar Rudy. Menurutnya, pendidikan bukan beban, melainkan investasi bagi masa depan Kaltim.
Isran kembali menimpali, mempertahankan bahwa dana beasiswa Kaltim Tuntas sudah di luar anggaran pendidikan yang diwajibkan dalam undang-undang. Ia mengingatkan agar program beasiswa dan anggaran pendidikan tidak dicampur aduk.
“Yang namanya anggaran pendidikan 20% itu sudah dilaksanakan, tapi beasiswa Kaltim Tuntas ini di luar dari itu. Jadi jangan campur soal beasiswa dengan anggaran pendidikan umum,” ucap Isran.
Rudy tidak menyerah dan terus menekan Isran dengan argumennya bahwa pendidikan adalah investasi yang harus digelontorkan pemerintah. Rudy bahkan mengkritik bahwa dengan posisi Kaltim sebagai ibu kota negara (IKN), seharusnya pemerintah lebih serius memperhatikan pendidikan agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif.
“Miris, ini ibu kota baru. Anak-anak kita harus diberi kesempatan yang layak untuk pendidikan tinggi. Kita tidak boleh pelit kepada rakyat jika ingin meningkatkan taraf hidup mereka,” ujar Rudy, sembari menekankan bahwa indeks sumber daya manusia (IPM) Kaltim masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Pernyataan Rudy mengenai IPM Kaltim yang dianggapnya rendah menuai reaksi dari Isran. Ia mengklarifikasi bahwa data yang disampaikan Rudy tidak akurat dan menyebutkan bahwa tingkat partisipasi pendidikan di Kaltim, terutama di SMA, sudah berada di peringkat enam secara nasional, dan peringkat delapan untuk perguruan tinggi.
“Datanya salah lagi itu. Untuk SMA kita peringkat enam, perguruan tinggi peringkat delapan. Jadi jangan dibandingkan Kaltim dengan negara-negara. Tidak bisa, pahamlah ikam?” sahut Isran dengan nada menohok.
Debat semakin memanas ketika Rudy kembali menyoroti anggaran pendidikan Kaltim yang menurutnya masih bisa dimaksimalkan. Ia menutup argumennya dengan saran kepada pemerintah Kaltim untuk “tidak pelit” dalam membagikan anggaran pendidikan bagi masyarakat.
“Kita jangan pelit, orang pelit hidupnya sempit, orang pelit kuburnya sempit. Berbagilah kepada masyarakat, tidak ada ruginya,” pungkas Rudy.
Debat ini menyisakan perbedaan pandangan yang jelas antara kedua calon gubernur terkait pendidikan. Rudy Mas'ud dengan visi pendidikan gratis untuk semua, sementara Isran Noor dengan program beasiswa Kaltim Tuntas yang lebih terarah namun terbatas. Keduanya memiliki argumen yang kuat, dengan Rudy yang memanfaatkan potensi APBD besar Kaltim untuk mendorong pendidikan gratis, dan Isran yang mengklaim keberhasilan program beasiswa Kaltim Tuntas sebagai langkah efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut.
Keduanya sama-sama berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Hasil debat ini tentu akan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat Kaltim dalam memilih pemimpin yang akan membawa perubahan di sektor pendidikan pada masa mendatang. ***